Waktu Baca: 3 menit

Cupang atau beta tiba tiba naik daun. Fenomena ini tentu menjadi hal yang positif bagi ikan yang endemik di Asia Tenggara ini. Namun di sisi lain, fenomena ini juga melahirkan aktor baru yang menyebalkan: Hobiis Cupang Yang Toxic.

 

            Saya ini bisa dibilang hobiis cupang baru tapi lama. Saya sudah bermain cupang sejak masih sekolah menengah pertama. Waktu itu saya memulai dengan dua ekor serit merah yang diberikan ayah saya. Itu ikan saya sayang sayang dan makanannyapun berkualitas. Waktu itu mereka rutin makan cacing beku.

Setelah mengenal serit merah, saya lalu kepincut serit serit lainnya hingga kemudian saya punya warna hitam, turquoise dan kuning. Tidak bosan, saya lalu memelihara half moon. Saya memelihara half moon waktu itu dengan harga hingga seratus ribu rupiah. Padahal uang jajan saya cuma lima ribu rupiah perhari. Tapi namanya terlanjur cinta ya gitu deh.

Setelah cupang saya tewas pada saat saya kelas tiga SMP, saya beralih ke ikan Guppy. Saya berhenti bermain cupang karena frustasi gagal mengembangbiakkan mereka. Ketika saya beralih ke Guppy, saya langsung berhasil mengembangbiakkan mereka. Tapi jujur saja, saya tidak puas. Bagaimana saya bisa puas? Lha wong jantan dan betina dicampur langsung kawin. Beda dengan cupang, mengembangbiakkan cupang itu sangat tricky.

Mengawinkan cupang tak sesederhana mencampur jantan dengan betina. Ketika dicampur, mereka bisa berkelahi dan si betina tewas. Tidak hanya itu saja, kadang salah pakan membuat cupang tidak perkasa. Alhasil, gak ada telurnya mereka, hanya buih buih kepahitan. Setelah itu pas SMA saya sempat niatkan lagi memelihara cupang, ah sama saja..tidak sampai setahun saya menyerah. Hobi saya mampir ke Pasar Hewan Ngasem tak bertahan lama.

Lama saya tidak memelihara hewan hingga kemudian pandemi datang. Saya sudah punya usaha dan waktu yang mapan. Selain itu saya juga mendapat banyak ilmu percupangan dari Youtube dan para breeder yang merupakan sahabat saya. Lagipula rame banyak orang memelihara cupang. Sayapun tertarik untuk memelihara cupang lagi dan mulai berburu cupang cupang kekinian. Saya banyak mampir ke breeder dan berbagai komunitas lainnya. Di situ saya banyak ngobrol dan menemukan bahwa ramenya fenomena cupang justru melahirkan orang orang toxic baru. Mereka mereka ini hobiis cupang baru yang perilakunya beracun dan justru merugikan dunia cupang. Apa saja ciri ciri mereka?

Yang pertama, mereka yang membeli cupang dalam jumlah masif. Saya menolak menggunakan kata banyak karena masif dan banyak sangat berbeda. Banyak itu relatif. Sepuluh ekor itu banyak. Dua puluh ekor itu banyak. Tapi kalau seorang hobiis membeli hingga seratus ekor lebih bahkan hampir menyentuh angka seribu, menurut saya itu sungguh tidak sehat dan dapat dikatakan sebagai jumlah yang masif. Sebagai seorang hobiis cupang, saya sadar cupang itu mahluk hidup. Beda dengan anda penyuka Gundam misalnya. Anda beli Gundam, anda rakit, dan anda pasang. No problem. Kenapa? Sebab Gundam bukan mahluk hidup, sementara cupang mahluk hidup. Mengurusi mahluk hidup gak segampang itu, bahkan untuk ikan cupang yang wujudnya mini begitu. Nah, apakah salah memiliki banyak cupang? Tidak juga, kalau anda memang sudah punya pengalaman dan tenaga serta waktu luang untuk memelihara sebanyak itu. Tapi, kalau anda membeli cupang dalam jumlah masif hanya karena anda punya banyak uang. Secara jujur dapat saya katakan anda termasuk hobiis yang toxic.

Kedua, mereka membiakkan cupang secara tidak bertanggung jawab. Mudah sekali untuk membiakkan cupang pada hari ini. Ilmunya ada dimana mana, beda dengan jaman saya dimana saya harus ke toko buku Kanisius untuk mencari ilmu tentang cupang. Itupun saya diajari teknik yang profesional dimana anak seumuran saya tidak memiliki dana untuk mempraktekannya (pada waktu itu). Sekarang, dengan belajar dari Deeway Gembel ataupun dari Ikan Cupang Channel, maka anda kemungkinan besar bisa membiakkan cupang itu. Tapi pertanyaannya, untuk apa? Apakah anda akan memelihara burayak yang jumlahnya ratusan itu? Apakah anda mampu untuk menjadikan mereka cupang yang sehat dan relatif bahagia? Tahukah anda bahaya apa yang mengancam? Bahaya inilah yang menjadi ciri ketiga dari hobiis cupang toxic.

Ketiga, mereka menjual cupang dengan harga murah. Ya, setelah mereka memiliki ratusan cupang dan mulai bosan, maka mereka mulai berpikir bagaimana caranya menyingkirkan klangenan mereka. Akhirnya, kasus yang sering terjadi adalah mereka menjual cupang mereka dengan harga murah. Bahkan harga murah ini diberikan pada cupang berkualitas. Hal ini menghancurkan pedagang cupang dan breeder yang sudah lama berkecimpung di dunia cupang. Bagaimanapun harga terbentuk karena penawaran dan permintaan, over supply menyulitkan breeder professional.

Itulah tadi ciri ciri hobiis cupang yang toxic. Ciri ciri mereka ini saya kumpulkan dari pendapat breeder breeder yang saya temui. Kenapa saya sebut hobiis cupang tadi dengan sebutan toxic? Sederhana saja alasannya, sebab mereka memang beracun untuk komunitas cupang. Mereka bergabung dan tanpa memperhatikan etika lalu mengacak acak tatanan yang sebenarnya sudah dibuat sedemikian rupa agar dunia cupang berkembang dengan sehat. Mereka ini awalnya profesional yang bekerja secara 7 to 5 dan kebingungan karena kini mereka harus banyak bekerja dari rumah. Mereka mencari cupang sebagai pelarian.

Maaf bung, cupang bukan pelarian. Peliharalah cupang dengan sewajarnya dan bertanggung jawablah pada komunitas yang ada. Bagaimanapun cupang adalah salah satu kebanggaan Indonesia. Jangan sampai rusak hanya karena keegoisan anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here