Waktu Baca: 3 menit

Ketika anda menjadi tokoh politik internasional maupun nasional, setiap gerak gerik anda adalah pesan politik. Disengaja maupun tidak disengaja. Termasuk di dalamnya, saat anda mengunjungi suatu tempat.

            Pada tanggal 18 Maret 2016, Presiden Joko Widodo tiba tiba memutuskan untuk mengunjungi kompleks wisma atlet Hambalang. Wartawan diberitahu secara mendadak pada malam sebelumnya. Waktu itu, Jokowi mengaku mengunjungi Hambalang untuk sekedar meninjau proyek negara senilai 2,5 Trilliun Rupiah. Untuk diketahui, proyek Hambalang itu terbengkalai setelah Ketua Umum Partai Demokrat waktu itu, Anas Urbaningrum tersangkut kasus korupsi. Tak beberapa lama kemudian, Menpora Andi Mallarangeng juga menjadi tersangka beserta anggota DPR Angelina Sondakh. Akibat kasus korupsi itu, proyekpun dihentikan.

Menurut M. Qodari dari Indobarometer, kunjungan Jokowi itu adalah sindiran keras pada Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SBY sebelumnya banyak mengkritik kebijakan Jokowi yang mengutamakan pembangunan infrastruktur. Hal itu ia utarakan ketika melakukan tur politiknya yang diberi judul ‘Tour de Java’. Tak dinyana, kritik SBY seketika redup ketika Jokowi tiba di Hambalang yang merupakan salah satu monumen kegagalan SBY.

Meloncat beberapa tahun kemudian, pada tahun 2021, kubu Partai Demokrat versi KLB Deli Serdang melakukan konfrensi pers di Hambalang. Mereka menyebut Hambalang sebagai monumen yang mengingatkan publik pada sejarah kegagalan Partai Demokrat. Lagi lagi, kunjungan ke Hambalang dijadikan sebagai senjata pamungkas untuk mengkritik SBY.

Kisah Hambalang tadi hanya sekelumit saja mengenai makna politis sebuah kunjungan. Di dunia politik internasional, masalah ini bisa jadi lebih rumit. Dalam sejarah politik internasional, ada beberapa tempat yang sangat sensitif. Misalnya saja Kuil Yasukuni di Jepang. Kuil ini dibangun atas kepercayaan Shinto bahwa roh perlu dihormati. Yang menjadi masalah, beberapa sosok yang ‘didoakan’ di kuil ini adalah sosok sosok yang dianggap penjahat perang selama Perang Dunia ke II. Banyak Perdana Menteri Jepang yang menghindari kunjungan ke kuil ini. Namun, Perdana Menteri  Jepang ( 2001-2006) Junichiro Koizumi justru banyak melakukan kunjungan ke Yasukuni mulai dari tahun 2001 hingga 2006.

Junichiro Koizumi beralasan bahwa kunjungannya ke kuil tersebut semata mata untuk menghormati arwah pahlawan Jepang yang telah berkorban demi negaranya. Ia juga mengatakan bahwa ia datang bukan dengan kapasitas sebagai Perdana Menteri Jepang. Ia datang sebagai Junichiro saja. Meski demikian, tak semua orang bisa menerima alasan Junichiro. Beberapa menganggap bahwa Junichiro berusaha membuat propaganda untuk melunakkan kesan masyarakat internasional atas dosa Jepang selama Perang Dunia ke II. Selain itu Junichiro melakukan kunjungan itu untuk mendekati kelompok kanan Jepang. Kunjungan Junichiro ini secara rutin mendapat protes dari Tiongkok dan Korea Selatan yang menjadi korban utama kekejaman Jepang pada Perang Dunia ke II.

Selain menunjukkan opini pribadi dan posisi politis, kunjungan kenegaraan juga bisa menjadi sebuah manuver untuk mencapai tujuan tertentu. Hanya saja jika tidak berhati hati, akibatnya bisa fatal. Pada November 1977, Presiden Mesir saat itu, Anwar Sadat mengunjungi Israel. Saat itu ia bertemu dengan Perdana menteri Israel, Menachem Begin. Mereka membicarakan resolusi PBB 242 dan 338. Saat itu Anwar Sadat mengaku ingin menyelesaikan konflik Arab-Israel yang berlarut larut. Kunjungan Anwar Sadat ini mendapat protes keras di negara asalnya. Anwar tetap keukeuh karena ia yakin dengan pilihannya yang bisa menyelamatkan nyawa ratusan ribu bangsa Arab. Tapi ia tidak pernah membayangkan ada konsekuensi dibaliknya. Pada bulan Oktober 1981, Anwar Sadat ditembak mati oleh seorang simpatisan Al-Jihad karena kunjungannya ke Israel. Anwar Sadat mungkin tak menyangka kunjungan kenegaraannya itu akan berakhir dengan bayaran nyawanya..

Masih banyak ‘kunjungan berbahaya’ lainnya, misalnya saja saat Donald Trump untuk pertama kalinya memasuki wilayah Korea Utara meski hanya di DMZ. Kunjungan kontroversial lainnya adalah saat PM India, Narendra Modi, mengunjungi Bangladesh. Terkenal sebagai tokoh pro ekstrimisme Hindu, Modi datang ke Bangladesh yang merupakan negara mayoritas Muslim di bulan Maret 2021. Kedatangannya mendapatkan protes dari banyak pihak dan menimbulkan demonstrasi di Dhaka, ibu kota Bangladesh. Meski Modi aman, namun tetap saja ada ketegangan di sana. Kunjungan kenegaraan yang tampak sederhana ternyata bisa memiliki banyak macam arti, pesan politik dan menjadi refleksi dari strategi kebijakan luar negeri ke depannya.

courtesey : Dispen AL

Kita ambil contoh misalnya keputusan Perdana Menteri Lee Kuan Yew untuk mengunjungi makam Usman Harun. Bagi rakyat Indonesia, Usman Harun adalah tokoh pahlawan yang berusaha mencegah terbentuknya ‘negara boneka’ Singapura. Namun bagi rakyat Singapura, Usman Harun adalah teroris yang memporak porandakan Orchad Road.

Kebijakan PM Lee waktu itu bisa dibilang beresiko karena bisa membuat rakyat Singapura antipati padanya. Namun, Lee berpikir bahwa langkah ini harus diambil sebagai jalan untuk normalisasi hubungan Indonesia-Malaysia yang merenggang dari tahun 1968 hingga 1973. Terbukti, kebijakan Lee ini membuat Singapura menjadi negara dengan ekonomi maju beberapa dekade sesudahnya. Hal ini tak lepas dari besarnya dana Indonesia yang masuk ke Singapura yang dikenal sebagai safe haven country paska dibukanya keran ekonomi dan diplomasi kedua negara.

Itulah makna sebuah kunjungan. Sederhana, namun bisa berbahaya disamping membuka sebuah peluang baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here