Masih ingat dengan guru asal Prancis bernama Samuel Paty? Samuel Paty meninggal karena dipenggal di kepala pada tanggal 16 Oktober 2020 lalu, oleh seorang remaja 18 tahun asal Chechnya, yang kemudian juga mati ditembak mati oleh polisi. Samuel Paty menjadi sasaran serangan setelah seorang siswi memberi ujaran kebencian bahwa Paty mempertontonkan karikatur Nabi Muhammad SAW di kelas. Siswi ini memberitahu ayahnya bahwa Paty meminta murid beragama Islam untuk meninggalkan kelas ketika dirinya mulai menunjukkan kartun Nabi Muhammad dalam pelajaran kebebasan berbicara. Ayah seorang siswi tersebut pada akhirnya mulai membuat kampanye kebencian di media sosial dan melakukan gugatan hukum terhadap sekolahnya.

samuel-paty
The Guardian

Seperti yang dilansir BBC, pengacara dari siswi tersebut mengatakan, kliennya sekarang mengaku bahwa dirinya sendiri bahkan tidak ada di dalam kelas tersebut. “Dia berbohong karena merasa terjebak setelah teman-temannya meminta dia menjadi juru bicara” ujar Mbeko Tabula. Siswi tersebut tampaknya keberatan setelah diskors sehari sebelum kelas, karena berulang kali absen dari sekolah, menurut surat kabar Le Parisien.

Kasus Samuel Paty sempat menghebohkan dunia terutama masyarakat Indonesia pada saat itu. Bagaimana tidak? Warganet bahkan sempat membuat kampanye besar-besaran untuk ikut memboikot segala bentuk produk asal Prancis, dengan men-trendingkannya di Twitter maupun di media sosial lainnya. Kita mengetahui bahwa kasus seperti ini merupakan isu yang sangat sensitif, apalagi Indonesia yang memiliki mayoritas umat beragama Islam. Penggambaran wajah Nabi Muhammad secara luas dianggap tabu dalam Islam dan dianggap sangat ofensif.

Persoalan ini juga sangat sensitif di Prancis setelah majalah satir Charlie Hebdo menerbitkan kartun Nabi Muhammad, sehingga begitu ujaran kebencian ini dipublikasikan, kasus tersebut menjadi besar hingga sang guru dibunuh.

Apa yang dapat kita pelajari?

presiden-macron-memberi-penghargaan-ke-samuel-paty
Presiden Macron Memberi Penghargaan Tertinggi ke Samuel Paty

Usai kejadian tersebut, Presiden Prancis Emmanuel Macron menganugerahi kehormatan tertinggi Légion d’honneur kepada keluarga guru tersebut.

Harga yang harus dibayarkan dari sebuah kebohongan tersebut adalah dipenggalnya seorang guru dan membuat kisruh umat Islam di seluruh dunia. Masyarakat kemudian beramai-ramai membuat video di TikTok untuk membuang semua produk Prancis pada saat itu. Warganet juga mengecam dan mengejek-ejek Presiden Macron yang justru memberi penghargaan tertinggi pada Paty, dan tidak membela umat Islam. Belum lagi terjadi demonstrasi besar-besaran di negara Islam lainnya, dengan membakar sejumlah bendera dan foto presiden Prancis Emmanuel Macron. Konflik dan isu pertentangan menjadi panas. Kita yang awalnya hanya ingin ikut bersimpati, justru seakan di prank.

samuel-paty

Kita sebagai orang tua juga sepatutnya berhati-hati. Tidak untuk menelan mentah-mentah begitu saja apa yang disampaikan oleh anak kita dan lebih baik mencari tahu kebenarannya terlebih dulu. Seringkali juga masih banyak orang tua yang termakan oleh berita hoax, entah itu di Facebook maupun WhatsApp tanpa mencari tahu sumber kebenarannya.

Kita harus berhati-hati terhadap segala bentuk berita hoax maupun propaganda yang bisa saja membuat kisruh maupun memecah belah persatuan. Isu beragama di Indonesia sangat rentan, bahkan isu akan paham fasisme ataupun Islamophobia benar-benar akan mengacaukan situasi di suatu negara. Konflik yang tersulut di era teknologi seperti sekarang ini cenderung mudah terjadi. Maka dari itu, bertoleransi dan menghindari provokasi menjadi indikator penentu terciptanya kedamaian. Jangan malas membaca dan selalu berusaha untuk mencari tahu kebenarannya. Apalagi sampai membuat berita bohong.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here