Wanita Adalah Sumber Kecemburuan (Pria Juga)

Waktu Baca: 5 menit

courtesey : Pamoja Education

Kecemburuan bisa disebut sebagai tanda cinta. Namun, kecemburuan juga bisa menjadi pintu kehancuran sebuah hubungan, bahkan personal.

            Membaca judul di atas, mungkin banyak kaum adam tertawa. Iya, pacar mereka cemburuan dan kadang cemburuannya tidak masuk akal. Namun setelah membaca judul lengkap artikel ini, mereka bisa jadi mereka merasa ketipu. Lhoh, ternyata pria juga sumber kecemburuan. Kok bisa? Ya memang, cemburu itu bersumber dari laki laki maupun wanita.

Kecemburuan laki laki bahkan bisa sangat menjengkelkan. Pacar tak boleh bergaul dengan siapapun. Media sosial dipantau terus menerus. Kemana mana diantar dan seterusnya. Sementara itu bagi wanita, kecemburuan bisa ditunjukkan saat pria membicarakan perempuan lain meski konteksnya hanya pertemanan dan pekerjaan. Lalu kenapa seseorang bisa cemburu?

Pasangan psikolog Allan dan Barbara Pease berpendapat bahwa rasa cemburu itu lahir dari miskomunikasi pasangan. Misalnya saja begini, saat laki laki berjalan dengan pacarnya, ia pasti seringkali tidak sadar akan melirik cewek cantik yang tiba tiba lewat di depannya. Si pacar akan kesal sementara si cowok bahkan tak ingat ia pernah melirik si cewek cantik. Kenapa demikian? Menurut pasangan Pease, hal ini terjadi karena naluri purba laki laki. Di zaman dimana manusia masih jadi makanan hewan lain seperti sabretooth (atau T-Rex?), laki laki di desain untuk berkembang biak dengan cepat (makanya ‘keluar’ kalian kadang cepat). Ia juga harus pintar mengidentifikasi pasangan perempuan yang sehat dan memiliki gen baik. Gen baik ini ditandai dengan organ seksual yang sehat (pinggang besar, pantat berisi dan dada penuh). Saat memasuki era modern, sisa sisa desain masa purba ini ternyata masih tersisa pada pria dan membuat mereka memiliki masalah hubungan dengan pasangan resminya. Si perempuan yang tidak tahu urusan evolusi ini akhirnya marah karena tidak mengerti masalah naluri purba ini.

Lalu kenapa perempuan mudah cemburu? Lagi lagi ini desain masa purba juga. Wanita tahu bahwa laki laki didesain untuk menjadi ‘mesin reproduksi’ yang terus mencari pasangan baru demi kelangsungan spesies (sekaligus memastikan pakan T-Rex tersedia terus). Agar laki laki tidak melupakan keturunan mereka—merawat bayi itu sulit by the way—maka wanita menjadi pihak yang super curiga dan super vokal untuk memastikan bahwa si pria bertanggung jawab.

Terlepas benar tidaknya argumen itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kecemburuan bisa saja adalah warisan naluri purba belaka. Gara gara naluri kepurbaan kita, hubungan kita di hari ini bisa hancur. Agak terdengar konyol kan?

Lalu mengapa pria mudah cemburu? Biar adil, saya juga akan membahas mengapa pria mudah cemburu. Masih dari argumen pasangan Pease. Bisa dibilang, pria dengan hormon testoteron yang melimpah, memang memiliki ego yang besar. Ego yang besar ini penting agar pria selalu bersemangat dan tahan banting untuk mencapai tujuan pentingnya, membuat dan mempertahankan keluarga. Ego tinggi ini bisa membuat pria menjadi kaya dan memiliki posisi penting di masyarakat serta memiliki pasangan ideal dalam keluarganya. Namun sayangnya, ego ini juga bisa menjadi sumber masalah seorang pria. Seorang pria menjadi takut apa yang menjadi tujuannya bisa hilang. Ia menjadi berhati hati dan khawatir ada yang merebut miliknya.

Nah, sebenarnya, laki laki dan wanita sami mawon. Cuma alasan mereka cemburu beda aja.

Courtesey : Danielle Carson/Getty Images

Jadi cemburu itu normal? Oh iya. Tapi kecemburuan yang berlebihan bisa sangat berbahaya. Banyak hubungan berakhir karena kecemburuan. Dikira ada masalah besar dalam suatu hubungan, padahal ternyata hanya ketakutan semata. Saya juga punya hubungan yang hancur karena rasa cemburu. Lah terus gimana dong?

Saya akan berbagi sedikit tips. Saya adalah pria pencemburu. Pernah saya dekat dengan seorang wanita, sebut saja Q. Q ini belum jadi pacar saya tapi kami cukup dekat. Suatu hari Q tiba tiba dekat dengan cowok lain. Saya berusaha mengikuti Q dan menegur Q. Hasilnya? Gak jadi hubungan kita. Bubar. Saya patah hati. Tapi saya merasa, patah hati ini memberi pelajaran berharga bagi saya. Saya jadi menyadari bahwa saya pencemburu. Pencemburu buta malahan.

Saya lalu mulai menganalisa mengapa saya cemburu. Ternyata penyebab saya cemburu adalah karena saya sendiri. Saya gak merasa pintar, ganteng dan kaya sehingga saya khawatir pasangan saya akan mencari yang lebih pintar, ganteng dan kaya. Setelah saya pikirkan, perasaan saya ini konyol. Ya wajar orang selalu mencari yang lebih baik untuk dirinya. Saat itulah saya tiba tiba merasa lebih legowo dan ikhlas. Sejak kejadian tersebut saya tidak pernah memperlihatkan rasa cemburu berlebihan dan meski ada mantan saya yang selingkuh, saya tidak pernah dendam. Mereka cuma mencari yang menurut mereka lebih baik.

Lalu, ketika hubungan berakhir, saya harus bagaimana? Saya mencoba mencintai diri sendiri dulu. Saya mencoba menganalisa apa kelebihan dan kekurangan saya. Ternyata setelah saya analisa, saya juga punya banyak kelebihan. Saya juga mencoba lebih sensitif. Ternyata, ketika satu pintu ditutup, selalu ada pintu lain yang terbuka. Saat itulah saya lebih ringan menjalani hubungan. Saya juga gak terlalu ngoyo kalau hubungan memang sudah susah dipertahankan. Namun, saya selalu mencoba memberi yang terbaik dan bersikap bijak pada setiap hubungan yang dijalani. Saya mencoba bersikap adil dan bijak pada setiap pasangan yang saya miliki. Sisanya saya serahkan pada Tuhan. Terdengar religius, ah enggak juga, kalau tidak berserah pada kekuatan yang lebih besar, kita harus bagaimana coba?

Bagaimana dengan perempuan? Sebenarnya menurut saya ya sama dengan paradigma yang saya paparkan tadi. Tapi saya ingin menambahkan satu poin lagi untuk cewek karena masalah ini sering menjadi hambatan hidup mereka.

Saya sering dengar perempuan terjebak dalam hubungan beracun dengan alasan sudah terlanjur ‘memberikan semua’. Akhirnya mereka cemburuan karena kebingungan karena sudah gak nyaman tapi takut putus dan hidup sendirian tanpa cinta kasih sayang (ceillahh…). Menurut saya, perempuan harus merasa beruntung bisa dihindarkan dari pria pria yang menilai seorang perempuan dari status keperawanan saja. Gak usah takut putus! Jangan takut gak dapet cowok karena dia menilai buruk kamu dari status keperawanan. Memangnya kamu susu kental manis kalengan? Kalau susu kental manis segelnya sudah kebuka, ya emang harus dikembalikan. Tapi kan kamu manusia, bukan susu kental manis? Jangan mau sama pria yang menyamakan dirimu dengan susu kental manis. Masih banyak pria baik dan dewasa, seperti saya misalnya. Hi…hi..hi…

Kita harus mengakui bahwa kita memiliki perasaan cemburu. Kita juga harus mengakui bahwa tidak semua rasa cemburu itu karena orang lain; bisa jadi karena diri kita sendiri. Kita juga harus menyadari bahwa dunia tidak berakhir hanya karena satu hubungan tidak bekerja. Saya menolak menyebut ‘hubungan berhasil’. Tidak ada patokan hubungan berhasil karena hubungan dinamis. Walau sudah menikah, kalau hubungan terkini sudah tidak menyenangkan bagi kedua belah pihak ya memang harus diakhiri. Meskipun..saya menyarankan bahwa jangan mudah ngomong cerai.

Akhir kata, cemburu itu tidak boleh dibiarkan, apalagi dipelihara dan dikasih makan. Sebab, rasa cemburu tidak bisa dipotong dan dijadikan sate (bercanda ya ini!). Pada tingkat sebenar-benarnya cemburu sangat tidak sehat. Hubungan bisa rusak, lebih buruk lagi, diri kita bisa rusak.

Ardi
Jurnalis, Penulis dan Foodiez. Menulis dua novel di Storial, "Santiran" dan "Di Rawa Peteng". Suka berdiskusi asal tidak emosi

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular