Waktu Baca: 3 menit

Sebuah video viral karena rombongan pengguna motor sport (yang sebetulnya kategorinya bukan moge – motor gede) melintasi Jalan Veteran III, persis di belakang Istana Negara Jakarta pada hari Minggu pagi (21/2). Kebetulan pada saat itu jalan sekitar istana sedang ditutup untuk kepentingan proses instalasi pengamanan VVIP. Meskipun jalan sudah ditutup dengan water barrier, namun rombongan pemotor nekat menerobos jalan. Paspampres yang bersiaga di sekitar istana dengan senjata lengkap lantas menghadang rombongan pemotor dan menendang salah satu motor. Beberapa pengendara lantas berbalik arah.

Mari kita ulas kasus ini dengan tiga sisi : arogansi, ketaatan berlalu lintas, dan hasrat untuk viral.

Juniar William dalam rekaman video ingin menunjukkan bahwa mereka (rombongan pemotor) adalah korban arogansi paspampres, karena merasa tidak ada pemberitahuan apapun tentang larangan melintas di jalan sekitar istana. Ternyata pada kasus ini, yang dikecam netizen bukanlah tindakan paspampres, tetapi justru  Juniar yang membuat video tersebut. Padahal awalnya Juniar berharap video tersebut viral dan ia mendapat dukungan moral dari netizen.

Arogansi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arogansi sama dengan keangkuhan atau kesombongan. Lebih dalam lagi, arogansi merupakan  sikap superioritas yang diwujudkan dengan cara sombong atau dengan klaim yang lancang. Dalam arogansi, ada pihak yang dianggap superior dan ada pihak yang dianggap inferior. Arogansi biasanya diwujudkan dengan simbol-simbol, baik benda maupun tindakan seseorang. Karena sifatnya simbolik, maka pesan-pesan arogansi tidak selalu bisa dipahami secara universal. Ada yang pro, dan ada yang kontra.

Persoalan arogansi di jalanan sebetulnya lebih mudah ditemukan. Arogansi tidak melulu dilakukan oleh orang yang vokal dan keras kepala. Bahkan orang yang sebetulnya lemah lembut bisa saja menunjukkan superioritasnya lewat pilihan tindakan. Misal : memilih kendaraan yang volume mesinnya besar dan akselerasi kencang, sementara jalan raya di Indonesia tidak didesain untuk kendaraan berkecepatan tinggi dan mesin bervolume besar. Bisa juga orang memilih memasang knalpot yang menghasilkan suara kencang, meskipun sebetulnya ia bisa memilih menggunakan knalpot dengan peredam suara. Pesan simbolik yang mau diungkapkan adalah “kendaraanku lebih hebat dari milik kalian”.

Arogansi bisa juga ditunjukkan oleh aparat keamanan dengan melakukan tindakan represif kepada mayarakat, yang semestinya bisa dilakukan dengan pendekatan komunikatif. Tetapi sayangnya dalam kasus Juniar William, arogansi aparat tidak terbukti karena ternyata tindakan paspampres yang menendang pengendara motor adalah tindakan di  bawah standar protap paspampres. Seandainya paspampres menggunakan protap, bisa jadi para pengendara yang menerobos ring 1 akan ditembak karena dianggap membahayakan wilayah.

Ketaatan lalu lintas
Perilaku rombongan pengendara motor yang nekat menerobos jalan verboden (bahkan sudah ditutup dengan water barrier!) sebetulnya bukan merupakan hal luar biasa. Masyarakat kita lekat dengan ketidaktaatan berlalu lintas. Menerobos palang pintu kereta api yang tengah ditutup, berkendara melawan arus lalu lintas, berkendara melalui jalur busway, parkir sembarangan, berkendara motor tanpa helm standar, dan menerobos lampu merah merupakan hal-hal yang mudah kita jumpai sehari-hari. Perilaku paling konyol adalah ketika melihat tanda bahwa jalan sedang ditutup, orang tetap nekat menerobos demi membuktikan apakah benar jalan ditutup, dan mengapa jalan ditutup. Ya, sikap ngeyel akan memaksa orang untuk berbalik arah setelah membuktikan bahwa jalan benar-benar sedang ditutup sementara. Sialnya bagi rombongan Juniar William, mereka baru mau berbalik arah setelah dipaksa paspampres melalui penghadangan dan tendangan ke motor.

Hasrat untuk viral
Sejak era industri digital, orang memiliki hasrat baru, yaitu ingin terkenal dan viral di media sosial. Hasrat ini tidak muncul 20 tahun lalu. Dulu orang baru akan memiliki hasrat ingin terkenal bila memiliki akses publikasi di televisi, radio, atau surat kabar. Kini setiap orang bisa memunculkan hasrat untuk viral dari layar ponsel masing-masing. Viralitas bisa diperoleh dari produk tulisan, gambar, atau video yang ia buat. Ada orang yang bisa viral dengan cara yang baik, tetapi ada pula yang viral karena hal yang tidak baik. Kalau dalam Bahasa Inggris terdapat dua istilah yang tepat untuk menggambarkan keinginan tersebut : famous dan infamous.

Hasrat untuk viral berangkat dari kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan untuk diakui. Setiap orang pasti ingin mendapat pengakuan dari publik atas apa yang sudah ia lakukan. Arah pengakuan tersebut umumnya adalah untuk memperoleh pengakuan publik bahwa dirinya lah yang benar. Sementara di saat yang sama ada pihak lain yang dianggap tidak benar. Bahkan dalam situasi orang sedang mengakui kesalahannya pun, (misal pada kasus Nissa Sabyan & Ayus), sebetulnya terkandung unsur keinginan untuk dibenarkan. Targetnya adalah orang mendapatkan penilaian public bahwa dirinya adalah orang baik, saleh, dan rendah hati.

Secara alami orang memiliki kebutuhan untuk diakui eksistensinya, ingin diakui kebenaran tindakannya, ingin hasil karyanya diakui publik. Betapa bangganya kita bila kita mendapat apresiasi besar dari publik, kita mendapat dukungan moral dari publik atas pendapat kita. Tidak ada yang keliru dari kebutuhan ini. Yang menjadikan keliru adalah pilihan cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Seringkali orang tidak memperhitungkan dampak negatif dari tulisan, foto, dan video yang ia buat. Orang belum memberikan waktu yang cukup untuk mempertimbangkan risiko sebelum posting di media sosial. Kalau dalam video yang dibuat Juniar William, jelas terungkap bahwa ia ingin videonya menjadi viral. Artinya viralitas terjadi tidak secara alami, tetapi sengaja dan by design. Sialnya, viralitas itu berbalik arah menyerang dirinya.

Belajar dari kasus ini, semestinya kita makin selektif mengambil pilihan tindakan untuk menghindari arogansi. Tidak setiap tindakan aparat adalah bentuk arogansi. Jangan-jangan dari pihak kita masyarakat yang ingin menunjukkan arogansi. Kita juga perlu mengendalikan hasrat untuk viral, agar konten viral tersebut bermanfaat untuk masyarakat dan berdampak baik pada diri kita. Jangan sampai maksud kita untuk menjadi famous, malah terpeleset menjadi infamous.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here