Waktu Baca: 3 menit

Seri ‘Twilight’ bisa dibilang sangat berpengaruh. Pemasukkan total dari seri film ini adalah 3,3 Milyar Dollar Amerika Serikat dan buku Twilight telah diterjemahkan dalam 37 bahasa.

            Akan tetapi, seri ‘Twilight’ tak selamanya disukai orang. Banyak orang membenci ‘Twilight’, baik itu novel maupun filmnya. Mereka menganggap ‘Twilight’ sangat tidak logis dan terlalu lebay. Pada kenyataannya, ‘Twilight’ memang telah memecah belah kaum Adam dan Hawa. Tak ada karya seni yang bisa membelah dua gender seekstrim ‘Twilight’. Tapi kenapa bisa seekstrim itu?

Cowok dan cewek kan emang beda! Yes, itu jawaban sederhananya. ‘Twilight’ membuat perbedaan itu makin kentara. Padahal, mungkin saja pembenci dan pecinta ‘Twilight’ hanya dipisahkan hal sederhana saja : Ketidakpahaman pada detail dan memahami cara pandang yang berbeda antar gender.

Banyak kisah romantis yang disukai lelaki. Misalnya saja ‘You’ve Got Mail’, lalu ada juga ‘50 First Dates’. Kesamaan dari film film romantis yang disukai lelaki adalah mereka menemukan proses logika di sana. Karakter Henry dalam ’50 First Dates’ misalnya jatuh cinta pada karakter Lucy karena Henry merasa bisa merawat dan mengasihi Lucy yang memiliki gangguan fungsi otak. Sementara itu dalam ‘You’ve Got Mail’, karakter Joe yang dingin dikisahkan tersentuh oleh karakter Kathleen yang berasal dari kalangan ekonomi sederhana tapi berapi api. Laki laki merasa related alias terkoneksi dengan karakter pria dalam fim romantis itu dan mereka bisa menerima proses logika dimana kemudian tumbuh perasaan cinta.

Berbeda halnya dengan ‘Twilight’, karakter Edward Cullen dan Bella Swan digambarkan tiba tiba jatuh cinta hanya lewat tatapan, intip intipan dan lari larian di bukit. Edward ganteng dan kaya meski dia vampir. Sementara itu, Bella adalah remaja putri yang bermasalah. Tiba tiba mereka menjalin cinta sejati. Tak ada proses logika di sana, pria menganggapnya sebagai omong kosong dan mengganggap Bella matre saja.

            Tapi apakah benar begitu?

Jawabannya tidak. Perempuan adalah mahluk detail. Mereka bisa menangkap detail yang tidak dimengerti lelaki. Dalam kasus ‘Twilight’, ada detail yang tidak bisa ditangkap laki laki. Wanita bisa menangkapnya. Misalnya saja begini. Bella berasal dari keluarga broken home, ia mendambakan kemapanan dan seorang ‘penyelamat’. Lalu datanglah sosok misterius Edward Cullen yang ternyata…yah…well, bisa menjadi penyelamat Bella. Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Di situlah kenapa wanita bisa menangkap perasaan Bella. Hal yang tidak bisa diterima laki laki.

Itu saja? Tidak. Wanita adalah rajanya komunikasi kecil lewat bahasa tubuh, gerak mata dan gerak bibir. Laki laki tidak bisa mengerti bagaimana wanita bisa menggerakkan matanya dan ada berbagai pesan di sana. Satu kata dari wanita bisa berarti bermacam macam. “Sayang aku capek.” Misalnya, bisa berarti “aku mau digendong”, “aku mau diperhatikan”, “aku mau dipeluk” dan seterusnya. Sederhananya, adegan tatap tatapan antara Bella dan Edward yang gak jelas itu ternyata menyimpan banyak pesan yang bisa ditangkap wanita tapi tak bisa ditangkap laki laki.

            Oke, meski demikian, jujur saja, Bella tetap lebay!

Lagi lagi ada hal yang tidak dimengerti lelaki saat menonton ‘Twilight’. Lelaki, ketika memiliki masalah, akan duduk diam atau bercerita pada temannya untuk mencari solusi. Apakah wanita demikian? Jawabannya tidak. Wanita lebih membutuhkan saluran emosi. Dia akan bercerita pada banyak orang mengenai masalahnya. Mereka meminta penghiburan dan semangat dari lawan bicaranya. Mungkin sesekali melakukan perbuatan bodoh seperti mabuk dan beberapa..melakukan percobaan bunuh diri by the way. Wanita terkadang sudah tahu solusi masalah mereka, namun mereka lebih membutuhkan saluran emosi. Ini bukan kata Ardi Pramono by the way, ini merupakan hasil penelitian dari Allan dan Barbara Pease.

Sikap lebay Bella bisa dimengerti wanita saat putus dari Edward. Untuk laki laki, Bella sangat bodoh dan ceroboh. Mereka tidak bisa mengerti mengapa Bella harus nekad nyebur laut, ngebut ngebut dengan motor tidak jelas dan seterusnya. Permasalahannya, laki laki tidak bisa menangkap saja mengapa Bella/wanita pada umumnya melakukan hal hal seperti itu.

Selain ketidakpahaman lelaki pada wanita, kelemahan lain (atau kelebihannya, saya tidak mau berdebat..he..he…) adalah karena ‘Twilight’ mengambil sudut pandang dominan wanita, berbeda dengan film romantis lain yang telah saya sebutkan tadi dimana sudut pandang dominan laki laki atau seringkali seimbang. Hal ini membuat pria merasa makin tidak mengerti dengan film ini dan kesan yang tertangkap dari film ini hanyalah : ‘Wah, apa apaan ini!’ Gitu doang.

Padahal, ya memang film ini sangat feminim sekali. Bukan berarti film ini menyebarkan pesan pesan feminisme, namun film ini didesain sangat cocok untuk wanita dan akan sangat sulit dicerna lelaki. Sayapun awalnya juga termasuk dalam kelompok yang eneg dengan film ini. Setelah saya mengupas film ini, baru saya bisa mikir. Oh iya juga ya! Dapatlah saya pada A-ha moment.

Terlepas ‘Twilight’ karya yang bagus atau jelek, setidaknya ada sisi sisi lain yang bisa kita gali.

 

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here