Waktu Baca: 4 menit

Beberapa hari sebelum ‘Zack Snyder’s Justice League’ dirilis, Rumah Produksi Bat in the Sun merilis fan-fiction film berjudul ‘Dying is Easy’. Secara menghebohkan, film ini ditonton lebih dari tiga juta orang. Lebih mengejutkan lagi, ‘Dying is Easy’ menjawab masalah DCEU selama ini.

            Apa masalah dari film ‘superhero’ hari ini? Apakah mereka kurang realistis? Apakah special effectnya kurang bagus? Apakah kostumnya kurang keren? Menurut saya, bukan itu masalah film ‘superhero’ hari ini. Masalah film ‘superhero’, terutama film DCEU, hari ini adalah mereka melupakan dasar dari film itu sendiri : emosi.

            Emosi menjadi penting karena dengan emosi kita peduli pada sesuatu. Orang berkumpul di depan bioskop dan berkemah demi film terbaru ‘Star Wars’ adalah karena emosi. Mereka ingin peduli, tertawa, menangis dan bahagia bersama film yang mereka tonton. Namun, studio film justru tidak menghadirkan hal itu dewasa ini.

Tengoklah ‘Justice League’ versi Joss Whedon, kita disuguhi berbagai elemen aksi dan sinematografi yang indah hanya untuk lupa yang mana Cyborg dan mungkin juga lupa kalau ayahnya ada di film itu. Kita tidak peduli pada karakter dan cerita film itu. Semua terjadi karena tak ada emosi yang dibangun di sana. Bagaimana kita bisa peduli pada karakter itu jika si filmmaker juga tidak peduli? Filmmaker punya waktu dua jam dan mereka lebih mementingkan aksi spektakuler dibandingkan memberi waktu untuk penonton agar peduli pada Cyborg.

Sekali lagi, maaf Whedon, tapi kita mengambil contoh karyanya yang lain yaitu ‘Age of Ultron’. Lagi lagi, kita tidak diberi waktu untuk peduli pada karakter di film itu. Bayangkan, ketika salah satu karakter utama tewas, kita tidak tersentuh dan tidak tergerak. Semua hanya terasa berakhir di ‘oh’ saja. Kita juga tidak tahu mengapa Thor harus mandi di danau (atau sumur?) tanpa sebuah penjelasan yang kuat dan mengapa itu penting untuk emosi kita. Dari dua contoh itu saya mau mengatakan bahwa studio film telah melupakan unsur emosi dalam film.

Lalu kemana studio film pergi? Mereka berkompetisi karya mana yang lebih unik, karya mana yang lebih banyak actionnya, dan karya mana yang lebih edgy. Pentingkah itu? Bagi saya tidak. Sebab, kesannya, anda telah menjual jiwa anda untuk sebuah bungkus. Rasa rasanya, itulah penjelasan paling masuk akal dari masalah DCEU. DCEU kehilangan jiwanya.

Keputusan DC untuk melompat ke model universe memang cukup terlambat. Saat Marvel sudah merilis ‘Civil War’ atau memasuki phase three, DC baru sadar bahwa mereka harus ‘menghadirkan sesuatu’. Trilogi ‘The Dark Knight’ berakhir dan ‘Man of Steel’ tak menghasilkan uang sebanyak yang diharapkan DC, karena itulah mereka langsung melompat untuk menghadirkan ‘Batman v. Superman’. Keputusan yang sebenarnya terbilang tidak bijak karena mereka membangun Batman yang lahir benar benar dari kosong. Penonton tidak paham dan familier dengan Batman ini. Tidak ada bangunan emosi di sana.

Kenapa DCEU tidak mengambil referensi dari ‘The Dark Knight’ saja? Padahal, ‘The Dark Knight’ memiliki segalanya untuk menjadi fondasi yang lebih kokoh dibanding ‘Man of Steel’ untuk membangun sebuah universe. Apa daya, rencana sudah terlanjur dibuat dengan hasil yang mengecewakan karena karakter yang dihadirkan tak membuat penonton terlibat secara emosional.

Paska ‘Batman v. Superman’, DCEU berusaha membuat ‘Guardian of the Galaxy’ mereka sendiri dengan menghadirkan ‘Suicide Squad’. Bungkus dari film itu menarik tapi secara sinis kita hanya bisa mengatakan kualitasnya sebagai ‘Ya gitu deh’. Kita aja lupa siapa siapa karakter utama di film itu. Bahkan kita secara tega mengatakan Jared Leto sebagai Joker gagal sementara yang bermasalah filmnya sendiri, bukan Jared Leto yang jelas aktor kaliber Oscar.

DCEU lalu sempat ingat untuk menghadirkan film emosional pada film ‘Wonder Woman’ sebelum menghancurkan lagi rumus itu dalam ‘Justice League’. DCEU terlalu terfokus untuk menjadikan ‘Justice League’ fun, tapi fun yang mereka bangun hanyalah fun di permukaan saja. Bukan benar benar menyenangkan secara emosional.

Nah, mungkin selama ini DCEU bingung model apa yang seharusnya mereka pakai untuk karya karya mereka. Mereka selama ini berkutat antara mengikuti Marvel atau malah membuat model baru yang gagal. Ternyata, hanya berselang beberapa hari dari rilis produk unggulan mereka, Bat in the Sun menghadirkan sebuah model dan contoh yang baik.

‘Dying is Easy’ tidak bertumpu pada action yang memukau. Namun, ‘Dying is Easy’ mampu menghadirkan sebuah momen emosional yang kuat. Kostum Batman dalam ‘Dying is Easy’ menunjukkan gurat gurat kelelahan dari Batman. Pengambilan gambar dari Batman dalam ‘Dying is Easy’ juga menunjukkan pengalaman dan luka yang telah ia alami. Kita juga dibuat merasakan masalah masalah di masa lalu Batman dengan kuat lewat penampilan para villainnnya yang ada di Arkham Asylum.

Di antara semua itu, poin terkuat adalah dialog antara Batman dan Joker. Monolog yang dibangun sangat indah dan menunjukkan kontras di antara mereka berdua. Batman dan Joker adalah sebuah model pengetesan ideologi. Batman yang berada di jalan ‘liberalisme’ (semua orang pada dasarnya baik) dan Joker yang berada pada jalur ‘anarki’. Aksi yang ada hanyalah pukulan dan cekikan di leher, tapi dialog dialog yang hadir lebih ‘membunuh’ daripada aksi itu sendiri.

Inilah yang harusnya dihadirkan oleh DCEU. Marvel hadir sebagai mimpi mimpi remaja, tapi DCEU sebenarnya membangun kekuatan dari karakter yang kontras dan tidak hitam putih. Ambillah contoh terbaik DC, ‘The Dark Knight’. Kita tidak bisa mengatakan Bane sebagai musuh dan orang jahat karena ia memiliki motivasi kuat dari pilihannya. Kita juga tidak bisa mengatakan Batman seratus persen orang baik. Oleh karena itulah kita mengingat mereka dan peduli pada perkembangan mereka. Hal inilah yang seharusnya menjadi contoh bagi DC dalam memproduksi karya karyanya. Karakter dan emosi. Membuat penonton kembali peduli pada film film yang ada.

Bicara soal kesuksesan komersial dan kritik, hal itu mungkin bukan hal yang seharusnya dipikirkan oleh DCEU secara berlebihan. Pada akhirnya waktu dan penonton akan membuktikan kualitas sebuah film. Tengok saja bagaimana pada masanya film ‘Spawn’ dikritik habis habisan, nyatanya sekarang menjadi ‘cult fiction’. Jangan lupakan juga ‘Kick-Ass 2’ yang kini juga banyak diakui sebagai karya berkualitas bahkan oleh Quentin Tarantino. Kritik dan komersil penting, tapi karya dari hati adalah segalanya. Penonton layak mendapatkan apa yang mereka inginkan: emosi dan kenangan dalam sebuah film.

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here