Waktu Baca: 3 menit

Belakangan ini Friend With Benefits alias FWB menjadi tren anomali di kalangan remaja kita. FWB adalah istilah untuk menggambarkan hubungan pertemanan yang sangat intim secara fisik, namun tidak memiliki ikatan perasaan apapun. Secara bebas FWB diterjemahkan sebagai teman dengan keuntungan. Keuntungan di sini arahnya adalah hubungan seks. Bisa dikatakan FWB merupakan cara perlawanan remaja kita terhadap kultur seks masyarakat kita yang dianggap konservatif. Tentu saja, posisi konservatif ini bisa diperdebatkan nanti. Beberapa aspek FWB dipakai remaja kita niat awalnya adalah meniru kultur bangsa lain, yang berdasarkan pada narasi film dan sastra. Saya tidak menyebut budaya barat, karena istilah barat menjadi sumir. Masalahnya, niat itu tidak disertai dengan pemahaman konteks dan perangkat nilai yang cukup.

FWB tidaklah sama dengan samen leven atau kumpul kebo. Pada FWB hanya ada satu ikatan yaitu kebutuhan seksualitas. Sementara kumpul kebo, pada derajat tertentu hampir mirip dengan institusi perkawinan. Ada komunitas rumah tangga, ada tanggung jawab antar pribadi, ada cinta, namun tidak ada legalitas. FWB tidak memiliki semua itu; tak ada tanggung jawab antar pribadi, tak  ada ikatan perasaan apalagi cinta, tidak ada pula keinginan untuk hidup bersama, apalagi urusan legalitas. Hanya satu hal yang menghubungkan, yaitu kebutuhan seksualitas. Oleh karena itu pelaku FWB sangat mungkin berganti-ganti pasangan hanya dalam hitungan hari.

FWB juga tidak ada transaksi ekonomi layaknya prostitusi. Dasar hubungan seksual yang dilakukan adalah kesepakatan, butuh sama butuh, bahkan tidak sampai suka sama suka. Standar keamanan pun bisa jadi jauh di bawah prostitusi. Jika pada transaksi prostitusi ada kewajiban mengenakan alat kontrasepsi, maka pada FWB kewajiban macam itu tergantung kesepakatan dua pihak.

Mengapa banyak remaja kita berminat pada relasi FWB ? Pertama karena memiliki kebutuhan seksualitas yang perlu disalurkan dan mereka tidak cukup mampu mengendalikannya. Kedua karena mereka tidak harus merogoh kocek cukup dalam, setidaknya untuk tahap awal.

Bagi pelaku FWB, hubungan seksual bisa dilakukan di manapun juga, sesuai kesepakatan kedua pihak. Ini karena kebutuhan utama yang ingin dijawab adalah kebutuhan seksualitas. Kalau perilaku ini dirasa primitif, memang demikianlah. Sebetulnya tidak ada terobosan dalam FWB, tetapi justru kemunduran peradaban.  Soal kebutuhan afeksi, andaikata dengan relasi itu salah satu pihak mendapatkan perhatian afektif, maka itu adalah bonus saja. Oleh karena itu bisa jadi relasi FWB ditunjukkan dengan makan bareng, jalan-jalan bareng, nonton bareng. Tetapi aktivitas itu dilakukan tanpa relasi emosional.

Pihak pemicu FWB tidak selalu lelaki, yang selama ini masyarakat kita mengkonotasikan kebutuhan seksual sebagai kebutuhan lelaki. Bisa jadi pihak perempuan yang berinisiatif membuka relasi FWB. Dalam relasi FWB, perempuan dan lelaki posisinya setara. Superioritas bisa jadi dimiliki secara bergantian. Tetapi persoalannya, pasca FWB perempuan tetap menjadi korban.

Tidak setiap pasangan FWB sepakat menggunakan alat kontrasepsi saat hubungan seksual. Penggunaan alat kontrasepsi sangat bergantung pada kesadaran dan keteguhan nilai / value kedua pihak. Bisa ditebak, pasangan FWB yang berangkat dari remaja sekolah jarang yang secara sadar bersedia menggunakan alat kontrasepsi. Dampaknya pun bisa kita tebak : infeksi menular seksual , hingga kehamilan yang tidak diinginkan. Sekali lagi dalam hal ini pihak yang paling dirugikan adalah perempuan. Andaikata pun inisiatif relasi FWB berangkat dari pihak perempuan, yang menanggung kerugian terbesar tetaplah  pihak perempuan.

FWB, meskipun memberikan benefit, tetaplah ada unsur parasit. Ini akan sangat dirasakan ketika pihak perempuan menyadari adanya gangguan kesehatan seksual pada dirinya. Terlebih lagi ketika perempuan menyadari dirinya mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Hampir semua perempuan pelaku FWB tidak menginginkan mengalami penyakit menular seksual maupun kehamilan. Ketika petaka itu terjadi, tidak ada pihak yang dapat dimintai pertanggung jawaban selain dirinya sendiri. Ingat, dalam relasi FWB tidak ada ikatan perasaan, terlebih lagi ikatan tanggung jawab atas dampak. Apapun efek sampingnya, masing-masing pihak secara personal menanggung risikonya.

Biaya tinggi, kelelahan emosional, kecemasan, dan bayangan kehancuran masa depan dengan cepat menyergap pikiran perempuan pelaku FWB yang menyadari dirinya hamil. Pilihan aborsi pun juga merupakan hal yang berat, mengingat perlu biaya tinggi dan potensi resiko kesehatan akibat aborsi. Oleh karena itu saya menyebut bahwa FWB meskipun tampaknya memberikan benefit, namun juga memberikan potensi parasit yang besar pada hidup.

Kembali pada akar persoalan FWB sebagai cara anomali remaja kita untuk menjawab konservatisme masyarakat kita. Pada masyarakat eropa, (dan keturunannya di amerika utara dan selatan), hubungan seksual pada usia remaja bisa terjadi, seiring dengan perkembangan diri remaja yang aktif secara seksual dan diikuti dengan pertumbuhan sikap tanggung jawab. Mereka memiliki perangkat nilai tertentu, dimana perempuan yang mengalami kehamilan siap untuk bertanggung jawab. Memilih hidup terpisah dari orangtua merupakan pilihan untuk menunjukkan tanggung jawab itu. Tidak harus pula mempertanyakan siapa lelaki yang layak bertanggung jawab untuk kehamilan itu. Persoalannya, remaja kita di Indonesia tidak dilengkapi dengan perangkat nilai tersebut. Ketika remaja perempuan pelaku FWB mengalami kehamilan, hal yang dipertanyakan pertama kali oleh pelaku dan keluarganya bukanlah cara merawat janin, tetapi mempertanyakan siapa lelaki yang harus bertanggung jawab. Kehamilan justru menjadi beban keluarga dan mengacaukan masa depan.

Ketika sebuah fenomena kultur ditiru tidak secara lengkap dengan perangkat nilainya, maka itu menjadi petaka.

Jalan keluar atas FWB sebetulnya semua orang sudah tahu : remaja tidak perlu tergesa-gesa mencoba hubungan seksual. Pernikahan di bawah umur juga bukan jawaban atas FWB, tetapi akan jadi petaka yang lain lagi. Relasi cinta dan pacaran tidak melulu bicara tentang kebutuhan seksual. Ada kebutuhan afeksi, apresiasi, dan eksistensi yang lebih perlu dijawab.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here