Waktu Baca: 3 menit

Beberapa sekolah memiliki cerita hantunya, namun sekolah yang satu ini memiliki kisah mistis yang ‘next level’.

            Suatu hari saya dan Marco bercerita mengenai sebuah sekolah L di sebuah kota kabupaten di Jawa Tengah. Kami berdiskusi mengenai betapa terkenalnya sekolah itu. Banyak muridnya yang berasal dari luar kota. Konon, selebritispun ingin bersekolah di sana. Sekolah yang luar biasa. Hingga kemudian pembicaraan kami ngalor ngidul ke satu titik: keanehan sekolah itu.

“Hampir 2-3 tahun sekali, terjadi kematian di sekolah itu,” kata Marco pada saya.

“Oh ya?” kata saya penasaran.

“Iya, kematiannyapun kebanyakan karena kecelakaan. Bukan karena sakit,” kata Marco.

“Kok bisa ya?” tanya saya.

Ilustrasi : Sekolah yang lama ditinggalkan dan kembali pada ‘alam’.

“Orang yang ingin melogis logiskan hal ini akan berkata: wajar saja lha wong banyak truk dan kendaraan lewat di daerah itu. Tapi kan ada beberapa sekolah lain di sekitar SMA L itu. Kenapa korbannya banyak dari SMA L?”

“Ah itu saya gak tau juga Marco.”

Marco mengatakan bahwa dalam sisi mistis, ada alasan kenapa banyak siswa sekolah L menjadi korban kecelakaan. Salah satunya adalah karena tanah yang digunakan tanah keramat dan si pembangun sekolah belum meminta izin pada si ‘pemilik tanah’.

“Sekolah L itu adalah yang paling tua dibanding sekolah lain di sekitarnya. Ia sudah ada semenjak 100 hingga 150 tahun yang lalu. Sangat tua. Pada zaman itu, orang Belanda belum mengenal syukuran ataupun izin pada si pemilik tanah. Lagipula, seandainya dikasih tahupun, pemerintah kolonial Belanda gak percaya dengan hal hal begitu,” kata Marco. “Tapi menurutku itu fatal, setiap mahluk ingin dihormati. Kalau tanahnya diganggu ya si empunya tanah marah.”

“Marahnya dengan meminta tumbal?” tanya saya.

“Bisa jadi,” kata Marco. “Kalau mahluk halus kan ya kalo kesal ya begitu.”

“Tapi gimana caranya Co? Yang meninggal kan kebanyakan mengalami kecelakaan lalu lintas?”

“Mahluk halus itu pintar mengaburkan pandangan, mengganggu pikiran dan banyak serangan serangan psikologis lainnya,” kata Marco. “Dia gak bisa mencekik kamu, tapi dia bisa membuat kamu pengen lompat dari gedung.”

Wah.

            “Tapi Co, tumbal itu buat apa?”

“Ya, buat dia seneng aja. Balas dendamlah istilahnya. Rumahnya udah diambil, dia gak leluasa lagi. Bunuh satu-dua orang cukup buat dia puas.”

“Kok begitu ya?”

“Iya begitu. Dulu pada zaman kolonial, pas zaman kerja paksa, bangun jembatan nih. Konon ya banyak pembangunan yang sengaja numbalin orang duluan dan itu dilakukan orang setempat. Kenapa? Ya mending satu mati daripada banyak yang mati. Tapi kalau orang Belanda enggak, bangun ya bangun aja dan dampak negatifnya adalah banyak kematian di belakangnya.”

“Waduh, lalu bagaimana solusinya?”

Marco lalu menceritakan lebih lanjut tentang pemikirannya. Kebetulan, meski dia orangnya agak kayak SJW, tapi dia masih religius. Dia bilang bahwa berserah pada Tuhan adalah langkah terbaik.

“Kamu pasti gak percaya ini keluar dari mulutku, tapi kekuatan yang lebih besar dari mahluk halus yang marah ya Tuhan,” kata Marco. “Makanya kamu punya iman harus kuat!”

“Gimana caranya aku punya iman yang kuat? Kamu mau bilang kalau yang jadi korban si mahluk halus gak pernah berdoa begitu?”

“Bukan! Iman itu konsepnya bukan sering seringan doa tapi bagaimana cara kamu berserah pada yang Maha Kuasa.”

“Co, coba pake bahasa yang praktis!” kata saya sewot.

“Iman itu sederhananya begini: kamu belum tahu ujungnya nih, tapi kamu percaya!” kata Marco. “Kamu percaya Tuhan bakal lindungin kamu. Semakin besar rasa percayamu pada Tuhan, semakin besar peluang kamu selamat.”

“Itu kayaknya lebih mudah diterima.”

“Sama kayak kutukan sekolah tumbal itu. Gak mungkin kan kita mau rubuhin sekolah itu? Sudah gila apa? Begitu kata orang kalau kita minta sekolah itu diambrukin. Peninggalan Belanda itu coy, masuknya udah cagar budaya. Kalaupun kita kasih sesajen, selametan, juga belum tentu si mahluk penunggu mau berdamai. Kalau misalnya, ya udah nih, aku punya anak, mau aku masukkin sekolah yang gak ada penunggunya, gimana caranya? Kita kan gak tahu sekolah mana yang ‘aman’ dan ‘enggak’, namanya mahluk halus karakternya beda beda. Ada juga tempat mahluk halus yang baik baik saja meski nggak dikasih selametan, tapi ya ada yang brengsek men,” kata Marco. “Jadi cara terbaik untuk survive ya tetep sekolah dan perkuat iman. Karena ‘kan enggak mungkin kamu gak sekolah juga ‘kan?”

Aku mengangguk angguk.

“Nah gitu deh, seruput dulu kopinya,” kata Marco sambil menirukan salah seorang aktivis sosial. Dia lalu tertawa terkekeh kekeh.

Kesimpulannya? Kita tidak pernah tahu sekolah mana yang ‘aman’ dari mahluk halus. SMA L bukan satu satunya sekolah yang memiliki ‘penunggu’ yang berbahaya. Pada akhirnya, hanya imanlah pelindung terbaik kita.

 

Urban Legend bukan merupakan produk jurnalistik. Kebijaksanaan pembaca diharapkan dalam menerima informasi dari Urban Legend. Ilustrasi hanya merupakan gambaran, bukan menunjukkan lokasi sesungguhnya. 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here