Barangkali mudah kita jumpai orang-orang yang berbicara atau menulis dengan diksi kata yang teknis, rumit, atau sok ilmiah. Mereka memilih memakai kosakata bahasa asing atau kosakata keilmuan, bukan karena tidak ada padanan kata dalam bahasa Indonesia, tetapi karena mereka ingin menunjukkan kepada publik bahwa mereka kaum terpelajar, kelompok yang tercerahkan. Ketika berpendapat, mereka akan berbicara berputar-putar hingga para pendengar merasa tidak paham serta menganggap si pembicara sebagai orang hebat. Bahkan kadang-kadang kosakata yang dipilih sebetulnya tidak pas, lantas dipaksakan supaya pas, menjadi suatu kata yang baru.

Kalau kamu merasa diri pernah menunjukkan kebiasaan tersebut, bertobatlah. Menggunakan diksi kata yang rumit tidak akan membuat diri mu tampak lebih cerdas. Alih-alih tampak cerdas, justru orang akan menilaimu sebagai pribadi yang membingungkan.

Sampai detik ini, lingkungan masyarakat kita yang masih mengagung-agungkan pangkat, kedudukan, dan titel pendidikan. Saking takutnya gagal meraih itu semua, orang lantas menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan kebanggaan itu semua. Ini mulai dari yang paling berat jual beli jabatan, beli ijazah, hingga yang paling sederhana, bersikap sok intelek dengan permainan kata.

Sementara itu dalam dunia akademik yang sejati, orang bisa dianggap luar biasa ketika ia mampu menterjemahkan hal-hal keilmuan yang rumit menjadi bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam. Seorang doktor atau bahkan professor belum hebat kalau belum mampu menjelaskan isi pikirannya kepada anak-anak, dan bisa dipahami. Bagi yang masih pemula dalam dunia akademik, umumnya justru bangga dengan penggunaan istilah-istilah sulit.

Saya teringat pada hari-hari berkuliah di jurusan Psikologi, baik di tingkat sarjana maupun master. Acapkali lingkungan saya memakai istilah-istilah asing, meskipun saya tidak belajar di kelas International Undergraduate Program (IUP). Ada kalanya memang istilah itu tidak ada padanan kata yang cocok dalam bahasa lokal. Misalnya istilah Priming, Fixation, Probing, Building Rapport, Self-esteem, well-being. Tetapi di sisi lain  banyak juga pilihan kata bahasa asing yang sebetulnya tidak perlu dipakai. Misalnya which is, template, edit, outline, guidance, problem, break, atau maintain. Awalnya saya merasa kagum dengan penggunaan diksi tersebut. Tetapi lama kelamaan saya menyadari bahwa kebiasaan itu tidak tepat. Hal terberat adalah ketika saya harus bertemu dengan masyarakat umum dan menjelaskan konsep-konsep keilmuan. Ketika di dunia kampus terbiasa memakai istilah asing, sulit rasanya untuk mengubah diksi menjadi bahasa Indonesia yang mudah dipahami. Kalau masyarakat tidak paham tentang apa yang saya sampaikan, berarti misi edukasi gagal, sekalipun materinya mungkin sangat sederhana.

Satu kali saya menemukan seorang profesor yang mengajar anak-anak. Di dunia akademik, posisi professor sangat dihormati. Tidak ada yang berani membantah pendapatnya, apalagi ketika berkaitan dengan ilmu yang ia dalami. Apapun ucapannya, semua dianggap benar. Mahasiswanya harus paham; bila tidak paham berarti yang salah atau tidak siap adalah mahasiswanya. Tetapi ketika sang professor bertemu anak-anak, situasinya bisa berubah. Hebatnya, professor ini bisa mengajar anak-anak, dan mereka tertarik pada ceritanya. Ia tidak menggunakan istilah-istilah yang rumit agar anak-anak bisa memahami. Gambaran inilah yang disebut sebagai orang hebat. Ia bisa mengubah konsep rumit ke dalam bahasa yang mudah, bahkan anak-anak pun paham.

Lain waktu saya menjumpai seorang mahasiswa yang berpendapat dengan berapi-api pada sebuah forum diskusi. Ia menggunakan berbagai diksi kata yang ilmiah dalam penjelasannya. Para pendengar merasa kagum dengan pendapat itu, seolah seperti ada teori baru. Tetapi si mahasiswa ini baru  menjalani kuliah semester kelima. Ia tahu tentang teori yang baik, tetapi ia tidak tahu mengapa teori itu dihasilkan, dan apa saja antithesis dari teori tersebut. Bagi saya, mahasiswa ini tidak hebat. Ia hanya menceritakan secara mentah-mentah apa yang ia dengar di ruang kelas, tanpa mengolah kembali secara matang.

Orang-orang yang menggunakan diksi ilmiah yang rumit dalam sebuah percakapan, sama sekali tidak menunjukkan kompetensinya. Ia hanya mengungkapkan sebatas yang ia tahu, ia baca, atau ia dengar di lingkungan akademik.

Kalau kita mau dihargai dan diakui kompetensinya, justru kita harus berlatih menjelaskan hal-hal rumit menjadi hal yang sederhana, bukan malah menambah kompleksitas karena pilihan kata yang sulit dipahami.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here