Waktu Baca: 3 menit

 

Sudah melihat Zack Snyder’s Justice League (Snyder’s Cut)? Bagaimana pendapat anda? Puaskah setelah perjuangan hampir dua tahun ini?

            Tapi perjuangan tidak akan berakhir di sini. Setelah kita melihat Snyders’ cut, muncul pertanyaan, mengapa tidak sekalian memperjuangkan Snyderverse? Oke, bukannya kita kemaruk atau serakah. Tapi jujur saja, Snyder’s cut di luar ekspetasi kita. Betul bahwa film ini memakan waktu hingga empat jam penayangan. Namun, itu adalah empat jam yang tidak pernah menjemukan. Semua karakter mendapatkan porsi yang layak. Kita ‘dihajar’ berbagai macam emosi selama empat jam itu dan ending dari film itu luar biasa. Bahkan jika anda perhatikan, epilog selama dua puluh menit tidak membuat kita keberatan sama sekali. Ini adalah terobosan baru dalam dunia film superhero yang mulai terasa menjemukan.

Oke, sebelum kita lanjut membahas ganjalan masa depan Snyderverse, saya ingin memberi info sedikit latar belakang mengenai apa itu Snyderverse kepada pembaca awam. Hal ini untuk membantu mereka mencerna, apa yang sebenarnya kita perjuangkan. Ini akan panjang, tapi pembaca awam setidaknya perlu memahami dulu apa yang terjadi.

Semua bermula dari film Man of Steel. Film ini dirilis pada tahun 2013. Film mengenai karakter Superman ini di luar dugaan menjadi gerbang bagi DC untuk membuat universenya sendiri. Mungkin juga ini adalah reaksi DC dan Warnerbross atas kesuksesan The Avengers. Sebagai pembuka, mereka memutuskan untuk mengadu dua karakter DC favorit, Batman dan Superman dalam Batman v. Superman : Dawn of the Justice. Hasilnya? Film ini mendapat banyak kritik. Tapi DC tetap lanjut dengan proyek berikutnya Justice League dengan tetap digawangi Zack Snyder. Selama proses pembuatan, banyak pesimisme yang muncul hingga kemudian Zack mundur untuk digantikan sutrada The Avengers, Joss Whedon. Hasilnya? Bencana.

Setelah kehancuran proyek Justice League. Isu beredar bahwa Zack mundur karena bertengkar dengan eksekutif Warner Bross selaku studio lisensi film DC. Warner Bross meminta Zack membuat film dengan durasi lebih pendek dan ‘lebih ringan’ (family friendly). Zack sebenarnya sudah merampungkan Justice League versinya dan panjangnya sekitar empat jam dua puluh menit. Seandainya versi Snyder ini ditayangkan di bioskop, maka film Snyder hanya bisa ditayangkan maksimal empat kali pemutaran per studio tiap harinya. Padahal, studio berharap film bisa diputar hingga lima-enam kali per studio tiap harinya. Untuk keuntungan maksimal tentu saja.

Isu ini akhirnya memancing fans DC untuk mendorong agar Warner Bross merilis Justice League versi Snyder. Setelah perjuangan selama dua tahun. Snyder akhirnya mengumumkan rilis Justice League versinya saat acara nobar film Man of Steel secara online. Ia membuat pengumuman ini bersama dengan pemeran Superman, Henry Cavill. Pada Maret 2021, Snyder’s Cut akhirnya dirilis dan membuat server HBO GO ambruk karena antusiasme yang tinggi pada film ini. Ternyata, banyak fans yang puas dengan versi ini dan meminta Warner Bross memberi kesempatan pada Snyder untuk melanjutkan film ini menjadi trilogi komplit yang dikenal sebagai Snyderverse (gabungan dari kata Snyder dan Universe).

Saya sebagai fanboy DC dan penggemar Marvel merasa bahwa ini ide yang luar biasa. Tapi saya tidak merasa ide ini akan mudah terwujudkan. Kenapa? Oke setelah pembukaan yang cukup panjang, mari kita gali penyebabnya. Untuk diketahui, saya akan membagi tulisan ini ke dalam dua bagian karena panjangnya artikel ini. Bahkan untuk Part 1 saja saya merasa harus memberikan dulu penjelasan mengenai latar belakang masalah Snyderverse ini secara panjang agar tidak ada kebingungan. Namun, it is worth your time. Just like Snyder’s cut.

Masalah pertama adalah keengganan DC dan Warner Bross untuk mengakui Snyderverse ini sebagai kanon. Yang dimaksud dengan kanon adalah bagian dari kontinuitas. Kontinuitas apakah ini? Yang dimaksud dengan kontinuitas ini adalah kesinambungan dengan universe bernama DC Extended Universe (DCEU). Secara singkatnya, DCEU adalah komparasi dengan MCU atau Marvel Cinematic Universe. Bagi pembaca awam, secara singkatnya, semua film superhero di bawah DC itu berhubungan. Mereka membuat satu dunia, satu universe. Kejadian dalam satu film, berpengaruh pada film lainnya. Ada konsekuensi di sana. Secara sederhana, begitu gambarannya. Nah, film Justice League versi Snyder ini tidak diakui sebagai bagian dari kesinambungan itu. Apapun yang terjadi di Snyder’s cut , tidak memiliki konsekuensi di film DC lainnya. Bisa dibilang, semua yang kita tonton di Snyder’s cut ini, tidak akan ada ujungnya. Termasuk ending yang menggantung di akhir film. Menyebalkan bukan?

Tapi Warner Bross tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Mereka telah memiliki Justice League versi mereka sendiri yang dirilis pada tahun 2017. Ya, film itu bencana dengan segala komedi yang merendahkan Batman dan membuat ancaman yang ada terasa remeh temeh. Padahal, harapannya, ketika semua superhero berkumpul, setidaknya kita layak mendapat pertarungan yang epik dan spektakuler. Nah, Justice League 2017 ini telah menjadi dasar bagi proyek Warner Bross sejak saat itu. Kejadian dalam Justice League, memiliki konsekuensi pada film film yang telah dirilis seperti Shazam! dan Wonder Woman 1984. Jika sekarang versi Snyder yang dijadikan pijakan, apakah hal itu tidak malah membuat kebingungan?

Oke, demikian untuk bagian pertama ini. Bagian kedua akan saya rilis pada hari Minggu 21 Maret 2021 pukul 12.00 WIB.

(Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here