Waktu Baca: 4 menit

Banyak teori mengenai bagaimana tepatnya kita berlaku saat menjadi pemimpin. Namun izinkanlah saya berbagi cerita sedikit tentang teori kepemimpinan yang agak melawan arus mainstream ini.

            Beberapa hari ini pemberitaan kita diwarnai mengenai konflik di Partai Demokrat. Setelah drama panjang dan saling serang di media, pada akhirnya Jendral (Purn.) Moeldoko benar benar menjadi Ketua Umum Partai Demokrat yang baru. Setidaknya, versi KLB Deli Serdang. Kepengurusan Ketua Umum sebelumnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)pun kini terombang ambing. Hal ini disebabkan karena Kemenkumham masih belum memutuskan surat kepengurusan partai mana yang diterima. Beberapa pihak mengatakan bahwa sesuai Anggaran Dasar Partai Demokrat, AHY masih ketua umum. Namun, kita semua memahami bahwa Kemenkumham juga seringkali mempunyai pandangan tersendiri.

Suasana sebelum KLB Demokrat

Namun saya tidak akan membahas dinamika Partai Demokrat. Saya lebih tertarik membahas mengenai ide kepemimpinan yang pernah diungkapkan salah satu teman saya. Ia mengatakan bahwa pemimpin memang harus memuaskan semua pihak. Ide ini jelas bertentangan dengan ide yang mengatakan bahwa pemimpin tidak harus memuaskan semua pihak. Buru buru teman saya menambahkan : “Anda tidak bisa menyenangkan semua pihak, tapi anda bisa membuat mereka puas.”

Saya mengangguk angguk. Lalu apa hubungannya dengan kisruh Partai Demokrat? Nanti kita akan membahasnya di kesimpulan.

Menurut teman saya, tidak semua orang menyenangi seorang pemimpin. Senang itu masalah perasaan. Perasaan sangat subyektif. Lagipula, manusia memiliki ego. Ego manusia membuat ia selalu ingin berada di depan. Ia tidak suka menjadi bawahan orang lain. Kalau bisa nomor satu kenapa harus nomor dua. Tidak ada kecap di dunia yang mengaku sebagai kecap terbaik kedua juga toh?

Berkebalikan dengan menyenangkan, memuaskan itu sangat obyektif. Kenapa bisa demikian? Sebab, memuaskan itu ada ukurannya. Ukurannya adalah keinginan atau kebutuhan orang itu tercapai. Anda bisa tidak senang dengan pemimpin anda, entah itu ketua OSIS, Bupati, Gubernur atau bahkan Presiden, tapi anda bisa saja puas dengan mereka karena toh kebutuhan anda tercukupi. Bahkan, mungkin beberapa keinginan anda tercukupi. Anda memang tidak melihat (misalnya) harga bahan bakar sesuai dengan harapan anda, eh..tapi di sisi lain pemerintah menghapus pajak kendaraan bermotor. Jadi anda mendapatkan kompensasi dan hal itu sudah cukup bagi anda, untuk sekarang setidaknya.

Soal memuaskan semua pihak, teman saya mengatakan bahwa pemimpin harus bisa menemukan suatu keseimbangan dalam organisasi yang dipimpinnya. Keseimbangan yang dimaksudkan di sini artinya (lagi lagi) memuaskan semua pihak. Ia berkata begini: “Kalau kamu nih ya Di, memimpin grup tugas kuliah, memuaskan mereka semua gampang ‘kan?”. O ya jelas. Kalau saya ingin memuaskan mereka semua, saya tinggal mengerjakan tugas kelompok sendirian. Syukur syukur ada di antara mereka yang cukup tahu diri, mereka mungkin bantu saya sedikit sedikit begitu. Itu kalau grup tugas kuliah, bagaimana dengan memimpin organisasi yang lebih besar dan kompleks? Anggaplah kamu menjadi Ketua Osis atau Presiden Mahasiswa begitu, tentu perkara memuaskan semua pihak itu tidak mudah.

“Itulah!” kata teman saya. Ia lalu melanjutkan dengan sebuah pernyataan keras. “Kata bersinergi itu omong kosong! Yang lebih tepat adalah bagaimana kita bisa mengakomodasi semua pihak.

Saya mengangguk angguk : Wah, menarik ini.

Teman saya ini kebetulan pernah menduduki jabatan tinggi di Senat kampus. Ia pernah bercerita bahwa di banyak kampus, jurusan Arsitek dan Teknik Sipil selalu berseteru. Kejadian yang sama terjadi di kampusnya. Jurusan Arsitek dan Teknik Sipil tidak akur. Hal ini bisa jadi karena gengsi dan juga karena ego jurusan. Bagi teknik sipil, arsitek kadang menuangkan kreatifitas kelewat batas sehingga anak Teknik Sipil kebingungan menghitung fondasi agar tidak sampai ambruk. Bagi anak Arsitek, Teknik Sipil sering terlalu jumawa merasa bahwa mereka adalah jurusan teknik terpenting. Akhirnya, dua sisi yang seringnya satu fakultas ini malah kerap berkonflik dalam banyak aspek.

“Dan ya jujur saja Di, waktu aku jadi pemimpin senat, mereka sudah berseteru selama lebih dari tiga puluh tahun! Apa iya aku bisa ajak mereka bersinergi? Gak lah, aku cuma menjabat satu tahun! Habis energiku mendamaikan mereka berdua. Makanya aku berusaha mengakomodasi apa yang menjadi kebutuhan dan sebagian keinginan mereka. Yang penting mereka puas dan konflik di antara mereka gak sampai lempar lemparan batu saja,” Begitu kelakar teman saya.

Menurut teman saya, itulah gambaran memimpin suatu organisasi yang besar. Kita tidak bisa mengajak mereka untuk bersinergi. Mengajak semua kelompok kecil dalam organisasi besar bersatu hanya akan menghabiskan waktu dan membuat tujuan organisasi tidak tercapai. Karena itulah kata yang tepat adalah bagaimana semua pihak terakodomasi? Bisa jadi kelompok kelompok kecil dalam organisasi besar masih saling benci satu sama lain, tapi bagaimana kebencian mereka itu tidak menjadi permusuhan? Bagaimana agar mereka semua puas? Itulah kuncinya.

“Mengajak bersinergi adalah suatu pemaksaan, mengakomodasi adalah cara kita peduli pada mereka tanpa meminggirkan mereka, tanpa mengajak mereka berubah,” kata teman saya.

Lalu apa hubungannya dengan kisruh Partai Demokrat? Menurut pandangan saya, kisruh Partai Demokrat tidak akan terjadi jika semua pihak di dalam partai “merasa puas”. Seperti halnya organisasi organisasi besar lainnya, pasti banyak kelompok kecil di Partai Demokrat dan peluang mereka berkonflik sangat besar. Hanya saja, seandainya tujuan organisasi tercapai dan masing masing kelompok kecil itu (sebagian besar) puas, tidak akan ada Kongres Luar Biasa seperti hari ini.

Namun ternyata banyak kepuasan yang tidak terjadi. Salah satunya yang ditenggarai membuat banyak pihak di Partai Demokrat tidak puas adalah penurunan drastis suara Partai Demokrat. Pada tahun 2009, Demokrat mendapatkan 26,4% Kursi DPR. Pada tahun 2014, angka itu turun drastis menjadi 10,19% dan kini di 2019 angka itu mencapai 7,7%. Betapapun berbeda bedanya kelompok kecil di Demokrat, konflik akan teredam seandainya tujuan organisasi tercapai. Tujuan organisasi dalam konteks Partai Demokrat adalah suara yang memuaskan saat pemilu. Faktanya, tujuan organisasi tidak tercapai, kegelisahan muncul di kelompok kecil dan berujung pada ketidakpuasan di dalam partai yang menginginkan perubahan.

Suka tidak suka, inilah kesimpulan dari teman saya: memimpin organisasi besar adalah tentang memuaskan semua pihak atau setidaknya mayoritas pihak. Cara mencapainya adalah dengan seni mengakomodasi, bukan memaksakan sinergi. Selama tujuan organisasi tercapai, pihak luar akan menilai bahwa sebuah organisasi kompak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here