Waktu Baca: 4 menit

Serial ‘WandaVision’ telah berakhir Jumat kemarin. Jujur, baik penikmat film Marvel maupun yang bukan akan mencintai (kata menyukai terlalu sederhana, sumpah!) serial ini. Banyak hal positif dari ‘WandaVision’, namun saya kira akan lebih menarik membahas apa yang saya benci. Sebelum membaca, ingat, Spoiler Alert!

            Kalau ditanya, momen apa yang paling saya suka dari WandaVision, saya akan mengatakan ketika villain utama, Agatha Harkness akhirnya memanggil Wanda dengan panggilan, ‘Scarlet Witch’. Bagi penggemar film Marvel yang telah mengikuti perjalanan MCU, tentu tahu bahwa Wanda Maximoff tidak boleh dipanggil dengan nama ‘Scarlet Witch’ selama bertahun tahun. Hal ini terjadi karena hak cipta nama ‘Scarlet Witch’ ada di Fox Studios selaku pemilik waralaba ‘X-Men’. Namun, kita semua tahu akhirnya bahwa Disney selaku induk MCU berhasil membeli Fox pada Maret 2019 dengan nilai 72 Milyar Dollar Amerika Serikat. Hal ini memungkinkan ‘X-Men’ bergabung dengan MCU. Nah, setelah dua tahun sejak kesepakatan itu, kita mendapatkan sedikit petunjuk dari unifikasi itu dengan dipanggilnya Wanda sebagai ‘Scarlet Witch’.

                  courtesey : Marvel Studios

Itu baru satu momen. Momen lain yang saya suka adalah ketika Wanda akhirnya mengenakan kostum kebesarannya. Iya, selama ini Wanda dalam MCU tidak bisa mengenakan kostum kebesaraannya karena masalah hak cipta. Wanda dalam kostum orisinal khas komiknya terlihat gagah dan menarik. Bagi yang mengikuti MCU sejak ‘Age of Ultron’, momen Wanda menggunakan kostum kebesarannya bak ratu yang ditahbiskan.

Akankah Wanda menjadi pusat dari MCU di Phase 4? Bisa jadi, sebab setelah memukau di ‘WandaVision’, Wanda/Scarlet Witch akan tampil lagi di ‘Multiverse of Madness’. Seperti kita tahu, ‘Multiverse’ adalah salah satu konsep dalam pengembangan cerita di MCU. Kita akan bertemu ‘Iron Man’ baru, ‘Spiderman’ baru atau bahkan alur cerita baru yang sama sekali unik. Dan untuk saat ini, tampaknya Wanda adalah kunci untuk membuka ‘Multiverse’.

Namun, sebelum jauh melangkah, mari kita kembali ke fokus pada apa yang saya benci dari ‘WandaVision’. Wajar sajalah ada yang saya suka dan saya benci. Jika bicara soal benci, ada beberapa hal yang tidak saya suka dari ‘WandaVision’. Hal itu dimulai dari karakter sampai pengembangan cerita. Maaf, ini tetap karya yang luar biasa tapi ada beberapa hal yang memang harus dikritik.

Yang pertama adalah villain Tyler Hayward. Bagi saya, sudah terlalu banyak Marvel menggunakan metode bahwa ‘musuh ada di organisasi sendiri’. Tyler adalah direktur dari S.W.O.R.D, sebuah organisasi semacam S.H.I.E.L.D . Sama seperti villain  Alexander Pierce, mereka ada di posisi tinggi dan ternyata mereka berada di pihak yang hitam. Secara logika, hal ini sulit saya terima. Sejak kejadian dalam ‘Winter Solider event’, saya berharap Pemerintah Dunia (atau Amerika Serikat?) setidaknya belajar dari kesalahan saat memilih pemimpin mereka. Nyatanya mereka tetap dengan bodohnya menunjuk sosok abu abu yang nantinya malah memberikan masalah untuk mereka.

Lanjut, hal yang saya benci kedua dari ‘WandaVision’ adalah stereotyping kisah masa lalu Wanda yang menurut saya basi. Warga dunia ketiga dari era Perang Dingin, belajar Bahasa Inggris karena alasan yang ‘gak masuk akal’, menjadi korban kesialan perang dan kemudian menjadi jahat/baik. Ini cerita yang klise Hollywood. Dari penggalian masa lalu Wanda, hampir 80%nya klise dan membuat tempo serial ini menjadi agak membosankan. Meski pada akhirnya pengungkapan misteri kehadiran Vision di scene masa lalu menyelamatkan ‘WandaVision’ dari momen dull ini.  Oke lah kita akhirnya tahu darimana seluruh sitcom ini berasal dan mendapat gambaran sekilas dari ‘Scarlet Witch’, tapi saya rasa tidak perlu menggunakan metode narasi yang klise dan membosankan.

Hal yang saya benci ketiga dari WandaVision adalah Finale yang menurut saya MCU banget. Penuh dengan ledakan dan aksi aksi memukau bak di film. Ketika melihat Finale dari WandaVision saya langsung berujar, ‘Wah, ini sih sudah standard film!’. Disney dan Marvel Studios nampaknya tidak menahan diri untuk mendeliver aksi memukau dan kuat dalam Finale WandaVision. Namun apakah itu yang saya butuhkan? Saya kira tidak. Saya sebenarnya tidak mengharapkan Finale yang terlalu gegap gempita. Saya justru menginginkan momen sederhana, tidak usahlah berlebihan, namun cukup emosional. Wanda Vision memiliki banyak momen emosional dan mengejutkan, tapi pertarungan epik yang terjadi sebenarnya bisa disesuaikan dan tak perlu memakan durasi yang lama walaupun harus diakui koreografi dan efek komputernya memukau. Masalahnya, mengakhiri kisah dengan pertarungan epik itu klise sekali.

Hal terakhir yang saya benci adalah….Ah, sudahlah, kita semua tahu betapa kesalnya kita dengan satu nama : Ralph Bohner. Iyes, kita berharap banyak pada karakter yang itu. Tapi kita diberitahu bahwa akhirnya ia hanya seorang pria dengan nama komedik. Kecewa? Banget. Apalagi set up yang diberikan sudah cukup kuat, namun penonton dibohongi. Ini sama besarnya dengan kekecewaan saat aktor sekelas Ben Kingsley diperlakukan dengan tidak hormat dalam ‘Iron Man 3’. Ralph Bohner adalah prank yang gak lucu dari ‘WandaVision’. Tapi saya masih berharap bahwa karakter Ralph pada satu titik menunjukkan jati dirinya dan menjadi seseorang yang, well, sangat kita harapkan.

Pada akhirnya itulah empat hal yang saya benci dari ‘WandaVision’. Tapi sejujurnya saya hanya benci dua faktor, yang lainnya hanya tidak suka saja. Artinya saya masih bisa menerima sih meski rada rada dongkol. Kesimpulan akhirnya: WandaVision’ adalah sebuah serial yang unik dan berani dari Marvel, tapi masih terjebak dengan keputusan konyol dan ‘klise’ ala film superhero.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here