Waktu Baca: 4 menit

Kemarin kita baru bahas satu alasan besar mengapa Snyderverse sulit terwujud. Kini saya akan membahas hal hal lainnya. Jujur saja, problem Snyderverse ini cukup pelik.

            Selain masalah kanon, masalah berikutnya adalah mengenai biaya pembuatan dan keuntungan Box Office. Bisnis adalah sesuatu yang tidak pasti, namun pihak Warner Bross pasti ingin mendekati ‘kepastian’, sesulit apapun itu. Maka dari itulah mereka mencari sutradara jaminan Box Office seperti Christoper Nolan misalnya. Total film Nolan hari ini mendapatkan Lima Milyar Dollar Amerika Serikat dari dua belas film. Ia menempati peringkat delapan sutradara paling memberi keuntungan bagi studio yang mempekerjakannya. Di atas Nolan adalah sutradara yang memiliki lebih dari dua puluh karya. Sementara itu, Nolan mengumpulkan pemasukan itu hanya dari dua belas film. Ini adalah angka yang impresif.

Dimanakah Zack Snyder pada deretan sutradara dengan rekor Box Office? Ternyata Snyder jauh ketinggalan di belakang. Nilai Box Office Zack hanya berada di angka tiga Milyar Dollar Amerika Serikat. Itu berarti, ada di peringkat dua puluh delapan dari seluruh sutradara. Ada beberapa film Zack yang flop alias merugi. Di antaranya adalah Sucker Punch yang menurutnya murni lahir dari visinya. Artinya, Warner Bross terhitung berjudi jika terlalu mempercayai Zack Snyder. Snyder bisa menghasilkan karya berkualitas, tapi menguntungkan? Itu adalah perspektif yang berbeda.

Masalah berikutnya adalah: apakah Snyderverse cocok untuk layar lebar? Ini adalah sebuah pertanyaan besar ketika kita bicara perbedaan antara bioskop dan layar kaca. Mengapa demikian? tidak semua format cerita cocok di layar lebar. Cocok di sini lagi lagi bicara soal profit maksimal. Kita semua tahu bahwa Snyder sangat brutal dan kita mencintai dia karena itu. Ia akan menghadirkan film superhero yang sangat real. Darah dimana mana, tulang patah, omongan kasar, karakter superhero yang membumi, loyalitas pada setiap lembar komik dan banyak hal lainnya. Anda bisa menyebutnya. Tapi apakah itu bisa membuat semua penonton datang ke bioskop dan melihat karyanya?

Seorang ayah, tidak mungkin membawa anaknya untuk melihat film dimana seorang musuh dihajar sampai mati oleh Superman sebelum kemudian dipenggal oleh Wonder Woman. Itu terlalu brutal dan bisa menyebabkan dampak negatif pada psikologis seorang anak. Suka atau tidak suka. Seorang anak, tidak mungkin melihat Superman menghajar kepala musuhnya sampai mati. Visi Snyder terlalu realistis dan brutal untuk ukuran bioskop sehingga pasar film Snyder bisa menjadi sangat terbatas. Yang menjadi masalah adalah, visi Snyder mahal. Ia seorang seniman hebat, tapi eksekutif Warner Bross adalah pebisnis. Mereka ingin mendapatkan keuntungan berlimpah atau setidaknya memastikan uang mereka kembali.

Kita beralih ke masalah selanjutnya, konsistensi cerita dan emosi Snyderverse. Oke, kita menyukai Snyder’s cut. Tapi kita tentu tidak bisa serta merta lupa bahwa orang yang memberi kita Snyder’s cut adalah orang yang sama yang memberi kita Batman v. Superman. Untuk menyebut film itu buruk sekali sungguh tidak adil. Tapi untuk mengatakan bahwa film itu tidak emosional dan mengandung banyak elemen konyol di dalamnya tentu tidak berlebihan. Jika, misalnya saja, Snyder diberi kesempatan untuk melanjutkan visinya. Apakah ada jaminan kita akan diberikan suguhan cerita yang konsisten dan se-emosional Snyder’s Cut? Jujur saja, itu adalah pertanyaan yang tidak membuat kita rugi kecuali waktu, namun bisa membuat eksekutif Warner Bross panas dingin.

Namun kita bisa membela Snyder. Saat itu Snyder ada dalam tekanan karena Marvel telah merilis Civil War sementara DC masih berkutat pada film solo superheronya. Event Civil War mempertemukan dua jagoan favorit Marvel, Captain America dan Iron Man. Tidak salah jika kemudian DC merasa perlu untuk melibatkan dua jagoan terbaik mereka untuk baku hantam. Di situlah mereka memutuskan bahwa ini waktu untuk Batman dan Superman. Namun ada satu hal yang mereka lupa, yaitu bahwa Marvel telah mempersiapkan panggung Civil War sejak lama. Sementara itu DC baru mempersiapkan panggung itu paska Man of Steel yang tidak bisa disebut sebagai film yang sangat luar biasa. Tidak ada fondasi di situ, yang ada adalah pemaksaan sebuah proses atas nama gengsi dan bisnis.

Terakhir, kita semua tahu bahwa proses yang terjadi tak sebaik yang diharapkan. Artinya, ada konflik dalam DC. Tentu di Marvelpun ada konflik. Edward Norton yang ‘dipecat’ karena memaksakan visinya. Lalu ada Terrence Howard yang tiba tiba mundur setelah hanya satu film dan yang terbaru adalah Brie Larson yang diduga memiliki masalah komunal dengan sesama co-starnya. Betul bahwa Marvel juga bermasalah, tapi masalah itu tidak membuat mereka diragukan. DC berada dalam level konflik yang berbeda. Sejujurnya, konflik yang ada jauh lebih buruk dari yang dibayangkan.

Yang pertama, ‘pemberontakan’ para legiun Justice League. Gal Gadot misalnya terang terangan mendukung Zack Snyder walaupun jelas bahwa Warner Bross dan Snyder sedang bermasalah. Ray Fisher si pemeran Cyborg juga berkonflik langsung dengan Joss Whedon si pengganti Snyder. Kini ada rumor ia akan dipecat. Ben Affleck sementara itu sudah resmi mundur dari peran Batman dengan cara tidak baik baik akibat sindiran Matt Reeves. Lalu ada juga Henry Cavill yang meski tampak santai namun beberapa kali mengeluarkan kalimat kalimat yang ‘menohok’. Tim ini tidak solid dan semua orang bisa melihatnya.

Mengharapakan Warner Bross menurunkan egonya dan meminta para pemeran kembali dalam Snyderverse adalah harapan yang terlalu tinggi. Bahkan bisa dibilang tidak masuk akal. Apalagi saat ini, mood yang ada sungguh tidak sehat. Kembali dalam lingkungan kerja yang demanding dan penuh masalah membutuhkan tim yang solid. Sayangnya, Justice League tidak kompak.

Masa depan Snyderverse memang menjadi pertanyaan besar. Bagaimana jika Snyderverse fokus di layar televisi? Itu salah satu kemungkinan yang menggoda. Bisa saja dibuat, tapi Snyder harus memotong budget dengan nilai yang cukup luar biasa. Snyder tampaknya tidak terlalu suka dengan ide ini.

Lalu bagaimana dengan Warner Bross? Jujur, Warner Bross butuh orang seperti Kevin Fegie untuk mengatur semua agar proses kreatif dapat sinkron dan menghasilkan film berkualitas dan berkesinambungan layaknya Marvel Studios. Saat ini mereka tidak memilikinya. Awalnya mereka mengharapkan Snyder mengambil peran itu, tapi cukup jelas bahwa menjadi sutradara dan head project/producer adalah pekerjaan yang terlalu berat dan rumit. Lebih masuk akal jika Warner Bross benar benar mempekerjakan seorang produser profesional dibanding memaksakan Zack Snyder menjalankan peran itu. Atau jika mereka memang Snyder menjalankan peran itu, maka Snyder harus diberi kebebasan termasuk dalam memilih sutradara. Tapi lagi lagi, portfolio Zack nampaknya tidak cukup meyakinkan untuk tanggung jawab sebesar itu.

Sebagai penutup. Jangan pesimis duluan. Bisa jadi Snyderverse akan terwujud meski peluangnya cukup kecil. Siapa tahu Warner Bross akhirnya sadar bahwa bukan tugas mereka mengejar Marvel. Tugas mereka adalah menghadirkan karya seperti Snyder’s cut : indah, emosional dan visioner.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here