Waktu Baca: 4 menit

Di antara banyak rakyat Indonesia, mungkin Irene termasuk yang paling gak bisa nyantai. Nah, Michael Joeedan ingin mengajak Irene santai dulu. Simak opini menggelitik dari Michael Joeedan berikut ini.

            Dewa Kipas mengalahkan Gotham Chess. Setelah itu, Dadang, nama asli Dewa Kipas dibanned oleh Chess.com. Rakyat Indonesia tidak terima, pasalnya Dewa Kipas ini kebanggaan Indonesia. Berbondong bondonglah mereka menghajar Gotham Chess dan Chess.com lewat serangan perundungan dunia maya. Di kala banyak hal di Indonesia (dan diri sendiri) gak bisa dibanggakan, Dewa Kipas muncul bagai dewa beneran untuk membangkitkan semangat nasionalisme yang makin lama makin lelah.

Sebelum jauh bicara, saya mau membahas dulu bedanya nasionalisme yang luntur dan lelah. Saya tidak bilang nasionalisme kita luntur karena sebenarnya nasionalisme itu masih ada, tapi sejujurnya nasionalisme sudah mulai lelah. Lha gimana, di saat pandemi begini, masih ada yang percaya bahwa korona itu hoax. Masih ada juga regulasi peraturan yang dengan mudah diterabas. Lebih sedihnya, masih ada aja yang korupsi dana Bansos. Gimana kita gak lelah? Di saat kita ingin percaya pada Indonesia, di saat itu pula kita terus dikecewakan oleh orang yang mengaku sebagai bagian elit dari bangsa ini. Sakitnya tuh di sini.

Oke, lanjut soal Dewa Kipas ya. Ketika diserang oleh Netizen Indonesia yang katanya paling brutal versi Microsoft ini, Chess.com buru buru membela diri. Mereka mengatakan bahwa sistem anti kecurangan merekalah yang memblokir Dewa Kipas. Mereka mengatakan bahwa statistik Dewa Kipas agak gak wajar. Sebab, presentase ketepatan Dewa Kipas itu mencapai 90 persen lebih di setiap gamenya! Wow, saya tidak tahu bahwa persentase ketepatan mengambil langkah di catur itu eksis. Saya kira ya main, main aja, terus menang apa kalah. Siapa kita bisa mengadili mana yang tepat atau salah. Orang di sini aja yang benar bisa disalahkan dan yang salah bisa dibenarkan.

Netizen Indonesia masih gak terima. Saya juga gak terima. Lha gimana, masak benar atau salah bisa diputuskan pakai statistik? Bukankah benar atau salah itu ditentukan oleh status, banyak banyakan orang dan duit? Eh, salah ya? Atau bener?

courtesey : Jachym Michal

Lebih gak terima lagi, yang belain Chess.Com malah pecatur Indonesia lho. Ya, yang paling vokal adalah Mbak G.M. Irene. Saya awalnya mengira G.M. itu kepanjangan dari Gadjah Mada. Mungkin Mbaknya lulusan Universitas Gadjah Mada, jadi supaya orang tahu kalau dia lulusan Gadjah Mada, ditulislah di depan namanya G.M. itu. Dan itu diakui secara nasional! Ya supaya semua orang tahu dia kuliah di Gadjah Mada. Sebab, masuk Gadjah Mada itu susah, males aja disamain dengan lulusan kampus lain. Itu awalnya pikiran buruk saya. Ternyata, G.M. itu kepanjangan dari ‘Grand Master’. Oalah, ya gini nih, orang yang kalah melulu main catur tiba tiba disuruh ngomongin catur. Gak dong blas.

Katanya, menurut mbak Irene, ada dugaan Dewa Kipas ini curang. Kenapa? Ya karena statistik itu tadi! Tapi saya ini orangnya agak skeptis gitu lho sama statistik. Statistik menunjukkan jumlah orang miskin berkurang terus di Indonesia. Tapi kayaknya, sepanjang lampu merah di Ring Road itu pengamennya malah nambah. Sekarang ada manusia Silver pulak. Selain itu, menurut statistik, manusia paling ramah itu di Indonesia, lha kenapa di Microsoft kita dibilang paling gak sopan?

Udahlah, dari tadi saya malah membuat mahasiswa statistika jadi skeptis dengan ilmu mereka. Intinya Mbak Irene itu nesu, marah, karena menurutnya Dewa Kipas kemungkinan besar curang dan mencoreng nama Indonesia. Dia juga bilang kalau Dewa Kipas, si atlet catur RT/RW ini, gak kasihan dengan pecatur pecatur nasional Indonesia. Udah anggarannya dikit, sekarang di cap suka curang. Apa gak ngenes atlet catur Indonesia? Begitu kira kira keluhan Mbak Irene.

Keluhan Mbak Irene gak salah, tapi menurut saya agak gak nyantai. Menurut saya enggaklah..semisal Dewa Kipas itu curang (misal ya) terus Mbak Irene juga di cap suka curang karena dari negara yang sama. Enggak lah. Saya kira enggak sampai segitunya. Contoh aja ya mbak, India itu terkenal sebagai pabrik tukang IT. Saya bilang tukang bukan sarjana karena di India sana, IT itu bagaikan tukang kayu atau tukang batu. India terkenal cepat dalam memproduksi produk IT, tapi sering banyak bugnya. Ya karena IT diperlakukan sebagai pekerjaan tukang, sering emang mereka bisa karena biasa tapi analisa akan masalah di masa depannya suka kurang. Karena mereka belajar otodidak IT itu. Singkat cerita, ya itulah bedanya sarjana dan tukang, tukang mungkin lebih jago di praktik tapi sarjanalah yang bisa melakukan analisa dan membangun visi. Nah, kalo anda sampai gak jago analisa walau sudah sarjana, jangan jangan kampus anda kurang bagus (atau anda kebanyakan titip absen, entahlah). Ya nyatanya sekarang CEO CEO perusahaan IT top adalah warga negara India. Kan gak bisa ya karena satu orang di satu negara kurang kompeten terus kita melakukan generalisasi bahwa semua orang di negara itu gak kompeten. Dalam ilmu logika, generalisasi termasuk kesalahan berpikir yang sering dikenal sebagai Hasty Generalization atau generalisasi terburu buru tanpa cukup bukti. Mbak jangan takut dianggap curang hanya karena Dewa Kipas (mungkin) curang.

Kedua, Mbak Irene mungkin lupa bahwa Dewa Kipas masih ‘mungkin curang’. Ya, Dewa Kipas belum terbukti curang. Seandainya ya, saya tidak pernah melihat Cristiano Ronaldo bermain dan hanya melihat statistiknya saja, saya mungkin berpikir dia curang. Wasitnya dibayarlah atau pemain lawannya belum gajianlah. Tapi kalau sudah melihat driblenya, tendangannya, saltonya dan atribut lainnya. Barulah saya percaya dia tidak curang. Nah masalahnya, saya dan orang awam lainnya gak tahu gimana caranya ngeliat kehebatan Dewa Kipas. Apakah saat dia menggerakkan kudanya tiba tiba muncul api? Atau saat bentengnya bergerak nanti gempa bumi? Kita gak ngerti mbak! Sumpah! Kalau dibalikin lagi ke statistik, waduh saya ini skeptis dan gak yakin dengan statisitik. Lha terus gimana baiknya?

Kabarnya, minggu depan, Mbak GM berencana duel dengan Dewa Kipas untuk membuktikan siapa yang lebih hebat. Atlet Catur tingkat RT/RW atau Grand Master. Cuman ya lagi lagi, misalnya Dewa Kipas menang, itu cuma menambah amunisi rakyat +62 untuk menghajar Chess.com dan Gotham Chessn plus sekarang sama Mbak Irene. Tapi misalpun Mbak Irene menang, ya tidak membuktikan apa apa. Wong Messi aja bisa kalah lawan lawan tim tim gurem. Kalah menang dalam permainan ya wajar. Lha terus tanding caturnya buat apa? Kayaknya sih buat naikin viewers dan subscriber Deddy Corbuzier selaku penyelenggara pertandigan catur ini. He…He..

Pada akhirnya, usul saya sederhana. Udah Mbak, santai aja! Masih banyak hal penting yang harus diurus di Indonesia. Pernikahan Atta dan Aurel misalnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here