Waktu Baca: 3 menit

Pernahkah kita menyadari bahwa ada kesamaan karakteristik di antara mantan-mantan pacarmu ? Pernahkah kkita bergumam “Semua cewek sama saja” atau “Semua cowok sama saja” ? Meskipun kita putus hubungan setelah disakiti dan dikhianati kekasih, ternyata sosok penggantinya ada kesamaan karakteristik dengan si mantan. Ini bisa terjadi sekalipun kita berusaha mencari pengganti yang secara umum sama sekali berbeda.

Mari kita ulas penyebabnya.

Asumsi Cowok Memandang Fisik dan Cewek Matre
Sebagian lelaki merasa kesal karena menemukan bahwa perempuan yang disukai ternyata menilai lelaki pertama-tama dari modal dan asset yang dimiliki, bukan dari tingkah lakunya. Sementara dari sisi perempuan, merasa kesal karena lelaki lebih tertarik pada perempuan yang penampilannya menarik, bukan dari faktor kecerdasan atau prestasinya. Soal modal, asset, dan penampilan menarik, masing-masing orang memiliki standar yang berbeda. Asumsi-asumsi ini berupaya dipatahkan dengan berbagai bukti empiris bahwa ada lelaki yang mencintai perempuan sekalipun penampilan tidak menarik, dan ada perempuan yang mencintai laki-laki meskipun miskin. Namun demikian, bukti-bukti konkret itu ternyata tidak cukup kuat untuk mematahkan asumsi yang beredar. Rupanya asumsi itu ada dasar ilmiahnya.

Riset yang dilakukan Norman Li, pakar psikologi Singapore Management University di tahun 2013 dalam Journal of Personality and Social Psychology memperkuat teori bahwa lelaki memilih pasangan perempuan pertama-tama karena faktor daya tarik fisik. Sementara perempuan memilih pasangan lelaki pertama-tama karena faktor status sosial ekonomi.  Bagi lelaki, karakteristik fisik sosok perempuan idaman dibangun dari pengalaman-pengalaman masa lalu dalam hidupnya. Sementara bagi perempuan, sama saja. Pengalaman hidup di masa lalu menentukan gambaran sosok lelaki idamannya.

Algoritma Cinta
Preferensi kita tentang sosok pasangan ditentukan sejak kita masih remaja usia 15-16 tahun. Pada masa remaja itulah kondisi psikis kita berkembang untuk menjawab satu kebutuhan psikis, yaitu mencari pasangan. Perkembangan ini tidak ada kaitannya apakah di masa remaja kita pernah berpacaran atau tidak. Sekalipun tidak berpacaran, di masa remaja itu pastilah pernah terlintas benak tentang sosok teman yang tampaknya menarik. Soal pacaran atau tidak, itu perkara eksekusi tindak lanjut atas rasa ketertarikan saja.

Pengalaman rasa suka yang pertama kali itulah yang akan menciptakan kerangka karakter tentang siapa pasangan idaman kita. Sadar atau tidak sadar, ada beberapa hal yang mirip antara sosok yang kita sukai di masa remaja, dan yang kita cintai bertahun-tahun kemudian, bahkan hingga hari ini. Bagi lelaki, preferensi ini bisa jadi soal model rambutnya, kacamata, lesung pipi, leher, tahi lalat, gaya berpakaian, postur tubuh gendut / kurus, cara bicara, bentuk hidung, dan segala macam hal yang berurusan dengan penampilan fisik. Bagi perempuan, preferensi ini bisa jadi soal profesi si lelaki, latar belakang suku, etnis, strata sosial, kawasan tempat tinggal, kepemilikan mobil pribadi, asal perguruan tinggi, aktivitas sosial politik, kecerdasan, dan segala macam hal yang menjadi simbol dari status sosial serta ekonomi.

Saya pernah menjumpai seorang teman laki-laki, yang selama 15 tahun terakhir berganti pacar beberapa kali. Dari barisan para mantan itu, ternyata ada hal yang sama : perempuan yang ia sukai mengenakan kacamata, dengan postur tubuh yang chubby atau bahkan gendut. Istilah kerennya, Pecel Lele. Penggemar cewek lemu-lemu. Di lain hal, saya juga punya rekan seorang perempuan, yang seleranya adalah lelaki berseragam dinas, entah tentara atau polisi. Sekalipun dia pernah di ghosting oleh salah satu gebetannya yang seorang anggota polisi, tetapi dia tidak kapok. Tetap saja dia mencari gebetan dari aparat.

Preferensi ini bukanlah harga mati. Dalam kondisi desperate kita bisa saja menerima siapapun kenalan baru yang tampaknya ingin menjadi kekasih hati. Tetapi dalam proses perkenalan awal pun preferensi ini pun tetap berlaku sebagai alat skrining. Tetapi umumnya dari kita berharap kalau bisa mendapatkan pasangan yang sesuai preferensi kita. Uniknya, meski kita mencari pasangan secara randomly dari Tinder sekalipun, ujung-ujungnya kita akan menemukan sosok yang memiliki sebagian dari preferensi yang kita harapkan, atau setidaknya ada satu poin yang sesuai dengan preferensi kita. Itulah namanya algoritma cinta.

Kalau kita sudah masuk dalam algoritma itu, maka pasti kita jatuh cinta pada orang dengan tipe yang sama, dengan yang itu-itu saja. Pepatah mengatakan, keledai tidak jatuh di lubang yang sama. Tetapi masalahnya kita bukan keledai, dan jatuh cinta di lubang yang sama itu sensasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here