Waktu Baca: 3 menit

 

Dalam hitungan hari, ‘The Falcon and The Winter Soldier’ akan tayang di Disney+. Serial ini menjadi serial yang ditunggu tunggu setelah ‘WandaVision’ berhasil memberikan sajian yang menghentak.

            Namun tentu menjadi pertanyaan tersendiri, Marvel Studios selama ini erat kaitannya dengan bioskop, kenapa kini memilih bermain di serial televisi? Ketika bermain di serial televisipun, kualitas yang disajikan juga sekelas sinema. Sehingga, tidak bisa dibilang juga kalau Marvel sedang ‘aji mumpung’. Lalu, apa yang mendasari Marvel terjun ke dunia televisi?

Saya mencoba membuat analisa untuk menjawabnya. Yang pertama adalah Netflix. Yap, Netflix menjadi semacam raksasa dunia streaming. Tanpa memiliki studio sendiri, Netflix mampu menghadirkan berbagai macam konten di platformnya. Pada Quarter terakhir 2020, pemasukkan total Netflix adalah 6,64 Milyar Dollar Amerika Serikat. Secara keseluruhan, Netflix membukukan 24,9 Milyar Dollar Amerika Serikat pada 2020. Ini adalah kenaikan sebesar 21 persen dibanding tahun sebelumnya. Perlu dicatat, angka ini adalah angka sebelum banyak studio besar menarik konten mereka di Netflix dan membuat layanan streaming mereka sendiri. Artinya, potensi uang dari layanan streaming ini sebenarnya sangat besar karena Netflix yang mengandalkan konten original serta film film studio menengah saja bisa survive.

Sebelumnya, tidak ada yang menyangka bahwa pemasukkan dari layanan streaming ini sangat besar. Di tengah ramainya situs pembajak film streaming ilegal dan torrent, ternyata layanan streaming legal diminati. Netflix telah membuktikannya dan hal ini membuka mata studio besar seperti Marvel. Maka dari itulah, bukan menjadi sulit bagi Marvel untuk memutuskan apakah harus membuat serial televisi mereka sendiri atau tidak. Angka dari Netflix menunjukkan besarnya potensi market yang tak kalah dari bioskop.

Suasana saat pengumuman fase 4

Alasan kedua adalah kemungkinan bioskop akan ditinggalkan. Mungkin di masa sekarang, kita tidak terkejut saat melihat bioskop ditinggalkan dan kesulitan mencari penonton. Tapi di tahun 2018, saat Marvel merencanakah MCU Phase 4, hal ini terdengar agak gila. Padahal peluang bioskop ditinggalkan sangat besar. Pandemi mungkin jadi salah satu penyebabnya, namun kehidupan modern membuat kita tidak tahu soal perubahan perilaku konsumen.

Tahun 80an dan 90an misalnya, kita mengasosiasikan kamera dengan Kodak dan semua orang memakainya. Tiba tiba kamera digital masuk dan tidak ada lagi yang mau menggunakan kamera Kodak. 2000an adalah masa dimana memiliki handphone Nokia adalah keharusan. Namun kemudian, smartphone hadir dan tak ada lagi yang menggunakan Nokia. Memasuki era millennium, semua begitu dinamis. Anda tidak bisa percaya bahwa tak akan ada tradisi yang ditinggalkan. Karena itulah, Marvel dengan data bahwa layanan streaming sangat potensial dari segi ekonomi serta perasaan ketakutan bahwa akan ada kemungkinan bioskop ditinggalkan memutuskan untuk terjun ke serial televisi dengan sungguh sungguh.

Seandainya… ya, kita berbicara “seandainya” saja tidak ada pandemi, apakah bioskop akan ditinggalkan? Jawabannya ya, bisa jadi, akan tetapi mungkin prosesnya tidak secepat ketika ada pandemi. Kita harus jujur bahwa layanan home theater bisa diakses dengan mudah. Streaming illegal dan torrent tak sesulit itu dilakukan. Belum lagi kita bisa melihat bahwa perilaku menonton juga sudah banyak berubah. Berapa banyak orang begitu nyamannya menonton di smartphone? Hal itu dulu tidak terbayangkan.

Setelah kita bicara mengenai dua hal penting tadi, hal ketiga ternyata adalah MCU itu sendiri. MCU atau Marvel Cinematic Universe adalah sebuah produk sinematik yang saling terkait. Saat anda menonton ‘Iron Man’ yang dirilis tahun 2008 lalu, anda kemungkinan besar menyukainya. Saat semuanya tersambung dalam berbagai produk sinematik, anda ingin mengeksplorasi semuanya. Penonton ‘Doctor Strange’ pasti ingin melihat seri ‘Thor’ misalnya dan penggemar ‘Captain America: Civil War’ ingin tahu konteks film itu di ‘Age of Ultron’. Penggemar yang loyal ini sudah hampir pasti akan menonton seri seri televisi milik Marvel. Pasar yang potensial ini tentu sangat sayang dilewatkan begitu saja. Anggaplah kita mengambil nilai tiket dari ‘Endgame’ saja senilai 900 juta Dollar Amerika Serikat. Jika Marvel berharap setidaknya ada 20 persen saja dari penonton ‘Endgame’ menonton seri mereka, maka nilai yang bisa diraih setidaknya 180 juta Dollar Amerika Serikat. Untuk produksi film dengan action yang mempesona, uang sebanyak itu sudah lebih dari cukup. Jadi bisa dibilang Marvel pastinya punya keyakinan tinggi untuk balik modal.

Dari kombinasi tiga alasan itu, Marvel punya segala alasan untuk memulai proyek mereka di televisi. Jika dirangkum, keberadaan peluang bisnis streaming yang menjanjikan beserta ketakutan akan hilangnya minat ke bioskop membuat mereka yakin bahwa ini saat yang tepat untuk memanfaatkan popularitas dan besarnya fans base dari MCU.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here