Waktu Baca: 4 menit

Tagline atau jargon Woman Support Woman, belakangan sedang marak digaungkan oleh teman-teman feminis. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mendorong perempuan dan sesama perempuan saling mendukung dan tidak melakukan diskriminasi terhadap sesama perempuan.  Ide ini bagus, mengingat sesama perempuan sering kali saling menyerang dan berkompetesi tentang siapa yang lebih baik.  Mulai dari persaingan mengenai kecantikan, bentuk badan, hingga masalah pola asuh anak. Ironis sebab hal itu melahirkan dikotomi atas dua atau lebih jenis pilihan perempuan yang kemudian menjadikan perang antar sesama perempuan.

Belakangan yang sedang marak terjadi adalah isu perselingkuhan dan pelaku perselingkuhan disebut pelakor atau perebut laki orang.  Label yang diberikan perempuan terhadap perempuan lain atas perilaku seksual dengan pria beristri.  Label yang diberikan ini dianggap memiliki stigma yang sama dengan pekerja seks, bukan sebagai perempuan baik-baik.  Sehingga label pelakor dan banyak anggapan bahwa ini sebagai bagian dari woman support woman.  Jika seseorang melabelkan perempuan lain sebagai pelakor, maka bisa dianggap sebagai kekejaman terhadap perempuan tersebut.  Nah bagaimana dengan korban dari “pelakor”?  Bukankah juga bagian dari perempuan yang tidak mendapatkan support?

Kasus label stigma dari pelakor memang mengandung polemik yang rumit.  Ada sebagian menganggap pelakor adalah pelaku yang bersalah terhadap kasus perselingkuhan, namun ada yang menganggap perselingkuhan it is take two to tango.  Kemudian makna dari woman support woman menjadi bias.  Sebagai perempuan, kemudian jadi sulit untuk menempatkan suatu masalah tanpa terkena konsekuensi dari filosofi woman support woman.

Sebagai contoh, Ani dan Mia adalah rekan kerja namun Mia kemudian menggunakan privilege di kantor untuk menyerang dan mengkudeta pekerjaan Ani, sehingga Ani kemudian dipindahtugaskan.  Jika Ani marah dan memaki bahkan membalas mensabotase pekerjaan Mia, maka Ani akan dianggap sebagai orang yang tidak woman support woman.  Padahal sebagai manusia Ani berhak marah terhadap Mia, terlepas keduanya adalah perempuan yang (katanya) harus saling support.  Nah apakah woman support woman kemudian masih relevan dalam hal ini?

Masalah yang dialami Ani merupakan hal yang sering dialami oleh perempuan-perempuan di luar sana.  Sulit untuk membela diri terhadap ketidakadilan yang dilakukan oleh sesama perempuan, karena marah justru mengundang reaksi negatif terhadap korban.  Simpati justru akan hadir terhadap pelaku.  Situasi brengsek ini memang tidak adil, karena publik akan antipasti terhadap orang yang marah dan simpati dengan orang yang dimarahi, padahal marah adalah reaksi wajar dan normal ketika seseorang menyakiti kita.

Sekali lagi perempuan kemudian ditandingkan dan terlibat dalam perang antar perempuan, melalui jargon woman support woman.  Apakah kemudian secara naluriah perempuan adalah manusia yang suka berkompetesi?  Bisa jadi, namun bukan karena sebagai perempuan.  Laki-laki pun juga melakukan kompetesi tanpa disadari dan disoroti.  Tanpa disadari dan disorot oleh media dan aktivis laki-laki (kalau ada), sesama laki-laki juga melakukan kompetesi seperti kompetisi ketampanan, bentuk tubuh, gaji dan lain-lain. Hanya saja kompetesi antar laki-laki dianggap wajar, sedangkan kompetesi terhadap perempuan dianggap maskulin dan tidak disukai.  Jargon woman support woman kemudian menjadi tameng agar tidak terjadi saling serang antar perempuan.  Ketika perempuan saling serang disebut sebagai woman not support woman, sedangkan bagi laki-laki disebut sebagai berpolitik.

Padahal perempuan boleh kok membela diri dan menyerang kembali orang yang melakukan ketidakadilan terhadap dirinya, terlepas lawannya adalah laki-laki atau perempuan.  Membela diri bukan sebuah kejahatan, merupakan bentuk pertahanan diri di alam liar terhadap musuh atau pemangsa.  Jadi peletakan posisi jargon woman support woman juga perlu diletakan pada konteks yang jelas dan adil.  Agar tidak bias sebagai tameng untuk melindungi orang yang salah.

Seperti dalam kasus Ani dan Mia, dengan bergitu Ani bisa melakukan penyerangan terhadap Mia tanpa takut dianggap anti woman support woman.  Justru karena Ani mendukung woman support woman, harus membela diri terhadap perilaku Mia, agar tidak ada orang lain yang memiliki nasib serupa dengan dirinya.  Orang harus tahu bahwa yang dilakukan Mia sangat manipulatif dan berbahaya.  Dalam kasus nyata seperti perang antara ibu-ibu bekerja dan ibu-ibu yang di rumah.  Awal mula dari perang kedua kubu ini ketika perempuan-perempuan mulai beraktivitas di luar rumah dan mendapatkan uang, bahkan memiliki jenjang karir.  Kemudian, pekerjaan-pekerjaan rumah tangga digantikan pembantu rumah tangga termasuk menjaga anak di rumah.  Ibu-ibu umumnya menganggap anak adalah bagian terpenting dan sulit sekali melepaskan anak sendiri jauh dari ibunya.  Bukan hal yang aneh dengan pola pikir tersebut, kemudian terkejut ada perempuan yang sanggup menahan rindu kepada anak sekian jam untuk bekerja.  Pandangan mereka, kemudian melihat perempuan yang bisa melepas anak di rumah dengan orang lain, sebagai perempuan yang tidak sayang anak, lari dari ‘kodrat’ untuk tinggal diam dan mengurus rumah.  Bagi ibu bekerja, ibu-ibu yang dirumah dianggap sebagai orang yang monoton dan tidak realistis.  Situasi dewasa ini yang membutuhkan banyak pemasukan, namun hanya menggantungkan hidup dari gaji suami saja.  Bentrok antara kedua kubu ini, kemudian membangun stigma-stigma terhadap masing-masing kubu.  Siapa yang salah? Tergantung siapa yang memulai.

Kedua kubu sama baiknya, sebagai ibu rumah tangga tentu baik karena bisa mengawasi setiap menit perkembangan anak.  Ibu bekerja juga baik, karena mampu membagi tugas waktu bekerja dan di rumah, agar seimbang antara peran sebagai ibu di rumah dan kebutuhan ekonomi tercukupi.  Permasalahannya jika salah satu kubu saling serang, berawal dari komentar-komentar sinis terhadap pilihan hidup yang dianggap tidak sesuai.  Apakah jika salah satu kubu menyerang boleh di serang balik?  Secara personal ya, lakukan serangan tersebut di dalam konteks personal.  Karena tidak semua ibu rumah tangga itu jahat dan ibu bekerja itu tidak baik.

Jadi woman support woman itu perlu dilakukan, terutama terhadap korban-korban KDRT, pelecehan seksual, korban pemerkosaan, body shaming, mom shaming.  Asalkan tidak dilakukan sebagai tameng agar terhindar dari serangan balasan atas perilakumu sebelumnya.  Jika seseorang menyerangmu tanpa alasan, serang balik karena itu disebut berpolitik.  Meski lawanmu juga perempuan.  Apalagi jika lawanmu menggores ego dan harga dirimu, seperti suamimu digoda pelakor.  Jika ketika menyerang perempuan yang menggoda suami orang dengan sebutan pelakor disebut woman not support woman, lalu yang dilakukan orang dengan label pelakor tersebut apa donk namanya? Sudah serang balik aja.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here