Waktu Baca: 3 menit

Kita baru saja merayakan genap satu tahun COVID-19 masuk ke wilayah Indonesia. Virus yang bernama lengkap SARS-CoV 2 ini masuk ke Indonesia kira-kira pada pekan ketiga bulan Januari 2020. Tetapi informasi kasus positif COVID-19 baru dilansir pemerintah pada awal Maret 2020. Kita belum pernah memasuki pandemi gelombang kedua dan ketiga, karena gelombang pertama pun tak kunjung usai hingga hari ini. Dari bulan ke bulan media massa kita diwarnai berita tentang virus ini. Selama ini pula terjadi banyak perubahan pengetahuan tentang gejala, pencegahan, dan penanganan. Andaikata kita lacak berita dari hari ke hari, kita akan heran karena konsep tentang COVID-19 hari ini berbeda dengan setahun yang lalu. Sebetulnya masyarakat kita sudah lelah secara mental dengan situasi pandemi ini. Mari kita ulas mengapa kelelahan mental terjadi.

Konsep dunia ilmiah yang dibawa mentah-mentah ke dunia awam
Masyarakat ilmiah punya kerangka berpikir yang berbeda dari orang awam dalam melihat kebenaran dan informasi baru. Ada tuntutan bahwa informasi baru akan menjadi benar ketika sudah valid dan ajeg. Valid berarti bahwa apa yang dipikirkan memang sesuai dengan apa yang terjadi. Ajeg berarti informasi tersebut bunyinya akan sama di mana pun dan kapanpun. Persoalannya, ilmu tentang COVID-19 terus menerus berkembang dari hari ke hari. Setiap hari selalu ada artikel jurnal baru yang bicara tentang COVID-19. Seringkali isinya bisa bertentangan satu sama lain. Terlebih lagi temuan para dokter yang secara langsung berhadapan dengan pasien COVID-19, pendapat satu sama lain bisa berbeda. Seluruh perbedaan itu kemudian dilemparkan secara mentah-mentah ke masyarakat melalui media massa. Alhasil masyarakat saling bergunjing, memperdebatkan tentang gejala dan para penanganan. Ada beberapa hal tentang COVID-19 yang valid dan ajeg, yaitu soal protokol kesehatan : cuci tangan pakai sabun, gunakan masker dengan benar, jaga jarak, dan hindari kerumunan. Kapanpun dan di negara manapun, protokol kesehatan ini bunyinya sama. Malangnya, protokol kesehatan ini diabaikan oleh sebagian masyarakat kita yang sudah kelewat lelah mental karena menerima informasi COVID-19 yang simpang siur.

Tegangan kepentingan ekonomi dan kesehatan
Seluruh negara di dunia merasakan dampak ekonomi dari pandemi ini. Masyarakat kecil merasakan hantamannya, terutama bagi yang hidupnya bergantung dari keramaian, pariwisata, dan lalu lintas manusia. Sementara itu bila kerumunan masyarakat tidak dibatasi, angka kasus positif dan kematian karena COVID-19 bisa meroket. Dampak berikutnya, sistem kesehatan kita terancam kolaps, tidak mampu menangani luapan kasus COVID-19. Kita yakin bahwa semua orang ingin tetap sehat. Tetapi realitasnya, sehat saja tidak cukup. Orang juga butuh bisa makan setiap hari.

Dalil kesehatan berbunyi siapa yang tidak taat protokol kesehatan maka komunitasnya akan berrisiko terpapar virus. Dalil ekonomi berbunyi siapa yang tidak bekerja, maka ia tidak makan. Dalam situasi tegangan ini, orang akan lebih memilih mengutamakan kepentingan ekonomi. Kondisi menganggur tanpa penghasilan bukan hanya berdampak pada urusan ekonomi, tetapi juga berdampak pada urusan kesehatan fisik, kesehatan mental, dan kerentanan sosial.

Permainan istilah
Sepanjang masa pandemi kita sudah mengenal berbagai kosakata baru tentang pengaturan masyarakat, definisi kasus, dan protokol. Soal pengaturan masyarakat, kita mengenal kata Lockdown, Karantina Mandiri, Karantina Kewilayahan, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), dan yang terakhir PPKM Skala Mikro. Realitasnya, pergantian nama tidak banyak mengubah ritme harian masyarakat.

Soal definisi kasus, kita mengenal istilah Orang Dalam Pengawasan (ODP), Pasien dalam Pengawasan (PDP), Orang Tanpa Gejala (OTG), pasien positif, probable, pasien suspek, dan kontak erat. Masing-masing memang memiliki definisi operasional yang berbeda, dan dampak kebijakan yang berbeda. Tentu perubahan istilah ini juga terkait dengan kemajuan keilmuan medis tentang COVID-19. Tetapi persoalannya, mengubah pemahaman masyarakat tidak secepat mengubah istilah. Masyarakat cenderung memegang erat informasi pertama yang beredar. Ketika ada sosialisasi perubahan istilah, yang terjadi adalah masyarakat muak. Tentu yang dibutuhkan adalah tindakan penanganan yang konkret, bukan perubahan istilah semata.

Soal protokol, sepanjang setahun kita mengalami berbagai anjuran pemakaian masker yang silih berganti. Awal pandemi, semua orang diminta memakai masker; yang penting masker, soal bentuk dan bahan tidak dipermasalahkan. Berganti bulan, masker jenis buff dan scuba dipersoalkan. Ada pihak yang mengijinkan pemakaian masker kain dua lapis, ada yang meminta tiga lapis. Ini juga belum persoalan spesifikasi masker medis, makser N-95, dan masker KN-95. Ada pihak yang berpendapat bahwa masker medis diutamakan untuk tenaga medis, tetapi ada pula pihak yang berpendapat masyarakat umum boleh memakai masker medis. Kesimpangsiuran ini mungkin terjadi karena degradasi informasi dari satgas COVID nasional hingga ke tingkat aparat lokal yang langsung berhadapan dengan masyarakat. Informasi yang simpang siur, tidak tegas, dan tidak terpadu ini makin memupuk kelelahan mental masyarakat. Bagi orang yang memiliki prinsip kesehatan kuat, ia akan mengenakan masker dengan benar dan konsisten. Tetapi bagi yang tidak demikian, masker dipakai hanya ketika ada petugas yang mengawasi.

Perlunya penguatan mental masyarakat
Saat ini sangat diperlukan kekompakan pemerintah untuk mengatasi pandemi, mulai dari tingkat pusat hingga tingkat desa. Kekompakan tersebut cukup menjadi modal untuk meyakinkan masyarakat bahwa seluruh elemen bangsa bersama berjuang menyelesaikan pandemi. Strategi PPKM skala mikro mulai menunjukkan buahnya, dengan berkurangnya rerata angka kasus harian secara nasional.

Bila kita sudah menemukan solusinya, kini di hadapan kita sudah disuguhkan tantangan baru berupa varian baru COVID-19. Dua kasus varian mutasi Corona Inggris B117 sudah terdeteksi hadir di Indonesia hari kemarin (2/3). Gambaran singkatnya, varian mutasi Corona Inggris B117 ini mampu menular dengan lebih mudah dan lebih cepat dari yang sudah ada di Indonesia selama ini. Mampukah sistem kesehatan kita mengatasi varian virus ini?

Selamat ulang tahun, Coronavirus.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here