Pagi ini, kita mendengar kabar yang tidak mengenakkan di Makassar yang bertepatan dengan hari raya keagamaan saudara-saudari Katolik Indonesia. Minggu (28/03) 10.28 WITA yang seharusnya dirayakan sebagai Minggu Palma bagi umat Katolik yang berkesan suka cita menyambut kedatangan Isa Al Masih justru tertutupi oleh bercak darah di salah satu Katedral di Makassar.

Kabar yang terdengar itu tidak hanya mendorong media massa lokal maupun nasional mengejar konten pada masyarakat, dengan perkembangan teknologi yang cepat di masa postmodern ini, masyarakat pun mulai memanfaatkan sosial media untuk memberikan kabar. Media-media seperti facebook, WhatsApp, LINE, instagram, twitter, dsb perlahan mulai mencuatkan suaranya. Kita pun bisa melihat langsung pendapat-pendapat masyarakat dan spekulasi yang tersebar di sosial media.

Pasti kita, setelah menerima berita ini, memiliki perasaan yang tercampur aduk. Ada yang nyinyir, marah, ketakutan, trauma, atau bakan menyalahkan pihak tertentu. Itu adalah fakta kita, manusia, yang hidup di tengah zaman postmodern ini. Ledakan Bom di Katedral Makassar pagi ini merupakan salah satu momen warganet menyiarkan informasi dan perasaannya, tidak hanya kata-kata, melainkan pula foto dan bahkan video yang di-share­ dan di-forward ke sosial media untuk menunjukkan fakta kengerian yang terjadi pagi ini. Namun, jika dipikir lebih dalam lagi, apakah baik konten tersebut?

 

Reward Ketika Share dan Forward

Tujuan warganet yang membagikan konten kekerasan, seperti foto dan video di TKP dengan bercak darah dan potongan tubuh serta rekaman CCTV detik-detik ledakan terjadi menjadi sasaran utama warganet. Namun, kok bisa sih warganet suka membagikan konten-konten kekerasan? Kalau dipikir-pikir, kok warganet suka nyebarin potongan tubuh?

Berdasarkan ulasan livescience.com (2008), ada penelitian yang mengungkapkan bahwa kita, manusia, justru mendambakan kekerasan seperti kita mendambakan seks, makanan, dan narkoba. Bahkan hal tersebut sudah menjadi salah satu bagian dari kita. Kok bisa sih, bukannya kita sudah berkembang dan semakin bisa berpikir ya?

Hal tersebut karena ketika kita membagikan, bertindak, dan melihat tindak kekerasan, ada kaitannya dengan tujuan dan hasrat manusia mengejar hal-hal yang baik bagi dirinya. Warganet yang menyebarkan foto dan bahkan video di TKP adalah salah satu bentuk ingin menjadi viral. Dalam sosial media, orang yang menyebarkan foto dan video cenderung lebih menarik perhatian warganet untuk menyaksikannya dibandingkan hanya tulisan saja. Hal tersebut ditambah dengan keingintahuan warganet yang ingin mengetahui lebih seakan hadir di tempatnya justru mendorong ketakutan itu sendiri. Kita ngeri lihat violence dan gore tapi masih mau aja kita lihat.

Namun, apa baik sih membagi foto-foto atau video korban serta pelaku? Tentu tidak. Di setiap sosial media manapun sudah memiliki aturan keras dalam menyebarkan konten-konten yang berbau SARA, dan warganet dapat melaporkannya jika ada artikel yang muncul, dan tidak secara otomatis hilang dari media sosial.

 

Media Terkadang Ikut-ikutan

Pun tidak hanya warganet yang melakukannya. Bahkan media massa besar pun dapat melanggar kode etik mereka untuk mengejar view dan click warganet.

Penelitian yang dilakukan Syawaldy (2018) pada Prosiding Jurnalistik mengungkapkan bahwa media besar dapat menggunakan foto-foto kekerasan dan sadis demi jumlah click dan rating berita, khususnya pada media massa daring. Dengan menarik keingintahuan warganet yang haus akan informasi, foto-foto yang seharusnya menjadi arsip justru ditonjolkan dalam headline utama masyarakat.

Seharusnya media tidak hanya mengejar view karena mementingkan bisnisnya. Media perlu juga menjaga etika pada masyarakat, terkhusus mengenai foto dan video yang terlalu vulgar. Hal tersebut tidak hanya melukai warganet yang melihat, melainkan pula yang pihak keluarga korban yang fotonya dipampang tanpa sensor. Makanya sensor itu dipakai juga buat itu, engga cuma membatasi pendapat aja.

courtesey : Antara

Keingintahuan yang Berujung Ketakutan

Saat ini, pasti warganet Indonesia mulai mengejar dan berusaha menggali informasi tersebut, terkhusus bagi warganet Kristiani Indonesia. Kadang, keingintahuan kita tersebut dapat semakin menumbuhkan ketakutan kita akan fakta yang terjadi di dunia saat ini. Umat Kristiani mulai takut ke gereja, curiga dengan orang sekitar, dan bahkan jatuh imannya.

Terorisme tidak hanya dengan peristiwa ledakan bom bunuh diri di Katedral Makassar, melainkan pula bagaimana konten kekerasan tersebut tersebar di media. Jika dipikir lebih dalam lagi, apakah benar semua warganet yang menyebarkan mendukung terorisme?  Tidak. Terkadang reward yang bisa kita dapat dari share itu tidak hanya membagikan saja, melainkan banyak pula orang yang haus akan keingintahuan.

Kadang warganet yang haus akan informasi juga dapat menyebabkan kita takut akan tindakan. Secara tidak langsung pun, masyarakat Kristiani Indonesia akan semakin takut dan terteror dengan informasi ditambah foto-foto sadis, yang bagi masyarakat kebanyakan menyebabkan trauma atau ketakutan luar biasa.

 

Cara Mengatasi Selebaran di Sosial Media

Kalau sudah tahu, apa sih yang bisa kita lakukan sebagai warganet terkait konten-konten yang tidak senonoh tersebut? Tidak mungkin kita hanya diam dan menjadi objek melihat kejadian tersebut semakin berlangsung dan menjadi borok yang tak kunjung sembuh.

Kita harus melihat dulu, berita yang dibagikan di sosial media apakah terdapat infografis, foto, atau video yang menggunakan konten kekerasan untuk memviralkan kontennya. Untuk foto, kita dapat melaporkannya melalui report yang sudah disediakan tiap sosial media. Hal tersebut cukup melaporkan foto atau postingannya saja, tidak perlu orangnya agar kontennya ditarik atau dicabut.

Tidak hanya terhenti pada konten sadis dan kekerasannya saja, melainkan kita perlu melihat juga nyinyiran dalam bentuk tweet atau unggahan tersebut justru mendorong atau mendukung tindak terorisme dan justru condong menyerang liyan mengingat peristiwa terorisme merupakan gejolak nasional dan internasional. Jika tidak ingin berurusan dengan kepolisian cukup melaporkan akun serta postingannya pada platform sosial media yang bersangkutan.

Jika kalian mulai mendengar adanya hoax, warganet dapat langsung melaporkannya pada Kominfo dengan melakukan screen capture disertai link url, kemudian mengirimkan data ke aduankonten@mail.kominfo.go.id yang dijamin kerahasiaan. Setelah kalian mengirimkan, aduannya akan segera diproses dan diverifikasi oleh Kominfo.

Namun, yang paling utama adalah kita, sebagai warganet penting menanggapi kabar di sosial media dengan chill, tapi tetap kritis. Jangan pula kita hanya diam dan melihat fakta masyarakat yang ada dan mendekam saja. Jadilah subjek di sosial media!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here