Waktu Baca: 3 menit

Riset yang dilakukan UNICEF menemukan bahwa bunuh diri merupakan penyebab kematian ketiga pada remaja usia 10-19 tahun, setelah kecelakaan lalu lintas dan penyakit-penyakit akibat AIDS. Riset lain juga menunjukkan  1 dari 20 pelajar memiliki keinginan bunuh diri yang serius dalam satu tahun terakhir karena faktor kondisi pandemi.

Dalam tataran global, tingkat kematian yang disebabkan oleh bunuh diri menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. WHO memperkirakan bunuh diri di Indonesia telah menewaskan >8.900 jiwa setiap tahunnya, melebihi kematian akibat malaria, kanker payudara, peperangan, dan terorisme. Celakanya, bunuh diri telah menjadi pembunuh tersembunyi sekaligus penyebab kematian terbesar kedua bagi kalangan muda (15-25 tahun) setelah kecelakaan lalu lintas. Bila situasi ini tidak ditangani dengan tepat, kondisi kesehatan mental orang muda kita di Indonesia bisa menjadi bom waktu yang tiap saat bisa meledak.

Apa yang mendorong tindakan bunuh diri?
Bunuh diri adalah kematian yang dikehendaki oleh dirinya sendiri dengan berbagai tindakan berbahaya. Sebelum kematian ini terjadi, orang-orang di sekitarnya dapat menemukan beberapa tanda, mulai dari perubahan perilaku, celotehan tentang keinginan mati, hingga percobaan bunuh diri.

Segala sesuatu yang dapat menimbulkan tindakan bunuh diri adalah faktor risiko bunuh diri. WHO mengungkap berbagai hal yang dapat menyebabkan tindakan bunuh diri, seperti faktor kondisi diri sendiri (riwayat keluarga, penyakit kronis, ketidakberdayaan, status finansial, gangguan mental), hubungan sosial (konflik, minim dukungan sosial), lingkungan sekitar (trauma, diskriminasi, tekanan sosial, bencana alam), dan minimnya akses layanan kesehatan mental. Tingkat bunuh diri semakin tinggi seiring dengan meningkatnya usia anak-anak ke remaja. Masa paling krusial dalam pengembangan ide bunuh diri adalah usia remaja dan relatif menurun ketika memasuki dewasa awal.

Ketidakmampuan orang muda dalam mengelola gejolak emosi dan perilaku juga merupakan risiko besar untuk bunuh diri. Beberapa faktor risiko pada remaja di antaranya adalah 1) pengalaman bunuh diri sebelumnya, 2) riwayat gangguan mental, 3) keterlibatan dalam bullying (pelaku atau korban), dan 4) perilaku berisiko (kejahatan remaja, alkohol, narkoba).

Selain itu, situasi keluarga tempat ia tinggal menjadi salah satu risiko besar. Bila remaja mendapatkan porsi  perhatian yang cukup dan tepat sasaran, maka ia tidak memiliki ide atau fantasi bunuh diri. Keluarga yang seindah Keluarga Cemara ini dibentuk dengan dasar 1) saling hormat antar anggota keluarga, 2) anak-anak terlibat dalam sebagian besar pengambilan keputusan keluarga, 3) anak mendapat perhatian atas ekspresi emosi dan pendapatnya, dan 4) keterbukaan antaranggota keluarga.

Sementara itu orang muda yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tidak menyenangkan, tidak mendapat apresiasi, tidak dianggap kehadirannya, akan menumbuhkan rasa frustrasi, sebagai bagian dari faktor risiko bunuh diri.

Habis gelap, terbitlah terang
Jangankan 8,000 nyawa melayang, 1 orang bunuh diri saja sudah terlalu banyak. Kita harus beralih pada cara pandang lain, bukan lagi melihat angka sebagai tolok ukur kegawatan bunuh diri, melainkan dengan melihatnya dengan kacamata kemanusiaan. Bunuh diri bukan semata-mata karena putus pacar, gagal ujian, atau PHK. Ia adalah puncak gunung atas penderitaan, kehilangan, ketidakberdayaan, dan kesepian. Bunuh diri adalah pertanda kegagalan sistem sosial masyarakat dalam menjunjung nilai-nilai dasar kehidupan. Rantai kegagalan itu adalah keluarga, komunitas, pendidikan, sekaligus ketidakmampuan negara dalam menjamin hak-hak hidup warga negaranya. Pendek kata, semua pihak patut bertanggung jawab dalam mencegah bunuh diri. Kita semua memiliki kewajiban dalam menciptakan atmosfer kehidupan yang aman, nyaman, hangat, dan saling hormat.

Bunuh diri memang mematikan, namun dapat dicegah. Keluarga, sahabat sebaya, dan sekolah adalah pihak yang berperan penting dalam pencegahan bunuh diri remaja. Mengingat tindakan ini tidak muncul begitu saja, pihak-pihak tersebut perlu membangun jejaring dalam mengantisipasi ririko-risiko bunuh diri remaja.

Bunuh diri dapat dicegah dengan mempromosikan kesehatan mental. Promosi dapat dimulai dengan mengajarkan anak-anak untuk dapat mengenali dan mengekspresikan emosi dan pikirannya, serta menangkap emosi orang lain. Dengan begitu, anak-anak akan lebih memiliki kepedulian dan empati kepada orang lain. Sikap ini sangat krusial dimiliki untuk membantu connectedness pada ide atau percobaan bunuh diri. Pembelajaran sebaiknya dimodifikasi dengan berbagai proses yang mengarah pada pembentukan karakter remaja yang resilien dan empatik.

Tindakan bunuh diri tidak dapat dicegah dengan berbagai nasihat dan khotbah-khotbah. Pihak-pihak yang mengenali risiko bunuh diri pada remaja sebaiknya tidak banyak bicara dan menggantinya dengan mendengarkan. Meminta remaja untuk berbicara dan menyalurkan uneg-unegnya; dan mendengarkan tanpa menghakimi. Simpan nasihat rapat-rapat. Banyak omong termasuk hal yang tidak perlu dalam manajemen pencegahan bunuh diri.

Bunuh diri tidak dapat dicegah tanpa bantuan tenaga kesehatan mental profesional. Psikiater, psikolog, ataupun konselor adalah petugas yang dapat memberikan bantuan manajemen diri dan sosial dalam mengantisipasi tindakan berisiko remaja.

Terakhir, dalam membantu penyintas bunuh diri hendaknya menanamkan adagium, aku bukanlah seorang terapis, tetapi aku akan mendengarkan dan menjadi temanmu.

 

FA Nurdiyanto
Peneliti fenomenologi bunuh diri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here