Waktu Baca: 3 menit

Hidup bertetangga memang tidak pernah mudah. Tanya saja pada Thailand dan Kamboja. Dua negara ini pernah bentrok hanya untuk berebut komplek Candi!

            Nama candi itu, atau lebih tepatnya kompleks candi itu adalah Preah Vihear. Dibangun hampir seribu tahun yang lalu, kompleks candi ini didedikasikan untuk dewa Siwa. Meski berdiri sejak 1000 tahun yang lalu atau sekitar abad ke 11 Sesudah Masehi, tapi waktu pembangunan diperkirakan sudah dimulai sejak abad ke 9 SM. Total tangga yang dimiliki di kompleks ini mencapai 800 meter yang menempati lahan seluas 155 Hektar. Kompleks candi ini konon dibangun oleh bangsa Khmer, nenek moyang bangsa Kamboja. Kondisi candi ini saat ditemukan cukup baik. Salah satu penyebabnya adalah lokasi candi yang jauh dari keramaian dan berada di tengah tengah hutan sehingga terhindar dari vandalisme.

 

Dari Thailand, candi ini berdekatan dengan provinsi Sisaket. Pada masa dahulu, banyak turis mengunjungi Preah Vihear melalui Thailand. Sementara itu, bagi Kamboja hal ini adalah sebuah pelanggaran kedaulatan. Kamboja menganggap bahwa area sekitar candi milik mereka juga. Hal ini ditentang Thailand. Pada tahun 1962 telah ada keputusan bahwa Preah Vihear milik Kamboja. Namun, memang belum ada keputusan mengenai area di sekitar candi Preah Vihear.

Konflik mengenai daerah sekitar Preah Vihear tidak mencapai eskalasinya hingga tahun 2008. Selama ini tidak ada konflik bersenjata mengenai wilayah di sekitar Preah Vihear. Namun, keputusan Kamboja yang mendaftarkan Preah Vihear sebagai warisan budaya UNESCO memantik emosi di Thailand. Akhirnya terjadilah konflik yang menewaskan beberapa prajurit serta membuat masyarakat yang tinggal di daerah itu terpaksa pindah. Pada 2011, ICJ akhirnya mengambil keputusan untuk memenangkan Kamboja. Demikian, hal itu tidak berarti luka antara masyarakat Thailand dan Kamboja hilang begitu saja. Luka konflik itu sudah terjadi dan cenderung membesar. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi hingga Thailand dan Kamboja berkonflik separah itu hanya untuk sebuah kompleks candi?

Banyak hipotesa yang dikeluarkan. Namun salah satunya adalah hubungan Thailand dan Kamboja memang sudah lama buruk; ada dendam warisan di sana. Hampir mirip dengan situasi Indonesia dan Malaysia yang terganjal ‘Konfrontasi (Politik Ganyang Malaysia) di era ‘60an’. Peperangan antara Kamboja dan Thailand dimulai tahun 1350. Hal ini dipicu perampokan oleh warga Kamboja di perbatasan Thailand. Kejadian semacam ini ditenggarai karena kondisi ekonomi buruk dan terjadi over population di Kamboja. Alih alih mencari solusi melalui diplomasi, Thailand memilih opsi melakukan agresi militer yang menyebabkan perang Kamboja Thailand di tahun 1591-1594. Warisan perang ini menjadi salah satu penyebab ketegangan Thailand dan Kamboja.

Hipotesa kedua, saat itu terjadi konflik internal di Thailand. Perdana menteri populer, Thaksin Shinawattra dijatuhkan dari posisinya oleh kelompok Kaos Kuning. Kelompok Kaos Kuning ini mendengungkan semangat ultra nasionalisme. Salah satu yang disorot kelompok ini adalah kebijakan Thaksin yang dinilai lembek terhadap Kamboja. Kelompok Kaos Kuning lalu memaksakan agar kebijakan di era pemerintahan baru harus lebih keras terhadap Kamboja.

Pandangan ketiga adalah, Preah Vihear dianggap sebagai salah satu sumber ekonomi bagi kedua negara karena keunikannya. Karena itulah penting untuk mengamankan Preah Vihear. Namun pandangan ini ditentang karena pada dasarnya Preah Vihear bukan sumber pemasukan utama pariwisata bagi kedua negara. Apalagi, untuk mencapai Preah Vihear dibutuhkan waktu yang sangat lama dan bisa dibilang Preah Vihear adalah destinasi wisata khusus. Ekonomi bisa dibilang motif yang lemah.

Lalu apa pelajaran yang bisa diambil? Menilik dari kondisi politik dan sejarah, argumen bahwa Preah Vihear dijadikan alat propaganda memiliki landasan yang kuat. Preah Vihear ‘tidak penting’ dari segi bisnis dan keamanan. Berbeda halnya jika dilihat dari sudut pandang kebudayaan dan kebanggaan nasional, Preah Vihear adalah simbol kekuatan. Sebagai simbol, Preah Vihear seringkali tidak diperlakukan dalam kerangka logis. Terkadang bahkan ada unsur mistis di sana yang mengorbankan banyak jiwa.

Setelah keputusan ICJ pada 2011, praktis tak ada lagi konflik bersenjata di sana. Bukan berarti konflik ini tidak menimbulkan luka. Luka yang muncul justru luka batin. Perbatasan antara Kamboja dan Thailand cukup panjang dan tak semuanya sudah diputuskan demi hukum. Dendam di pikiran orang Kamboja juga cukup kuat. Bahkan dendam itu dipelihara misalnya dalam bentuk nama kota. Siem Reap misalnya, memiliki arti ‘darah orang Thai’. Ya, ke depan mungkin akan ada konflik lagi untuk harga yang tidak logis. Inilah warna dari politik luar negeri. Terkadang, kebijakan yang adapun hanya untuk menutupi masalah sesungguhnya di dalam negeri. Konflik Preah Vihear antara Thailand dan Kamboja misalnya, berhasil mengalihkan perhatian publik Thailand bahwa masalah sesungguhnya adalah masih terpecahnya Thailand menjadi dua kubu: Kaos Merah dan Kaos Kuning. Bagaimana dengan masa depan? Hanya waktu yang bisa menjawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here