Waktu Baca: 3 menit

Beberapa orang mencibir perempuan yang dinilai tidak tangkas mengelola urusan dapur. Dari pihak perempuan pun, banyak yang merasa rendah diri karena tidak pandai memasak, atau menyajikan masakan yang lezat. Rasa minder ini bisa dialami oleh perempuan dari strata sosial manapun, baik yang hanya lulusan SMK, maupun yang sudah menjadi doktor.

Di sisi lain, sebagian perempuan merasa heran nan kagum bila berkenalan dengan lelaki yang bisa memasak. Sementara para lelaki akan menertawakan bila tahu ada kawan lelaki yang kesehariannya mengurusi dapur,  karena dianggap tidak jantan.  Mungkin kaum yang bagian ini lupa bahwa street food paling enak justru yang diracik oleh para lelaki, dan chef terkemuka justru dari kaum lelaki.

Lantas, dari mana asal muasal teori bahwa perempuan harus bisa memasak ?

Kita bisa merunut jauh ke peradaban manusia di masa lampau. Perempuan bertugas memasak kebutuhan domestik dan lelaki mencari bahan makanan itu adalah jejak peninggalan kehidupan prasejarah. Lelaki pergi ke hutan berburu binatang, sementara perempuan memetik dedaunan sebagai rempah-rempah. Lelaki bertugas memantik api, sementara perempuan yang mengolah makanan. Pekerjaan ini berkembang dari masa ke masa dengan konsep yang mirip. Lelaki bekerja untuk mengumpulkan bahan makanan, perempuan yang tetap bertugas mengolahnya. Dalam kehidupan modern, tugas mengumpulkan bahan makanan bergeser menjadi mengumpulkan uang untuk membeli bahan makanan. Aktivitas mengumpulkan bahan makanan dari transaksi jual beli itu dilakukan oleh perempuan.

Riwayat ini bukanlah harga mati, karena pada beberapa kebudayaan peran laki-laki dan perempuan bisa sama sekali berbeda. Bahkan di kehidupan modern, beberapa komunitas masyarakat kita justru membebankan tugas pengelolaan rumah tangga dan pencarian nafkah kepada pihak perempuan. Sementara pihak lelaki tidak banyak berkontribusi kepada pengelolaan rumah tangga.

Urusan masak dan makan adalah kebutuhan dasar manusia. Secara alamiah orang akan menggunakan berbagai cara untuk bisa memenuhi kebutuhan pokok tersebut, entah dengan memetik hasil bumi sendiri lantas meraciknya, entah dengan membeli bahan pangan di pasar dan meraciknya, entah dengan membeli masakan siap saji, atau bahkan meminta makanan pada orang lain. Perilaku ini tidak ada kaitannya dengan preferensi jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan.

Perilaku meracik dan memasak pun akhirnya tidak ada kaitannya dengan urusan jenis kelamin. Pada level akar rumput, dengan mudah kita menemukan bapak-bapak penjual nasi goreng, abang tukang bakso, atau bapak-bapak penjaja makanan di sekitar sekolah. Soal kualitas rasa, kita tidak perlu memperdebatkannya. Di level masyarakat kelas menengah ke atas, kita mudah menemukan nama-nama chef yang kondang. Gordon Ramsey, William Wongso, Chef Juna, dan Chef Arnold. Dalam dunia perhotelan, tampaknya lebih banyak chef lelaki ketimbang perempuan.

Soal siapa yang memasak di dapur di rumah sebetulnya adalah perkara kesepakatan dan pembagian tugas antara suami istri. Kesepakatan ini tidak ada standar tertentu, dan cenderung situasional. Toh bila dibuat kompetisi memasak, hasil racikan istri belum tentu lebih baik dari hasil racikan suami meksipun dengan resep yang sama persis. Dalam membuat kesepakatan, semestinya tidak ada paradigm menang-kalah. Urusan perut haruslah menang-menang. Artinya, kalau perempuan sepakat untuk mengambil peran mengelola dapur, maka ia tidak boleh merasa terpaksa. Demikian pula kalau lelaki sepakat untuk mengambil peran mengelola dapur, ia pun tidak boleh merasa terpaksa.

Pekerjaan di dapur bisa memakan banyak waktu dalam sehari. Oleh karena itu seringkali pekerjaan dapur bisa berpengaruh kepada pekerjaan mencari nafkah. Soal porsi waktu inilah yang menyebabkan sebagian perempuan lebih memilih fokus mengelola dapur dan mendidik anak di rumah. Tetapi toh banyak juga perempuan yang tetap bekerja full time di kantor, dengan karir yang meningkat, dan tetap bisa mengelola dapur serta mendidik anak.

Perihal makan di rumah sebetulnya lebih bersifat fungsional saja, untuk mengisi perut yang kosong. Tidak ada keharusan bahwa sajian makan di rumah harus selezat yang ada di resto. Bahwa kalau lelaki / perempuan yang memasak itu bisa menyajikan makanan yang lezat, maka itu jadi bonus saja. Kalau sekeluarga ingin makan nikmat dan lezat, ya lebih baik jajan makan di luar rumah, tidak harus membuat pusing dengan belajar meracik makanan dengan resep jitu.

Sekali lagi, tidak ada yang mengharuskan perempuan bisa memasak. Urusan tatakelola dapur itu soal kesepakatan saja.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here