Waktu Baca: 3 menit

Sebuah kejadian sederhana mengenai urusan pribadi di toilet yang membuka mata saya akan sebuah penjajahan.

            Saya tinggal di Bangkok selama dua tahun. Di sana saya melanjutkan studi Master dalam Hubungan Internasional. Tempat kuliah saya bukan kampus Thailand. Kebetulan kampus saya adalah kampus Amerika Serikat yang berdiri di Thailand. Kampus itu bernama Webster University Thailand. Alasan saya memilih Webster adalah karena Presiden keenam kita, Susilo Bambang Yudhoyono pernah bersekolah di sana meskipun dia tidak bersekolah di Kampus Thailand. Ya, Webster itu punya berbagai macam kampus di seluruh dunia by the way. Saya tahu, saat anda membaca ini, serta mengamati dinamika yang terjadi baru baru ini. Mungkin ada kritik dan cemoohan pada saya. Well, tapi saya tidak mau membahas soal politik nasional hari ini.

Kampus saya berada di sebuah gedung termewah di Bangkok waktu itu. Saking mewahnya, jangan kaget kalau gedung saya sering diperuntukkan untuk hal yang tidak seharusnya. Sering tiba tiba mobil sport berjejer di dekat lobi. Kaget saya. Setelah saya tanya, ternyata sedang ada acara pameran mobil. Lalu pernah juga tiba tiba banyak cewek cewek cantik berkumpul, ternyata mereka mau selfie. Paling epik adalah ketika gedung saya suatu ketika didatangi puluhan pasukan khusus anti teroris Thailand. Saya langsung shock. Ternyata mereka datang untuk syuting film.

Sebagai gedung paling mewah di Bangkok. Tentu gedung saya memiliki banyak gerai makanan branded. Rata rata brand luar negeri seperti Starbucks, Coffe Beans dan Aunty Annie. Jujur ya…mahal banget mereka jual makanan. Saya sih biasanya makan di warteg Thailand. Karena seringnya saya makan di warteg Thailand, saya sampai lancar berbahasa Thailand. Kalau orang bule, mereka tidak bisa makan makanan Thailand. Saat makan makanan Thailand, mereka akan sakit dan mules. Teman dekat saya, Charles McKinney, tiap hari makan KFC. Hebatnya, dia gak bangkrut. Kehebatan kedua, gak ada tanda tanda ia kena penyakit kolestrol. Ada juga bule yang tiap hari makan salad seharga seratus ribu rupiah. Iya, dia tiap hari makan semahal itu! Memang, bodynya jadi bagus, dan saladnya enak juga sih. Saya pernah makan, tapi sekali kali saja. Menghabiskan duit seratus ribu tiap hari bukan jalan ninjaku. Warteglah jalan ninjaku.

Saat pertama kali dibangun. Gedung itu memiliki toilet yang nyaman. Ada toilet duduk, ada tissue buat cebok bule dan ada SS alias Semprotan Sil*t (maaf, agak kasar, tapi gak ada istilah lain sih. Ha..ha..ha..) bagi warga Asia seperti saya. Untuk sementara keharmonisan antar suku, ras dan agama terjaga sampai kemudian si SS tiba tiba raib! Iya, semua SS di gedung itu dicabut. Saya kaget. Saya cek tiap lantai mengenai keberadaan si SS. Ternyata masih ada SS itu, tepatnya di Groundfloor, tempat para pekerja kerah biru asal Thailand berkumpul.

courtesey: Review Geek

Marah saya! Bagi saya inilah bentuk penjajahan. Ternyata, banyak dari para bule yang bekerja dan bersekolah di gedung itu tidak suka dengan SS. Alasannya, SS bikin becek. Padahal, selama ini tidak ada masalah dengan sesama orang Asia. Kamu bayangin aja, itu SS ‘kan letaknya di bawah dan selalu diarahkan ke lubang pantat. Mana ada disemprotin sembarangan? Logika bule ini aneh. Tapi nasi sudah bubur.

Dari kejadian itu saya belajar artinya penjajahan budaya. Sejak lama kita orang Asia, sebagian besar kalau semua terlalu lebay, selalu membersihkan ‘lubang’ kita dengan air. Dan itu bersih! Ada penelitiannya saudara saudara. Coba ada piring kotor, anda lap dengan tissue, bersih gak? Akan beda ceritanya kalau anda bersihkan dengan air dan sabun. Jadi, membersihkan ‘lubang’ anda dengan air itu tidak salah, sangat benar! Justru orang yang membersihkan ‘lubang’ mereka dengan tissue, patut ditanyakan kehigenisannya. Apakah kita marah dengan mereka? Enggak ‘kan? Bagiku aku punya cara cebokku dan bagi kamu, kamu punya cara cebok kamu. Kita hidup dalam satu kerukunan tanpa mempermasalahkan gaya cebok kita. Kenapa sekarang kamu paksa aku cebok dengan tissue?

Ada satu pandangan kemudian bahwa gedung itu kan mayoritas dihuni orang Eropa dan Amerika Serikat. Jadi, katanya kita harus menghargai mayoritas. Wah, tapi salah kaprah nih. Seperti kata saya tadi, membersihkan ‘lubang’ dengan air itu lebih bersih. Ada penelitiannya! Bahkan ini dimuat di Business Insider. Kalau kata orang barat, SS itu namanya Bidet. Dan Bidet kini banyak disarankan untuk dipakai di Amerika Utara. Apakah yah, kalau mayoritas salah terus yang lain harus salah? ‘Kan gak gitu! Ini masalah kebersihan dan kebersihan ‘kan bagian dari iman. Betul tidak?

Apa lacur. Saya gak mungkin memprotes. Saya ini hanya mahasiswa dari Muntilan. Berapa sih duit saya? Ya ‘kan? Masak saya mau melawan bule bule kaya yang harga saladnya aja 100 ribu sekali makan. Gak tahu dirilah saya! Orang miskin itu ngalah saja, gak usahlah coba nglawan. Benarkah demikian? Harusnya sih saya lawan, karena saya benar. Tapi, apa ya worthed memperjuangkan keberadaan SS itu?

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here