Waktu Baca: 3 menit

“Mas, saya itu sampai dijauhi teman-teman sewaktu ronda malam lho.  Ya gara-gara itu tadi!” ujarnya dengan nada sedikit ngegas.

 

Sebut saja dia Eno, seorang pemuda yang tinggal di daerah selatan kota Jogja. Spontanitas pernyataan tersebut meluncur dari mulutnya. Padahal siang itu, kami sedang membahas topik yang ringan saja. Saya pun terperangah, teh hangat yang sedang berdamai dengan mulut ssya hampir saja menyembur keluar.

Selidik punya selidik, Eno mengungkapkan kekesalannya. Ia dianggap bodoh, bukan anggota dari kampung tersebut.Masalahnya sepele, ia menolak untuk mengunduh aplikasi VTube yang hits itu.

“Kamu itu gak paham investasi, zaman susah kayak gini harus cari peluang dapat uang. Install VTube dan kamu bakal dapat uang cuma modal nonton iklan saja,” tegas seorang tetangganya yang merupakan member VTube garis keras.

Saya menjadi paham kenapa Eno menjadi sangat kesal. Tidak main-main, sanksi sosial sudah diterapkan gegara ia tidak mau mengunduh VTube. Bisa dibayangkan jika anda tinggal di kampung mendapatkan sanksi sosial. Petaka di siang bolong sodara-sodara sekalian.

Inilah awal mula ketertarikan saya mengulik tentang VTube, aplikasi yang konon kabarnya bisa mendapatkan uang dalam jumlah banyak sekali. Bahkan saking hebatnya sampai bikin slogan,

TIDAK SEMUA ORANG BISA JADI YOUTUBER

TETAPI SEMUA ORANG BISA MENJADI VTUBER

Edyaannn…ini sudah mirip juru kampanye saja. Slogannya sangat luar biasa.

Penelusuran saya pun berlanjut, di media sosial dengan mudahnya bisa ditemukan akun-akun yang mengajak untuk bergabung dengan VTube. Padahal dengan tegas pemerintah sudah memblokirnya. Tapi para fans garis keras tetap berpendapat bahwa VTube adalah aplikasi yang resmi dan investasi. Bukan MLM pula. Sangat militan sekali mereka!

Mari kita berpikir sejenak, bagaimana orang menonton iklan malah dibayar. Kan aneh? Tidak sampai situ saja keanehannya. Ternyata, para pengiklan yang kabarnya iklannya dipertontonkan di VTube tidak merasa memiliki kerjasama dengan pihak VTube. Lha terus iklan siapa yang dipasang?

Saya tidak akan membahas bagaimana cara kerja VTube meraup uang dalam jumlah besar. Sudah banyak media dan video yang mengulas tentangnya. Lagipula ini bukanlah bidang saya. Saya hanya tertarik saja dengan fenomena yang sedang marak terjadi belakangan ini. Banyak sekali glorifikasi yang dilakukan oleh member VTube yang menunjukkan keberhasilannya dari yang bisa bayar uang kuliah sampai bisa punya kapal pesiar. Ya walau saya tahu, itu bahasa desainnya crop-cropan. Tapi realita semu yang ditawarkan itu tampaknya tetap menggoda di masyarakat kita.

Pandemi memang meruntuhkan semua sektor, termasuk juga ekonomi. Tetapi ketika ingin menambah penghasilan ataupun berinvestasi bukan begini juga caranya boskueee. Belum selesai masalah VTube, keluar lagi aplikasi TikTok Cash. Ya Lord, ini semacam kata-kata mutiara RA Kartini, habis VTube, terbitlah TikTok Cash. Uniknya, keduana dinyatakan investasi illegal oleh pemerintah. Sampai sini paham?

Jadi begini, kenapa masyarakat begitu mudahnya menggemari investasi dengan return yang sangat tinggi dalam waktu dekat. Memang ada sih investasi yang high return tapi juga dibarengi dengan high risk. Seperti yang sudah pernah saya ulas sebelumnya adalah kemalasan masyarakat Indonesia dalam mencari literasi tentang keuangan, wabilkhusus investasi. Saya juga kadang mikir, buat apa ada intenet cepat di negeri ini kalau orangnya saja malas untuk mencari informasi yang valid?

Namanya investasi itu juga mirip seperti berdagang, kalian semua harus paham bahwa akan ada potensi rugi yang bakal dialami. Gampangannya adalah uang yang kita taruh di dalam perputaran investasi haruslah benar-benar uang yang tidak menganggu kestabilan keuangan. Banyak teman saya menyebutnya uang sampah, bila rugi ya tidak akan menganggu ekonomi.

Langkah selanjutnya adalah membuat perhitungan yang matang. Kira-kira investasi apakah yang menguntungkan dan sesuai dengan kemapuan kalian. Bukan ikut-ikutan semata. Yang ada kalian malah kebawa arus. Investasi itu cerminan dirimu sendiri bukan orang lain lho ya. Ingat baik-baik!

Permasalahan kenapa investasi semacam ini masih merebak adalah adanya teori limited good. Kita bahkan kadang-kadang melakukannya juga lho. Sering gak sih kita rasan-rasan atau bergunjing ketika tetangga bahkan teman kita saat mereka memiliki barang baru. Selanjutnya, menghakimi mereka uangnya darimana ya? Sering kan?

Masyarakat kita memang sangat dengan mudahnya melakukan generalisasi terhadap sebuah fenomena yang terjadi. Parahnya di dalam sebuah komunitas (masyarakat) juga mengiyakan saja tanpa berusaha mengetahui kebenarannya.

Sebenarnya ini juga bermula dari adanya kesenjangan ekonomi yang terjadi. Seperti yang baru-baru saja terjadi di Jogja. Indeks gini ratio meningkat. Tentu saja ini juga bukan mutlak kesalahan masyarakat. Siapa juga yang mau miskin, pasti tidak ada. Di ruang kesenjangan inilah muncul aplikasi macam VTube.

Tapi di satu sisi masyarakat juga jangan terlalu berharap dengan pemerintah. Lebih baik mengupayakan sendiri terhadap penghidupannya. Kesejahteraan itu berada di tangan kita sendiri. Jadi kalau mau mencari tambahan penghasilan jangan segan-segan bertanya kepada instansi berwenang terkait aspek kelegalannya. Akhir kata, pesugihan saja membutuhkan modal dan waktu yang lama untuk mendapatkan keuntungan. Lah ini hanya suruh nonton iklan dan tanpa modal terus gajian bahkan sampai jutaan rupiah. Anda sehat? (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here