Waktu Baca: 3 menit

 

Dunia pertelevisian geger. Setelah sempat ditegur ketika menyiarkan langsung pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina secara langsung, kini RCTI nekad menyiarkan secara langsung pertunangan Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah. Apakah RCTI bebal? Atau jangan jangan RCTI punya alasan yang kuat?

            Hari hari ini, beberapa rekan saya yang menjadi pegawai dari RCTI mungkin menahan malu. Pasalnya, mereka banyak diledekin teman teman sesama pegawai televisi swasta. Pasalnya, RCTI tempat mereka mencari nafkah sedang terkenal terkenalnya. Bukan karena kualitas tayangan yang keren. Bukan juga karena liputan investigasi yang mengguncang ala Najwa Shihab. Namun, RCTI, stasiun televisi paling ‘senior’ ini menyiarkan pertunangan dan (rencananya) pernikahan Atta dan Aurel.

Saya juga termasuk yang sempat menyampaikan ledekan walau tak sefrontal beberapa senior yang idealis. Bagi senior senior saya yang idealis, siaran langsung Atta dan Aurel telah menodai kesucian reputasi televisi. Buktinya ada dalam undang undang.

 

Dalam UU Penyiaran no. 32 tahun 2002 Bab II Pasal 2 tertulis bahwa:

 

Penyiaran diselenggarakan dengan tujuan untuk memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan sejahtera, serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia.

 

Menilik pasal ini, maka pernikahan Atta Aurel tidak memenuhi tujuan penyelenggaraan siaran. Awalnya, saya juga berpikir demikian, tapi kemudian otak kritis saya berpikir, ah, saya kira petinggi RCTI juga bukan orang kemarin sore. Saya yakin mereka punya pertimbangan mengapa penting agar ikatan suci Atta dan Aurel ini wajib diketahui seantero dunia.

Sebagai mahasiswa hukum semester dua, saya merasa perlu membela Atta dan Aurel meski pengetahuan hukum saya masih newbie.

Pertama pembelaan saya pada Atta dan Aurel adalah benar bahwa mereka ini memperkukuh persatuan nasional. Saya sempat melihat teman teman saya terbelah saat Pilgub DKI 2017 dan Pilpres 2019. Namun, pada kasus Atta dan Aurel, mereka menjadi kompak, saling bergandengan tangan dan sepakat untuk menghujat Atta dan Aurel.

Teman teman saya yang beberapa adalah pegawai RCTI juga tidak sakit hati diledek rekan rekannya. Toh ejekan yang ada adalah ejekan sayang penuh keakraban. Lagipula di luar negeri juga ada siaran langsung pernikahan. Buktinya? Lihat saja saat Pangeran William menikah dengan Kate Middleton atau saat Pangeran Harry menikah dengan Meghan Markle. Pernikahan mereka sama sama disiarkan dan toh gak ada yang protes. Lalu kenapa pernikahan Atta dan Aurel tidak boleh disiarkan? Begitu mungkin cara pikir teman teman dari RCTI saat balik mentertawakan para peledek mereka.

Pembelaan kedua saya adalah benar bahwa siaran ini telah mencerdaskan kehidupan bangsa. Saya melihat Atta ini sebuah breakthrough, sebuah inspirasi. Oke kalian pasti banyak yang gak setuju. Makanya, yuk saya coba ajak anda mengambil satu sudut pandang mengenai Atta. Bayangkan diri anda saat muda. Coba bayangkan betapa capeknya anda sekolah dengan menghabiskan banyak uang, energi dan emosi. Setelah itu, saat anda bekerja, ternyata penghasilan tahunan anda ternyata dengan mudah dikalahkan oleh Atta hanya dalam waktu kurang dari dua hari dengan konten kontennya di Youtube. Atta menyadarkan saya bahwa ada yang salah dengan pendidikan kita. Selama ini ‘kan kita diajari bahwa kita sekolah agar memiliki penghasilan yang layak. Tapi kok kemudian outputnya banyak mahasiswa mahasiswi yang nganggur dan yang kerjapun kalah pendapatannya dengan Atta Halilintar. Seenggak enggaknya itu terbukti saat pernikahan mereka tidak disiarkan langsung oleh RCTI. Bahkan kadang resepsi mereka sangat sederhana dengan pembelaan bahwa ‘uangnya ditabung untuk jalan jalan berdua’. Kalau melihat Atta, kadang kita jadi pengen ngedumel. Tahu gini gue rajin belajar bikin konten daripada capek capek belajar buat SNMPTN!!

Lanjut, pembelaan ketiga saya adalah bahwa siaran Atta dan Aurel ini memajukan industri penyiaran di Indonesia. Apa pasal? Tak lain dan tak boekan, pernikahan Atta dan Aurel ini menjadi suatu proto-type dan contoh program yang aman dari sensor. Di kala para produser kebingungan membuat program yang aman dari teguran KPI, pernikahan Atta dan Aurel adalah contoh program yang bagus. Kenapa? Gak ada resiko! Pernikahan Atta dan Aurel tidak memiliki muatan subversif dan politis jadi tak mungkin kena semprot dari pihak manapun. Selain itu, tak ada konten pornografi, tidak seperti salah satu kartun anak anak dimana seekor tupai mengenakan bikini. Bayangkan saudara saudara, tupai mengenakan bikini! Bagaimana tidak rusak moral bangsa kita? Bodo amat yang mengatakan pernikahan Aurel dan Atta tidak memiliki pesan moral dan kosong. Lebih baik kosong daripada mengancam moral bangsa! Iya ‘kan?

Terakhir, saya yakin bahwa pernikahan Atta dan Aurel telah memajukan kesejahteraan umum. Bayangkan saja, Atta itu adalah Youtuber terkaya ke delapan dunia. Duitnya Milyaran Rupiah. Ketika dia menikah, jelas dia menyebarkan rezekinya ke banyak orang. Bonus mengalir kemana mana. Tentu saja 17 juta followers Atta di Instagram pastinya ikut menyumbang rating di RCTI. Jadi pasti nilai iklan juga besar gitu lho. Janganlah sok bicara idealisme mengenai guna dan nilai moral, yang penting kan duit sudah mengalir kemana mana dulu ya ‘kan?

Ya begitulah kira kira pembelaan saya pada Atta dan Aurel. Semoga mereka awet terus dan mampu menjadi contoh keluarga yang harmonis. Siapa tahu ke depannya bisa jadi couple goal ‘kan?

Artikel ini merupakan opini dari kontributor kami. Isi di luar pendapat pribadi dari redaksi Pakbob.id

2 KOMENTAR

  1. haha… artikel yang menggelitik!
    sebagai masyarakat yang berhak terhadap frekuensi siaran yg jumlahnya terbatas, aku tidak rela dan tidak ikhlas frekuensi tsb digunakan untuk nyiarin acara nggak penting bgt ini.

    RCTI emang bukan punya masyarakat, tp frekuensi siaran itu milik masyarakat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here