Waktu Baca: 3 menit

Di kepercayaan Jawa dan beberapa daerah lain, ada manusia yang diyakini memiliki ‘penjaga’. Kisah mengenai si ‘penjaga’ ini sempat diangkat dalam novel Eka Kurniawan yang berjudul Lelaki Harimau.

            Saya sempat berbincang dengan salah satu kawan yang mengaku memiliki ‘penjaga’. Awalnya dia gak ngeh kalau dia memiliki penjaga, tapi kemudian sedikit demi sedikit ia mulai menyadari kehadiran si Penjaga itu (selanjutnya akan saya tulis sebagai Penjaga saja dengan P kapital tanpa tanda petik).

“Awalnya saya punya teman kuliah dari Sumatera Utara, orang Batak. Suatu malam kami nongkrong di taman kampus. Waktu itu, hal biasa nongkrong malam malam di taman kampus karena memang kampus kami terbuka dua puluh empat jam. Lagipula taman kampus kami enak, asri dan nyaman. Nongkrong di sana lebih murah daripada nongkrong di café. Waktu lagi nongkrong, tiba tiba dia menyalakan satu batang rokok dan ia taruh begitu saja di samping dia. Saya kaget. Saya tanyain lah, kok sayang amat rokok lu…Dia jawab..buat penjaga gue,” kata Marco (nama samaran) yang merupakan narasumber saya.

“Waktu saya perhatiin lagi. Itu rokok beneran abisnya cepet, kayak ada yang ngisep,” kata Marco. Marco menganggap hal itu sebagai kebetulan saja. Ia tidak mau memikirkan terlalu dalam, namun itulah perkenalan pertama dia dengan konsep ‘penjaga’. Sampai kemudian dia menyadari bahwa dia memiliki ‘penjaga’ juga setelah ia sempat berkonsultasi dengan beberapa orang.

“Thierry, Gue umur 30 sekarang, temen gue yang mati, seumuran gue, udah sepuluh lebih. Aneh gak sih? Terakhir ada temen gue yang mati kena covid 19. Padahal orangnya tinggi gede dan sehat. Dokter saja heran dan gak bisa menjelaskan kematian dia. Kok bisa coba?” jelas Marco pada saya.

Sayapun bertanya padanya mengenai maksud penjelasan dia. Marco lalu berkata bahwa banyak teman temannya yang mati muda itu memang pernah punya salah pada dia, biasanya kesalahan yang besar. Kesalahannyapun disengaja, bukan karena khilaf.

“Temen gue yang meninggal karena covid 19 itu pernah punyalah masalah komunikasi dengan gue. Dia terus dendam atau marah, gue kurang tahu, pokoknya gitulah. Suatu saat pas kita maen futsal, dia tendang kaki gue sampai gue gak bisa jalan seminggu,” kata Marco. “Gue rasa dia sengaja.”

“Sobat dekat gue juga pernah ngomongin yang nyakitin gue, dia juga meninggal misterius. Dia gak keluar dari kamar kosnya berhari hari. Pas ditemuin udah gak bernyawa,” kata Marco.

Mendengar cerita Marco saya bergidik. Tapi, apa itu enggak kebetulan saja?

“Anehlah kalau disebut kebetulan, jujur aja,” kata Marco. “Gue pernah nanya ‘orang pinter’, gue emang ada yang jaga.”

Sayapun makin mengejar Marco untuk menceritakan si penjaga. Menurut Marco, penjaga itu adalah warisan leluhur. Jadi, Marco tidak bisa memilih untuk mendapat dan tidak mendapat penjaga. Penjaga juga bebas memilih siapa yang mau dia jaga. Biasanya, yang Penjaga pilih adalah orang yang dianggap mumpuni dan layak dia hormati.

“Mereka pilih pilih. Mereka juga punya karakter sendiri,” kata Marco.

Menurut Marco, penjaga yang ia punya sangat emosional. Ia tidak akan lupa siapa yang pernah berdosa pada Marco. Cepat atau lambat, hukuman pasti akan datang. Marco menyebut, banyak kematian misterius terjadi pada temannya atau sahabat temannya. Ada yang ibunya meninggal mendadak. Ada yang masih muda, tidak punya riwayat kanker, tiba tiba kena kanker dan bablas serta berbagai kejadian aneh lainnya.

“Gue ada satu temen pernah ngirimin gue santet buat nutup aura. Dilepasin santet itu sama salah satu orang pinter. Yang nutup aura itu terus sekarang karirnya gak pernah baik, bahkan pernah mau dipukulin temen sekantor dia,” kata Marco.

Saya jadi takut menyinggung Marco mendengar cerita cerita dia.

“Tapi gini lho bro, loe jangan terlalu takut,” kata Marco. “Ini mungkin pelajaran dari Tuhan juga agar loe berbuat baik dengan siapa saja. Loe gak pernah tahu, loe jahat sama siapa dan loe gak tau kalo dia ada penjaga kayak gue misalnya. Kalo penjaganya bijak, mungkin elo dimaafkan. Kalo loe sial, loe bisa mati kayak temen temen gue yang salah jalan.”

Sayapun mengangguk angguk. Marco lalu menutup perbincangan kami dengan menyeruput Americano dingin tanpa gula. Ia lalu menyalakan sebatang rokok dan menaruhnya begitu saja di tepi asbak.

“Buat penjaga gue,” kata Marco.

Samar samar saya melihat bara api tiba tiba menyala lebih terang seperti ada yang menghisap ujung rokok.

 

Urban Legend adalah kisah kisah mistis yang dikumpulkan oleh kontributor kami, Thierry Chota. Karya tulis di Urban Legend bukan merupakan produk jurnalistik. Kebijaksanaan dan kedewasaan pembaca diharapkan dalam membaca rubrik Urban Legend ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here