Waktu Baca: 3 menit

Urip selo bisa dikatakan sebagai salah satu ciri hidup di Jogja. Selo tidaklah sama dengan Selow, karena hidup selo tidak berarti dijalani dengan lambat. Istilah Selo konotasinya dekat dengan kata Longgar. Bagi orang yang sehari-hari hidup dengan ritme yang super sibuk dan hectic, akan memandang orang yang urip selo sebagai pemalas, tidak produktif, dan menyia-nyiakan waktu. Padahal sejatinya urip selo tidak otomatis malas. Urip selo juga tidak melulu berkaitan dengan aktivitas dan cara kerja. Urip selo bisa juga terkait dengan cara berpikir dan cara merasa.

Tidak semua orang bisa hidup dengan prinsip selo, karena urip selo memerlukan kesiapan untuk mengalahkan diri sendiri, memutarbalikkan metode. Yang terpenting, tujuan hidup tercapai.

Manajemen waktu
Ada kawan saya, sebut saja Gobel, yang ritme hidupnya sudah padat merayap. Urusan pekerjaan pokok, bisnis sampingan, keluarga, sosial, dan hidup rohani bila kalkulasi tidak akan cukup dipenuhi dalam seminggu. Tetapi ketika tiba-tiba ia melihat tetangganya terserang Stroke, Gobel tetap menolong dengan mengantar ke rumah sakit memakai mobil pribadinya. Urusan tidak berhenti di pengantaran ke IGD, tetapi ternyata Gobel ini juga mencarikan kamar rawat inap. Padahal jadwal kegiatannya sudah padat merayap, ia toh tetap menolong tetangga. Kalau ditanya kenapa masih mau ngurusi tetangga, jawabannya, “Selo wae, dab. Kabeh isa diatur.” (Selo aja, mas. Semua bisa diatur.)

Kontrol Emosi
Lain lagi dengan Samsul, kawan saya yang punya toko kelontong. Suatu hari dia ditipu koleganya yang meminjam uang 10 juta rupiah. Sampai dengan waktu jatuh tempo pengembalian, koleganya ini hilang bak ditelan bumi. Tidak bisa dikontak, rumahnya tiba-tiba kosong, akun media sosial juga tidak aktif. 10 Juta jelas bukan uang yang sedikit untuk pemilik UMKM. Samsul kecewa, tetapi uniknya dia tidak marah. Tidak juga memburu koleganya. Ketika saya Tanya, “Piye Sul ? Utange wis mbalik durung?” (Gimana, Sul? Hutangnya sudah dibayar belum?” Dia malah membuat statement yang bikin gemes. “Ah selo. Dhuwit isih isa digoleki. Nek niat dadi kanca mengko lak yo mbalekke.” (Ah, selo. Uang masih bisa dicari. Kalo dia niat berteman nanti kan juga akan mengembalikan).
Betapa selonya si Samsul ini, bahkan ia tidak mau emosinya diatur orang lain. Dia ogah buang-buang energi untuk marah.

Ritme hidup repetitif
Dimensi lain dari urip selo adalah berupa ritme hidup yang repetitif, semi menyebalkan juga. Repetitifnya mungkin bukan hanya pada hal baik, tetapi juga pada hal-hal berisiko. Bila ada pepatah keledai tidak jatuh dua kali di lubang yang sama, maka urip selo bisa jadi kontra pepatah itu. Tahun 2011 kelompok seni Folk Mataraman Institute (FMI) menciptakan lagu berjudul Urip Kok Selo. Liriknya demikian :

Senen rujakan, selasa lotisan,
Rabu mules-mules, Kamis lara weteng,
Jumat nang rumah sakit, Setu bali mulih,
Minggu istirahat, Senen rujakan maneh
Selasa lotisan, Rabu mules-mules,
Kamis lara weteng, Jumat nang rumah sakit,
Setu bali mulih, Minggu istirahat
Urip kok selo….

Lirik lagu itu senada dengan meme yang beredar akhir-akhir ini soal kerja keras siang malam dari Senin hingga Jumat, lalu hari Sabtu masuk rumah sakit karena terkena Tipes.
Sikap repetitif tetap terjadi tanpa rasa kapok atau jera. Lha bagaimana lagi, pada dasarnya suka makan lotis kok. Tapi sebetulnya hampir semua orang dewasa hidupnya juga repetitif. Ritme kerja harian di kantor begitu-begitu saja, suasana keluarga begitu-begitu saja, hidup bertetangga begitu-begitu saja, tetapi toh tetap dijalani dengan gembira. Selo saja.

Hidup Berkecukupan
Bukan berarti urip selo itu otomatis menjadi sejahtera dan kaya, tetapi urip selo mengajarkan kita untuk berani berkata cukup : mengambil secukupnya, mencari secukupnya, meminta secukupnya. Urip selo akan menumpulkan nafsu dan ambisi untuk meraih kekayaan tanpa batas, atau mencari jabatan tertinggi. Urip selo akan menuntun kita untuk bertindak sesuai kebutuhan hidup. Saya kenal dengan seorang polisi berpangkat Komisaris Besar (Kombes) yang dulu bekerja di Polda Metro Jaya. Jabatan Kombes setara dengan Kolonel kalau dalam kemiliteran; suatu karir tertinggi. Selangkah lagi akan menjadi Jenderal. FYI, jenderal bintang satu hingga empat itu sebetulnya sifatnya penghargaan / anugerah. Nah, pak Kombes ini ternyata memilih tetirah atau nenepi sebagai komandan sekuriti Universitas Gadjah Mada. Padahal area seluas UGM sebetulnya cukup diurus oleh kapolsek saja. Tapi itulah namanya urip selo, pilihan hidup bisa menjadi jungkir balik. Toh si pelaku hidup juga merasa bahagia.

So, kamu mau mencoba urip selo ?

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here