Waktu Baca: 4 menit

Jaman sekarang orang makin dipermudah untuk kuliah S2. Tawaran beasiswa bertebaran, kampus yang membuka program studi S2 pun makin menjamur. Sejauh orang memiliki kompetensi cukup, beasiswa bisa diraih. Pemerintah banyak membuka kesempatan orang muda untuk mengakses beasiswa, demikian pula dengan lembaga-lembaga non pemerintah. Bahkan dari kampus pun juga menawarkan beasiswa bagi yang berprestasi.

Sekarang lebih dari separuh mahasiswa magister adalah fresh graduate dari S1, baik yang baru 1-2 tahun lulus, atau bahkan yang baru menerima wisuda sarjana lantas lanjut studi magister. Dulu orang studi magister karena memang mau menjadi dosen, peneliti di lembaga riset, atau mungkin pemangku kebijakan publik. Ada juga yang sudah bekerja belasan tahun lantas studi S2, karena terkait kenaikan pangkat pekerjaan. Tetapi sekarang, lulusan S2 bertebaran, bahkan banyak yang menganggur. Pertanyaannya, lantas untuk apa seorang sarjana fresh graduate langsung lanjut studi magister ?

Dengan berbagai alasan, ada 2 kelompok motivasi. Pertama adalah motif kebutuhan dan passion. Kedua adalah motif memanfaatkan waktu. Beberapa disiplin ilmu, terutama yang menyangkut keprofesian, memang perlu basis kompetensi S2. Sebutlah misalnya ilmu kenotariatan hukum, profesi psikologi, dan dokter spesialis. Tanpa titel magister akan sulit, karena pekerjaannya memerlukan legalitas yang diraih dari proses studi S2. Di luar disiplin ilmu keprofesian, ada juga fresh graduate melanjutkan studi S2 karena memang passion di bidang itu. Pada saat fresh graduate ini memutuskan untuk studi lanjut, sudah ada kepastian aktivitas kerja jangka panjang. Tetapi karena perlu pendalaman ilmu, maka ia memilih studi lanjut. Kerja dalam konteks ini tidak berarti suatu pekerjaan yang tetap dan menghasilkan uang, tetapi aktivitas kerja yang sudah pasti akan dia lakukan untuk jangka panjang, dan sudah dimulai bahkan sebelum lulus sarjana. Misalnya, sebagai peneliti lepas, seniman, atau pengusaha startup. Disiplin ilmu yang diambil bisa linier dengan studi S1, bisa juga lintas jurusan. Ini semua tergantung kebutuhan dan passion. Sangat mungkin seorang fresh graduate dokter mengambil studi master di bidang seni, karena ia memiliki passion di bidang seni. Seorang freshgraduate sarjana bidang filsafat bisa saja langsung studi lanjut magister filsafat, karena ia digadang-gadang menjadi dosen. Kalau dalam bahasa online shop, ini seperti pre-order dosen. Umumnya mereka memiliki indeks prestasi yang tinggi, dan kelihatan sebagai mahasiswa cerdas. Kalau kemudian ia menjadi dosen, tidak banyak teman yang heran.

Pada kelompok motif yang kedua, yang studi lanjut karena memanfaatkan waktu, kebanyakan dari mereka dibayang-bayangi pemikiran bahwa dengan menjadi lulusan magister akan lebih mudah mencari pekerjaan. Atau ketika setelah wisuda mereka berupaya mencari pekerjaan, ternyata tidak kunjung mendapat panggilan wawancara. Atau ketika setelah studi S2 mereka berharap setidaknya bisa menjadi dosen. Faktanya, jarang perusahaan mau merekrut lulusan S2 dan memberi kompensasi yang sesuai. Kalau pun ada, maka kompensasinya tidak jauh beda dengan lulusan sarjana. Lulusan S2 yang dibutuhkan perusahaan adalah yang memiliki pengalaman kerja manajerial yang mumpuni. Pertanyaannya, dari mana fresh graduate bisa memiliki pengalaman kerja manajerial yang cukup ? Tidak mungkin.
Akhirnya karena kondisi terhimpit, fresh graduate S2 mau mengambil posisi pekerjaan yang sama seperti fresh graduate S1, dengan kompensasi yang sama pula. Daripada tidak bekerja, lebih baik kerjakan apa yang ada, kan ?

Harapan menjadi dosen juga perlu dipertimbangkan ulang. Jumlah lulusan S2 tidak sebanding dengan lowongan formasi dosen di berbagai kampus. Bicara kompensasi sebagai dosen, juga tidak selalu tinggi sebagaimana yang dibayangkan. Pekerjaan sebagai dosen perlu diimbangi dengan produktivitas penelitian. Kesejahteraan bisa didapat melalui proyek-proyek penelitian. Tanpa itu, hidup bisa nelangsa. Orang tidak selamanya bisa hidup idealis dengan passion mendidik orang muda di kampus. Persoalannya, hanya sedikit mahasiswa S2 yang benar-benar memiliki passion menjadi peneliti. Jangankan bicara tesis, review jurnal saja banyak mahasiswa S2 yang mual kok. Bila menjadi dosen dengan jam mengajar sedikit, take home pay bisa mepet dengan UMR. Maka ada benarnya kelakar jaman dulu, dosen itu pekerjaan satu doos, upah satu sen. Oleh karena itu jangan terlalu bermimpi menjadi dosen bila tidak cukup betah bergelut di bidang riset.

Bagi kelompok orang yang studi S2 untuk killing time,  dan tidak disertai dengan semangat penelitian yang cukup, maka masa-masa kuliah bisa jadi tidak menyenangkan. Kalau orang sudah pusing dengan pembahasan sitasi, teori-teori, metode penelitian, perdebatan soal hasil riset, maka proses S2 menjadi tidak nyaman. Tidak banyak yang diharapkan selain selembar ijazah.

Bagi mereka yang senang dengan dunia riset, studi S2 akan terasa menyenangkan dan menantang. Tiap hari bisa ikut zoominar sana-sini, diskusi dengan dosen, banyak mengamati artikel jurnal, dan dengan enteng membuat artikel jurnal lewat riset sederhana. Mereka akan siap berbicara di publik mengungkapkan temuan riset mereka, siap pula berdebat tentang dunia riset. Kalau dari aktivitas itu lantas ada kampus yang meminang mereka jadi dosen, anggaplah itu sebuah bonus.

Ada juga kelompok motif yang memanfaatkan masa muda untuk studi S2 karena adanya fasilitas. Lulus sarjana masih di usia 22-23 tahun, orangtua masih mampu membiayai studi lanjut, so mari belajar saja. Perkara setelah lulus S2 mau jadi apa, itu dipikirkan nanti. Dengan situasi ini orang bisa nothing to lose, tidak takut rugi apapun. Lulus S2 di usia 25 tahun rasanya masih cukup fleksibel untuk mencari pekerjaan yang diminati. Kalaupun pekerjaan yang didapat tidak sesuai dengan ijazah magister, tidak apa-apa. Pengalaman studi magister bisa jadi sarana untuk memperluas jejaring pertemanan.

Jangan menyangka bahwa kuliah itu melulu perkara mencari kompetensi akademik. Tempat kuliah juga sangat menentukan siapa dan seberapa luas jejaring relasi yang didapatkan. Hal yang membanggakan selama kuliah S2 adalah ketika tahu bahwa di kelas ada mahasiswa yang aslinya adalah pejabat, orang penting, atau orang yang punya potensi untuk dijadikan kolega bisnis. Bisa juga kebanggaan muncul karena dosen yang mengajar adalah tokoh hebat yang bisa menjadi mentor di bidang akademik. Mahasiswa akan bangga ketika bisa menyusun artikel jurnal, dengan tambahan nama dosennya sebagai tim penulis. Apalagi kalau dosen itu professor ahli di bidangnya.  Relasi mahasiswa dan dosen tidak melulu perkara akademik. Bisa juga berujung pada peluang pekerjaan.

 

Jadi bagaimana para fresh graduate, mau studi lanjut S2 untuk menjawab passion, atau untuk killing time ?

2 KOMENTAR

  1. Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia ada di angka 19%, itu menurut ILO di tahun 2017.Tertinggi kedua setelah Brunei. Asumsi saya saat inipun tidak berbeda jauh. Yang terjadi adalah mismatch antara ketrampilan yg dimiliki si freshgraduate ini dengan butuhan di sektor swasta. Mau kuliah sampe S2 pun jurang mismatch ini gak akan terselesaikan. Ini terjadi mulai dari level pendidikan di tingkat SMA. Mau lebih detail, kita bisa diskusi mas..

    Salam
    Menic JB 93

    • Terima kasih tanggapannya, mas Menic.
      Benar. Dasar problem pendidikan kita adalah orang tidak tahu tujuan pendidikan. Pokoknya ngikut apa yang jadi kebiasaan orang sekitar. Sementara dunia kerja berubah cepat.
      Hasilnya ya beginilah…. Sekolah karena kebiasaan, bukan karena kebutuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here