Waktu Baca: 3 menit

Pernahkah kamu merasa cemas terhadap banyak hal yang akan menimpa hidupmu ? Atau mungkin kamu dihantui rasa takut akan kegagalan yang bertubi-tubi ? Atau asam lambungmu meningkat ketika memprediksi komentar dan sikap orang lain terhadap cuitan Kamu di Twitter ?

Itulah beberapa gejala Overthinking. Sebetulnya agak sulit menterjemahkan Overthinking dalam Bahasa Indonesia, karena tidak ada diksi yang tepat. Tetapi deskripsi Overthinking adalah benak yang memikirkan terlampau banyak dan luas mengenai hal-hal di luar dirimu. Kondisi itu ibarat laptop notebook yang dipaksa membuka 30 aplikasi sekaligus; hasilnya processor menjadi lemot, mesin cepat panas, dan tidak bisa berfungsi efektif. Demikian pula dirimu bila mengalami overthinking, stress meningkat, asam lambung meningkat, tekanan darah naik, hormon-hormon bekerja sehingga membuat kamu gelisah, cemas, takut, dan sulit berpikir positif.

Ada sebagian orang yang menganggap bahwa  orang menjadi Overthinking karena kurang bersyukur, kurang sabar, kurang berdoa. Pkamungan ini tidak tepat, karena mengatasi Overthinking tidak se sederhana mengurangi pikiran macam-macam.  Orang sehat mental akan melihat mereka yang Overthinking sebagai sikap yang berlebihan, kecemasan yang berlebihan. Tetapi bagi orang yang mengalami Overthinking, kecemasan-kecemasan yang mereka hadapi itu nyata. Sulit untuk melihat sisi positif dari banyak hal.

Jangkauan kita terhadap dunia
Kalau kamu mengalami overthinking, semua hal dalam hidup tampaknya bisa dikuasai, bahkan rasanya harus dikuasai.  Tetapi sebetulnya ada hal yang bisa kamu jangkau, dan ada yang tidak. Ada sisi hidup yang bisa kamu kendalikan, dan ada yang tidak. Ada bagian hidup yang bisa kamu kuasai, dan ada yang tidak. Untuk mengatasi overthinking, pertama-tama kamu perlu memilih dan memilah hal apa saja yang bisa kamu kendalikan, dan apa yang tidak bisa kamu kendalikan. Terhadap hal-hal yang bisa dikendalikan, kamu boleh saja berusaha untuk memikirkan dampak-dampaknya, tetapi terhadap hal-hal yang tidak bisa kamu kendalikan, kamu tidak perlu memikirkannya.

Kalau saat ini kamu sedang mengerjakan skripsi / thesis dan mengalami overthinking, cobalah kamu menemukan apa saja hal-hal yang bisa kamu kendalikan. Beberapa hal yang tidak bisa kamu kendalikan antara lain pilihan dosen pemimbing, sikap dosen, cara berpikir dosen, pilihan dosen penguji, jam buka perpustakaan, kondisi masyarakat sampel, niat para peserta eksperimen, situasi keluarga, atau aktivitas pacar. Sementara beberapa hal yang bisa kamu kendalikan antara lain pilihan judul riset, pilihan diksi naskah, jam penulisan skripsi, cara kamu berkomunikasi dengan dosen, ketelitianmu dalam penulisan, jumlah sumber referensi,  dan pilihan orang yang kamu jadikan kawan mengerjakan skripsi.

Terhadap hal-hal yang di luar kendalimu, sekali lagi, kamu tidak harus memikirkannya. Mungkin saja, segala hal itu tetap terjadi, entah ada kamu atau tanpa kamu.  Dosen punya karakter moody, itu bukan karena keberadaanmu. Bahkan sebelum kamu kuliah pun dia sudah memiliki karakter itu. Dosen jadi tukang kritik, itu bukan karena kehadiranmu. Ketika ada mahasiswa lain yang serupa denganmu pun bisa jadi dia tetap kena kritik dari dosen. Dalam hal ini kamu bukan penentu segalanya, dan kamu bukan pusat dunia.

Ciptakan algoritma hidup yang baik
Algoritma adalah alasan di balik tampilan news feed pada media sosialmu. Apa yang biasa kamu lihat, yang kamu sukai, yang kamu bagikan, itulah yang menentukan algoritma mu. Kalau kamu suka dekorasi rumah, maka algoritma media sosialmu akan menampilkan tawaran-tawaran akun tentang dekorasi rumah yang mungkin belum kamu lihat, tanpa kamu memintanya. Algoritma bekerja mengikuti magnet pikiranmu. Algoritma yang sama juga bekerja pada hal-hal kontraproduktif. Kalau kamu suka membaca berita kriminal, menonton video aksi kriminal, maka media sosialmu juga akan menawarkan konten kriminalitas.

Ketika kamu menjadi overthinking, maka algoritma hidupmu akan menciptakan perangkap agar kamu tetap overthinking. Ketika kamu mencemaskan tentang potensi gagal membuat skripsi, kamu akan lebih mudah mengingat peristiwa teman-temanmu yang kesulitan membuat skripsi, sekalipun lebih banyak yang berhasil menuntaskan skripsi. Situasi ini menjadi lingkaran setan, karena sikap Overthinking mu seolah mendapat bahan bakar dari fakta-fakta yang kamu temukan.

Kalau kamu mau keluar dari sikap overthinking, kamu perlu menciptakan algoritma hidup yang sehat dan kondusif untuk bertumbuh. Mulailah dengan mencari teman yang hidupnya produktif dan optimis. Mulailah mencari akun-akun media sosial yang menawarkan kebaikan, keharmonisan, optimisme, cita-cita, atau gambaran ideal tentang hidup. Perubahan kebiasaan itu akan berdampak juga pada algoritma hidupmu. Kamu akan mulai terbiasa melihat hidup dari sisi kebaikan. Kamu akan perlahan meninggalkan kebiasaan overthinking.

Perubahan algoritma tidak bisa sekali jadi. Ini perlu beberapa waktu untuk sampai benar-benar mengubah algoritma. Kamu pun harus melawan kebiasaan lama, pikiran negatif, sikap pesimis, kecurigaan, hingga kekuatiran terhadap hal-hal yang di luar kendalimu.

 

Mungkin dua cara di atas terasa berat. Tetapi begitulah, tidak ada jalan yang mudah dan singkat untuk menyelesaikan persoalan psikologis. Masalah yang berat dan rumit butuh penyelesaian yang menantang pula. Semoga kamu bisa terlepas dari overthinking.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here