Waktu Baca: 3 menit

“Sekarang gendutan, yah!”  “Kamu sekarang tambah iteman !”  “Rambutmu kok pendek banget?”

Celotehan macam begitu mudah sekali kita jumpai di negeri subur makmur ini. Bagaimana tidak, rasan-rasan soal penampilan orang lain sudah jadi kabudayan yang adiluhung di masyarakat kita. Kalo nggak ngomongin soal itu, seakan-akan orang kehabisan bahan pembuka obrolan. Orang Jawa mengatakan, ajining raga dumunung saka ing busana; harga diri ditentukan dari penampilan. Rupanya pemeo ini dimaknai secara frontal dengan menganggap bahwa penampilan orang lain bisa menjadi bahan pembicaraan siapapun. Tidak segan-segan pula orang merendahkan, mengejek, dan menghina liyan karena penampilan. Dalam bahasa Inggris, tindakan ini disebut body shaming.

Bila kita menjadi sasaran body shaming, ada kemungkinan 3 reaksi yang kita munculkan. Pertama, takut dan jadi minder. Kedua, bersikap masa bodoh terhadap komentar orang lain. Ketiga, berbalik melawan komentar itu. Kalau kita memunculkan reaksi pertama, berarti body shaming yang dilakukan orang lain menjadi tepat sasaran. Alasan orang melakukan body shaming adalah agar harga dirinya naik, merasa diri lebih baik keadaannya, dan berniat mengubah keadaan orang lain lewat langkah mempermalukan. Sekali kita cemas, takut, dan minder gara-gara komentar orang lain tentang fisik kita, maka yang terjadi bukannya kita berbenah diri mengubah penampilan, tetapi makin menutup diri.

Kalau kita menunjukkan reaksi yang kedua –dengan cara masa bodoh – , itu cukup menolong mental kita, setidaknya untuk sementara waktu. Kita bisa mengabaikan berbagai macam komentar negatif dari orang lain tentang penampilan tubuh kita. Namun demikian ada satu titik dimana kita memang harus berbenah diri dalam hal penampilan, terutama ketika berurusan dengan profesionalitas kerja dan sikap empan papan (tahu konteks). Dalam dunia pekerjaan, penampilan seringkali akan berdampak pada prestasi kerja dan akhirnya perkara cuan. Itulah alasan mengapa setiap teller dan customer service di bank pasti berdandan rapi, tampan dan cantik. Kalau realitasnya penampilan kita tidak menarik, maka kita memang perlu berbenah diri sedikit agar tampil menarik. Tetapi yang perlu digaris bawahi, perubahan penampilan kita terjadi bukan karena body shaming orang lain, namun karena kepentingan profesionalitas kita. Apalagi kalo atasan sudah ngrasani penampilan kita, itu artinya kita memang harus berbenah diri. Kalau pada konteks ini kita berani bersikap masa bodoh pada kritik atasan kerja, maka selesai lah karir kita.

Sikap empan papan (tahu konteks) juga tetap berlaku untuk beberapa kegiatan yang memerlukan penampilan khusus, misalnya hadir dalam undangan pernikahan, ujian skripsi, menonton konser musik klasik, atau melamar pekerjaan. Rambut harus ditata, pakaian juga dipilih yang baik dan rapi, sepatu juga dipilih yang sesuai. Jangan coba-coba menonton konser musik klasik dengan celana jeans dan  sepatu sandal, apalagi sandal jepit.

Soal penampilan wajah dan kulit, kita juga perlu membersihkan dan merawat, sejauh itu bisa dirawat. Pemakaian skin care untuk merawat kulit itu penting, namun bukan berarti memaksakan diri mengubah kulit gelap menjadi kuning langsat. Menata rambut itu penting, tetapi bukan berarti memaksakan diri mengubah rambut keriting menjadi lurus. Tetapi ada kalanya kita tidak bisa dan tidak perlu mengubah, misalnya kulit belang akibat pernah terbakar, tahi lalat, hidung pesek, bibir sumbing, mata strabismus, atau adanya tanda lahir. Terhadap hal-hal macam itu, tugas kita manusia adalah menerima realitas. Kalau orang lain melakukan body shaming pada kita karena hal-hal itu, maka itu sudah masuk kategori perundungan alias bullying.

Ketika kita mengalami body shaming, ada baiknya kita menunjukkan reaksi ketiga, yaitu memberi perlawanan. Harus kita katakan pada pelaku body shaming, bahwa tindakannya tidak benar. Meskipun body shaming jadi kabudayan masyarakat kita, namun bukan berarti yang banyak dilakukan orang itu benar adanya. Tunjukkan bahwa kita memiliki harga diri, bahwa ada bagian dari penampilan kita yang memang berasal dari karunia Tuhan. Perlawanan kita tidak harus dengan mengancam fisik. Namun demikian, ketika kita mengalami body shaming disertai dengan ancaman fisik, maka kita bisa bertindak dengan melaporkan pada pihak yang berwajib. Bila konteks hidup kita adalah pelajar sekolah, maka body shaming bisa masuk dalam kategori bullying. Bila kita adalah orang dewasa, maka ancaman-ancaman orang lain bisa saja digolongkan jadi pidana perbuatan tidak menyenangkan.

Itulah kiat jitu melawan body shaming. Selamat mencoba guys !

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here