Waktu Baca: 6 menit

Terlahir sebagai ‘orang yang dianggap keturunan Tionghoa’ tidak membuat saya merasa menjadi orang Tionghoa, malah saya gak yakin saya orang Tiong Hoa karena saya gak punya mesin waktu dan pergi ke masa lalu untuk membuktikannya. Dari kecil saya berbahasa Jawa, baca bacaan Indonesia, makan makanan Jawa dan Padang serta nonton kartun Jepang. Dimana Tionghoanya saya coba? Saya bingung, apalagi anda…

            Ke Tionghoan saya hanya muncul saat menyebut jumlah uang. No Pek, Sa Pek, Go Pek, gitu… Setelah saya telusuri, itu ternyata bukan bahasa Tionghoa atau Mandarin, itu bahasa Hokkian. Ternyata di kampung kakek moyang saya, sayapun gak dianggep  orang Tionghoa, saya dianggapnya orang Hokkian. Orang Hokkian itu hidup di Selatan Tiongkok pada saat jaman Dynasty Warrior, orangnya berkulit gelap dan pekerjaan utamanya nelayan. Kita secara umum agak sulit dikategorikan sebagai orang Tionghoa. Karena, kalau mau jujur, yang dianggap orang Tionghoa adalah suku Han yang merupakan 80 persen suku Tiong Hoa. Sementara itu suku suku kecil lainnya ya susah mengklaim diri sebagai orang Tionghoa. Tanya saja sama orang Tibet dan Uighur.

Dari kecil saya bergaul dengan beberapa orang Tionghoa karena memang hidup di daerah Pecinan. Mereka mengatakan orang Tionghoa itu rajin, pintar dan secara natural kaya. Lha saya enggak setuju, kenapa? Saya gak percaya ada ras dimana yang lahir otomatis rajin gitu. Kemalasan itu ada di semua gen suku bangsa. Lihat saja saya. Kerajinan saya tidak lebih baik dari orang dari suku lainnya. Saya bicara tidak hanya mewakili saya, banyaklah orang Tionghoa itu malas, bangunnya siang dan gak terlalu ngoyo ngejar uang. Teman saya yang paling rajin itu namanya Heru Kresnapati, orang Sunda. Itu orang kayak gak ada capeknya. Teman saya yang paling pintar sejauh ini adalah orang India, orang Somalia dan orang Sunda, lagi lagi gak ada korelasinya kalau kamu lahir sebagai orang Tionghoa terus otomatis kamu pintar. Setahu saya teman teman saya yang paling tidak intelektual (saya ogah sebut bodoh) ada tiga atau empat orang yang orang Tionghoa. Mereka ini bukan malas ya…ya memang tidak intelektual saja. Susah menerima pelajaran akademik. Bukan salahnya mereka juga. Kalau kaya? Ah, teman saya yang kaya memang ada yang Tiong Hoa, tapi yang orang Batak dan Manado juga banyak yang kaya. Yang orang Makassar juga ada. Gak ada korelasinyalah suku dengan kekayaan.

Yang ada malah saya merasa terbebani ketika dicap sebagai orang Tionghoa. Kok bisa? Karena kalau saya malas sedikit saja, saya dianggap mencoreng ke-Tionghoa-an saya. Dulu di SMA, saya termasuk yang tidak cerdas dalam ilmu pasti. Ya, saya akui ada teman teman saya yang heran kenapa saya gak cerdas padahal saya Cina. Saya bingung apa hubungannya coba. Tapi ya nyatanya saya juga heran kok sebagai Cina saya bego, ha..ha..ha… Kebetulan yang keturunan Tionghoa dan berasal dari kampung saya pinter pinter. Terus, kalau saya makan makanan di warteg, banyak yang bingung. Ini Tionghoa kok gak kaya gitu? Kalau orang suku lain mungkin kalau miskin dikasihani, kalau orang Tionghoa dihujat. Lho kamu Tionghoa kok gak kaya! Saya hanya bisa ketawa karena saya juga gak tahu harus jawab apa.

Pandemi Covid 19 ini makin mempersulit saya sebagai orang Tionghoa. Sudah rahasia umum virus Covid 19 ini berasal dari kota Wuhan, Tiongkok. Saya tidak pernah ke Wuhan, tahu kotanya aja enggak. Saya juga gak kenal siapa siapa di Wuhan. Tapi..karena saya orang Tionghoa, saya di cap ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi di Tiongkok yang telah merugikan jutaan orang di dunia.

Inilah yang terjadi sejak Covid 19 mewabah. Orang orang beridentitas Tionghoa jadi sasaran kebencian. Saya buka media sosial, ujaran kebencian pada keturunan Tionghoa sangat besar. Bahkan, kita punya racial slur sendiri yang setara dengan kata N itu: Aseng. Di Amerika Serikat, serangan pada orang beridentitas Tionghoa maupun mirip orang Tionghoa terus meningkat. Menurut PBB, sejak pandemi hingga sekarang ada 2,800 serangan ke orang mirip dan beridentitas keturunan Tionghoa. Saya kira sebentar lagi ada lah serangan ke bangsa Aseng di Indonesia karena wabah makin buruk dan gak semua orang terdidik dan terinformasi dengan layak. Wong di Amerika aja bisa gitu, gak anehlah kalau di Indonesia juga bisa. Kenapa ini bisa terjadi?

Karena masyarakat pada umumnya belum bisa membedakan keturunan Tionghoa dan Tiongkok sebagai negara. Hei! Keturunan Tionghoa tidak sama dengan WN Tiongkok. Kita tidak bertanggung jawab sedikitpun pada kebijakan negara Tiongkok! Itu yang saya mau suarakan, tapi pendapat saya ini sering dimentahkan. Bukan oleh orang asing, tapi oleh keturunan Tionghoa sendiri. Bukan WN Tiongkok, mereka WN Indonesia. Tapi mereka malah semakin menegaskan bahwa keturunan Tionghoa dan WN Tiongkok itu sama dengan tindak tanduk mereka, sadar ataupun tidak.

Tidak sedikit, saya akui, warga keturunan Tionghoa yang merasa identitasnya masih berakar pada Tiongkok. Ada lho teman saya yang membangga banggakan Tiongkok padahal dia ‘cuma’ warga keturunan Tionghoa bukan WN Tiongkok. Boleh saja bangga pada nenek moyang, tapi menurut saya kita bukan WN Tiongkok dan ya saya tidak merasa ada ikatan apa apa pada Tiongkok sebagai negara. Kenapa juga kita harus bertanggung jawab pada kebijakan negara Tiongkok? Dulu emang ada rasa dan ikatan, tapi kini sudah tak ada lagi rasa itu (Ce..i..llah). Ya selain itu kita harus sadar bahwa Tiongkok sebagai negara saja tidak jelas.

Kok tidak jelas! Lha iya, Tiongkok itu ada dua lho sampai hari ini. Yang pertama adalah RRT yang kedua adalah Republik Tiongkok. RRT adalah mainland sementara Republik Tiongkok adalah Taiwan. Nama resmi internasional mereka adalah China. Iya, sama sama China! Di banyak negara mereka sama sama China,tapi dua gitu. Sama sama resmi meski ada satu yang team China Mainland dan ada juga yang team China Formosa alias Republik.

Nah, untuk lebih bikin anda galau lagi. Menurut seorang ahli sejarah yang pernah saya temui (mohon maaf identitasnya saya sembunyikan, tapi dia juga di cap sebagai ‘keturunan Tionghoa’ by the way) orang keturunan Tionghoa di Indonesia ini awalnya adalah warga Taiwan yang kemudian diangkut Belanda ke Batavia untuk menjadi buruh. Besar kemungkinan nenek moyang keturunan warga Tionghoa di Indonesia bukan dari mainland, kita dari Taiwan. Dan bisa jadi, kalau sesuai akar sejarah, kita ini, para keturunan Tionghoa di Indonesia, musuh dari warga negara mainland. Nah lho!

Ketika terjadi serangan pada warga keturunan Tionghoa dimana Tiongkok sebagai negara? Apakah ikut melindungi warga keturunan Tionghoa di Indonesia? Sesuai catatan sejarah, mengutuk serangan aja mereka gak sering. Kenapa? Ya karena siapa elo? Mungkin begitu pikiran dari Tiongkok. Nggak salah juga, karena kita memang bukan siapa siapa. Kembali pada sejarah. Perjanjian dwi kewarganegaraan sempat dibahas oleh Menlu Soebandrio dan PM Zhou En Lai. Tapi kemudian tidak diratifikasi. Saat itu malah ada solusi bagi warga keturunan Tionghoa yang ingin pulang sudah disediakan kapal dan mereka bisa kembali menjadi WN Tiongkok. Sementara yang tidak ingin, otomatis dianggap WN Indonesia. Nah, bagi anda anda yang masih merasa punya ikatan dengan Tiongkok, harap diingat bahwa orang tua dan kakek anda sudah memilih jadi WN Indonesia. Buktinya apa? Mereka tidak naik kapal! Ya kan? Plus pada UU no 12 tahun 2006 juga sudah ditegaskan bahwa ada hukum positif di Indonesia yang menjadikan anda WN Indonesia dan memang saatnya bersikap sebagai WN Indonesia saja, tidak lebih. Kalau ada akar budaya ya anggaplah sebagai kekayaan budaya, bukan identitas yang memisahkan.

kata Soekarno pada 1 Juni 1945, “Saya saja tidak yakin saya asli mana!”Maka dari itu, berhentilah membeda bedakan

Karena itulah saya memutuskan untuk menjadi orang Indonesia saja, bukan orang Tiong Hoa, bukan orang Jawa, saya orang Indonesia saja.  Itulah pelajaran yang saya dapat selama pandemi Covid 19 ini. Menganggap diri saya sebagai orang keturunan Tionghoa itu membuat saya bingung dan merasa banyak ruginya. Pertama, secara antropologi-genetis-sosiologi, saya ini kayaknya emang bukan orang Tiong Hoa. Yang terdekat saya orang Hokkian dan definisi orang Hokkian bukanlah keturunan Tiong Hoa. Lalu, ada kemungkinan sangat besar bahwa nenek moyang saya ini orang Taiwan, bukan mainland. Jadi saya emang gak ada hubungannya dengan Tiongkok. Kedua, saya bukan WN Tiongkok dan saya gak ngerti sama sekali soal kehidupan di Tiongkok. Ngomongnya saja tidak bisa. Plus, sampai hari ini saya belum pernah mendapatkan apa apa dari Tiongkok. Beasiswa enggak, uang santunan juga nggak dan (apalagi) perlindungan dari mereka ketika saya jadi korban ancaman serangan berbau xenophobia hanya karena orang mengira saya ada hubungan dengan Tiongkok. Ketiga, jujur saya terbebani dengan label Tionghoa karena saya tidak boleh malas, tidak boleh bodoh dan tidak boleh miskin. Kalau orang susah lain dibantu, saya malah dihujat karena ada imej orang Tiong Hoa harus gina gini.

Makanya, daripada pusing ngomongin rasisme dan harus menjawab terus menerus kenapa saya (sebagai orang Tionghoa) matanya belo dan kulitnya gelap, saya putuskan saya kalau ditanya orang berasal darimana, ya saya jawab saya orang Magelang, letaknya di Jawa Tengah. Apa ras saya? Ya saya jawab orang Indonesia, soal nenek moyang saya darimana wah bingung saya karena saya kebetulan bukan Doktor Ilmu Sejarah dan gak ngerti gimana membuktikan yang sebenar benarnya. Lalu kalau ditanya kok masih mempraktekkan budaya Tionghoa? Saya akan jawab, lho kata siapa ini budaya Tionghoa? Kelihatannya aja mirip budaya Tionghoa. Siapa tahu ini budaya suku Amazon atau Sumeria juga saya gak tahu. Ya saya anggap saja sebagai kekayaan budaya, gak usah diambil pusing. Kalau ditanya soal serangan ke kaum keturunan Tionghoa? Wah, memang anda yakin yang anda serang keturunan Tionghoa? Bisa jadi itu orang keturunan Korea, Jepang, Thailand de el el (kalau kita runut sejarah nenek moyangnya). Lu pikir yang bisa naik kapal cuma orang keturunan Tionghoa? He..he.. Udahlah gak usah lagi benturin suku, agama, budaya dan luka batin di masa lalu. Secara hukum positif, ya kita WN Indonesia aja. Udah titik. Selain itu, ya hanya ‘perasaan’ anda saja karena gak ada landasan hukumnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here