Waktu Baca: 3 menit

Presiden Joko Widodo memutuskan membatalkan aturan perpres minuman keras. Setelah pembatalan itu, kini berhembus suara kencang agar ada UU Larangan Minuman Keras/Minol. Namun, apakah kebijakan ini akan berdampak positif?

            Pada tiap awal periode pemerintahan, ada satu kecenderungan: berhembusnya isu draft RUU Larangan Minuman Beralkohol. Sayang, draft itu sering tidak jelas kemana arahnya dan berakhir sebagai perdebatan semata di masyarakat. Perdebatan ini bahkan memicu perang tahunan yang biasa disebut sebagai Tweet War. He..he..he..

Yah, tapi memang pada akhirnya, biasanya RUU Larangan Minol tidak pernah tembus menjadi undang-undang. Padahal jika dilihat sekilas, UU Larangan Minol ini amatlah positif karena Minol ditenggarai memiliki banyak efek negatif dibandingkan positifnya.

courtesey : Pixabay

Menurut catatan Health and Consumer Protection European Union, banyak kerugian yang disebabkan oleh alkohol. 55 juta penduduk Eropa ditenggarai mengkonsumsi alkohol dalam jumlah yang mengkhawatirkan. 195,000 kematian dicatat sebagai kematian akibat alkohol. Alkohol menjadi alasan terbesar ketiga dari kematian dini di Uni Eropa di belakang tembakau dan tekanan darah tinggi. Satu dari empat kecelakaan di Uni Eropa disebabkan oleh alkohol. Alkohol juga bertanggung jawab atas setidaknya enam puluh penyakit berbahaya, di antaranya adalah penyakit paru paru, kanker payudara, penyakit mental, penyakit jantung dan bahkan penyakit reproduksi.

Apakah kemudian dengan pelarangan total hasilnya lebih baik? Bisa jadi tidak, mari kita ambil contoh masa pelarangan total alkohol di Amerika Serikat. Menurut sejarawan Amerika Serikat, Michael Lerner, banyak dampak negatif dari pelarangan alkohol. Saat terjadi pelarangan total, industri yang diharapkan naik malah tidak tumbuh. Industri makanan ringan tidak naik. Padahal mereka diharapkan sebagai pengganti alkohol. Sebaliknya, banyak usaha yang berhubungan dengan alkohol hancur. Ribuan orang kehilangan pekerjaan saat bar dan restoran di tutup. New York kehilangan hampir 75 persen pajaknya. Di level nasional, Amerika Serikat kehilangan pemasukkan dari pajak mencapai 11 Milyar Dollar Amerika Serikat. Sementara itu, beban satgas anti alkohol di negeri Paman Sam mencapai 300 juta Dollar Amerika Serikat.  Mirisnya juga, banyak apotek yang beralih rupa menjadi tempat menjual alkohol illegal.

Saat membicarakan efek buruk pelarangan alkohol total, kita belum berbicara mengenai dampak kriminalitas. Muncul bos bos geng baru seperti Al Capone. Dalam artikel berjudul Prohibition was a Failure oleh M. Thornton, harga spirit naik hingga 24 persen sementara bir naik hingga 700%. Konsumsi alkohol ilegal tetap berjalan dengan organisasi kriminal menjadi ujung tombaknya. Mirisnya lagi, konsumsi alkohol (ilegal) malah naik hingga 63 persen! Apakah efek ini hanya terjadi di Amerika Serikat saja? Setidaknya tidak. Hal ini adalah fenomena global. Mari kita ke rumah sendiri. Di Indonesia sudah ada contoh kecilnya.

Berdasar penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) dari tahun 2014 hingga 2018, kematian akibat minuman oplosan naik hingga di atas 100 persen dibanding periode sebelumnya. Hal ini bertepatan dengan diberlakukannya Permendag No. 6 tahun 2015 mengenai pembatasan alkohol di minimarket. Pembatasan minuman beralkohol yang terlalu ketat ditenggarai membuat konsumen memilih oplosan sebagai alternatif.

Ditambahkan lagi oleh peneliti CIPS, sesungguhnya konsumsi alkohol di Indonesia sudah sangat rendah. Hanya mencapai 0,6 liter per kapita. Artinya, alkohol sebenarnya jauh dari ancaman serius di Indonesia. Justru tembakau lebih beresiko. Pembatasan alkohol malah lebih berbahaya karena konsumsi miras oplosan diperkirakan berjumlah lima kali lebih banyak daripada konsumsi alkohol legal yang tercatat saat permendag  6/2015 diberlakukan. Bayangkan jika pemberlakuan pembatasan minuman beralkohol dilakukan total.

Lalu apa kunci mengurangi konsumsi minuman beralkohol? Tak ada solusi lain selain edukasi. Edukasi akan bahaya minuman beralkohol sangat penting. Tapi sayangnya, edukasi ini kebanyakan menyasar warga menengah ke atas dan tidak ke bawah. Padahal lapisan bawah jauh lebih beresiko. Mereka inilah para produsen sekaligus konsumen minuman oplosan.

Sejujurnya, sulit untuk meminta warga menengah ke bawah untuk tidak minum alkohol sama sekali. Tekanan hidup dan minimnya hiburan membuat alkohol menjadi pelarian menarik. Solusinya apa? Mau tak mau, harus disediakan akses ke alkohol legal dan aman dikonsumsi sementara proses edukasi dan program sosial untuk mengurangi beban ekonomi masyarakat menengah ke bawah dijalankan. Melarang sama sekali malah berdampak negatif pada mereka yang ‘kreatif tapi negatif’.

Tentu ada yang tidak sependapat meski dengan data data yang sudah tersedia. Namun, sudah seharusnya upaya mengurangi konsumsi minuman beralkohol tidak berhenti pada tindakan tindakan yang sensasional semata untuk menarik perhatian masyarakat. Yang jauh lebih penting adalah menghentikan konsumsi alkohol secara sistemik agar bahaya bisa tetap dimitigasi sembari menjaga keseimbangan kehidupan tak terganggu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here