Pada Minggu (28/03/2021), warga Ujungpandang, Makassar dikejutkan oleh sebuah ledakan yang terjadi di Gereja Katedral Makassar saat misa Minggu Palma sedang berlangsung. Ledakan itu berasal dari aksi nekad dua orang pengendara sepeda motor misterius yang datang tiba tiba. Diketahui mereka mencoba memaksa masuk ke area gereja dan mencoba melakukan aksi bom bunuh diri. Akibat aksi tak bertanggung jawab ini, dua pelaku bom tewas di tempat sementara puluhan orang lainnya mengalami luka-luka akibat terkena serpihan di beberapa bagian tubuhnya.

Menanggapi kejadian tersebut, Presiden Joko Widodo segera memberikan pernyataan terkait bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Dalam keterangannya, Presiden Joko Widodo mengutuk aksi tersebut dan meminta masyarakat untuk tidak mengaitkannya ke dalam ajaran agama apapun karena terorisme adalah kejahatan kemanusiaan dan agama tidak mengajarkan kekerasan.

Namun tak serta merta seluruh lapisan masyarakat bisa menerima pernyataan ini. Banyak juga elemen  masyarakat yang memahami bahwa aksi bom bunuh diri merupakan tindakan terorisme yang disamakan dengan jihad dan akan dibayar dengan surga. Akan tetapi, apakah pandangan jihad versi terorisme ini menjadi alasan satu satunya aksi bom bunuh diri? Ataukah ada alasan psikologis yang lebih mendasar yang menyebabkan pelaku terorisme berani berbuat nekad?

Pada dasarnya, setiap perilaku dan keputusan yang diambil oleh manusia dipengaruhi oleh motivasi. Menurut M.L. Kamlesh, seorang tokoh psikolog India, motivasi berarti kecenderungan yang mengarahkan dan memilih perilaku yang terkendali sesuai dengan kondisi, dan kecenderungan mempertahankannya sampai tujuan tercapai. Secara sederhana, dapat dikatakan hal ini sebagai pola perilaku yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Warga menyalakan lilin untuk para korban ledakan bom di Makasar saat aksi solidaritas di kawasan Balai Kota Solo, Jawa Tengah, Minggu (28/3/2021). Aksi solidaritas tersebut diisi dengan doa bersama untuk para korban ledakan bom di depan Gereja Katedral Makasar, Sulawesi Selatan sekaligus mengajak warga untuk saling menjaga keamanan, persatuan dan kesatuan di Indonesia.ÊANTARA FOTO/Maulana Surya/wsj.

Dalam kasus bom bunuh diri, ketika sebagian orang masih berpendapat bahwa yang mereka lakukan semata-mata karena jihad, sains mencoba menjelaskan proses ini melalui penelitian yang dilakukan oleh Universitas Oxford, yang dipimpin oleh Profesor Harvey Whitehouse, Direktur Pusat Antropologi dan Pemikiran Oxford. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada proses psikologis yang unik dan memainkan peran penting dalam seseorang melakukan bom bunuh diri, yakni penyatuan identitas diri dengan kelompok.

Penyatuan identitas merupakan rasa kesatuan yang mendalam dengan kelompok di mana kita berada dan merupakan hasil dari esensi bersama yang ditempa melalui berbagai pengalaman emosional yang membentuk kehidupan. Konstruksi ini dikembangkan oleh seorang psikolog sosial, Bill Swan dari Universitas Texas. Lebih lanjut, penyatuan identitas merupakan motivasi utama pengorbanan diri yang lebih kuat daripada hanya mengidentifikasi sebuah kelompok secara umum.

Pada penelitian yang diterbitkan Behavioral dan Brain Sciences ini, Profesor Whitehouse berpendapat bahwa penyatuan identitas diri adalah faktor utama yang mendorong seseorang melakukan aksi terorisme dengan bom bunuh diri. Kesimpulan Profesor Whitehouse didasarkan pada penelitian selama beberapa dekade yang ia dan rekan-rekannya lakukan dengan kelompok-kelompok tertentu, seperti Fundamentalis Islam. Penelitian tersebut juga mempertimbangkan beberapa orang yang terlibat dalam aksi pro-ekstrim, termasuk penggemar sepak bola hingga pejuang suku. Studi tersebut meliputi kerja lapangan, survei, dan wawancara dengan kelompok yang anggotanya benar-benar mati untuk satu sama lain, termasuk kelompok bersenjata non-negara di Libya.

Studi tersebut mengungkapkan bahwa ketika seseorang telah memutuskan untuk menyatukan identitas diri dengan kelompoknya, hal itu dapat menghasilkan keyakinan bahwa sesama anggota kelompok merupakan kerabat biologis. Hubungan ini memotivasi suatu bentuk persaudaraan psikologis dan keinginan untuk saling membela dan melindungi, yang dapat berujung dengan pengorbanan diri secara total.

Profesor Whitehouse dilansir dari Sciencedaily.com (5/3/2018) mengatakan bahwa memahami penyatuan identitas jauh lebih penting daripada menyerang keyakinan ekstrim jika kita ingin menghasilkan tanggapan yang efektif bagi teror bom bunuh diri. Ia menambahkan,”Banyak orang memegang apa yang mungkin dianggap sebagai keyakinan ‘ekstrim’, tetapi hanya sebagian kecil yang benar-benar melakukan kekejaman teroris.”

Penelitian yang dilakukan Professor Whitehouse lebih difokuskan kepada kelompok minoritas dalam kelompok besar itu yang melakukan aksi terorisme. Hal ini diharapkan untuk membangun kembali konstruksi masyarakat luas tentang pembedaan “kelompok ekstrimisme” dengan “aksi terorisme” yang kerap kali dikaitkan dari kedua hal tersebut.

Pernyataan Professor Whitehouse dilanjutkan dengan mengatakan bahwa kekerasan dan pemaksaan bukanlah cara yang efektif untuk mencegah ekstrimisme dan malah akan menjadi bumerang. Sebaliknya, jika dilakukan pendekatan dan mencoba memahami apa yang sebenarnya memotivasi teroris – apa, siapa yang mereka perjuangkan, dan mengapa – kita akan mendapatkan cara pandang dan solusi yang lebih efektif memberantas hal ini.

Dengan mengetahui dan melihat lebih dekat motivasi pelaku bom bunuh diri, setiap pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dapat merumuskan tindakan preventif untuk mecegah terjadinya aksi terorisme. Hal ini dimaksudkan untuk berjaga-jaga dan merumuskan mitigasi dan strategi apabila di kemudian hari terjadi peristiwa yang sama.

Professor Whitehouse beserta timnya di Center of Anthropology and Mind berharap pekerjaan mereka dapat membantu pembuat kebijakan untuk mengembangkan strategi melawan kebangkitan kekerasan ekstrimisme. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mengetahui perpaduan antara motivasi perasaan dan esensi kebersamaan dengan mengatasi jalur sebab-akibat yang mengarah ke perasaan tersebut. Hal ini berarti menjelajahi ingatan akan kepribadian asli yang seolah dilepaskan untuk melebur menjadi identitas kelompok. Dengan tetap memperhatikan etika intervensi yang membutuhkan pengawasan dan pemantauan yang cermat.

Proses ini tidak serta-merta dilakukan oleh dua pihak, objek penelitian dan subjek penelitinya, melainkan juga anggota jaringan sosial mereka dan komunitas di sekitarnya seperti orang tua, guru, teman, pemuka agama, dan lain sebagainya. Dengan bantuan dan integrasi banyak pihak, diharapkan pendampingan dan penanganan ini akan semakin optimal.

“Hanya dengan pemahaman yang lebih baik terhadap penyebab dasar dari komitmen kelompok pro-ekstrim, kita dapat mengembangkan potensi tersebut untuk membangun kepercayaan dan kerja sama sambil membatasi kapasitasnya untuk memicu konflik antarkelompok,” kata Profesor Whitehouse (5/3/2018).

Kita hanya dapat berharap yang terbaik untuk masa yang akan datang, semoga aksi terorisme di dunia ini dapat diberantas hingga ke akarnya.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here