Waktu Baca: 4 menit

Apa itu realita? Secara sederhana, realita adalah apa yang benar benar ada dan nyata. Sederhana sekali ‘kan? Namun hal itu tak berlaku bagi Manabu Ito, salah satu tokoh dalam film Homunculus (2021). Ia percaya bahwa realita itu abu abu dan sesuai keinginan kita. Ia sangat termotivasi untuk membuktikan hal itu. Maka dari itulah ia melakukan eksperimen pada seorang tunawisma bernama Susumu Nokoshi. Eksperimen yang ia lakukan terbilang ekstrim, ia melubangi tengkorak Susumu untuk membangkitkan mata ketiga dari Susumu dalam operasi yang disebut Trespanasi. Hasilnya luar biasa, ketika Susumu menutup mata kanannya, ia bisa melihat bentuk distorsi dari manusia lainnya. Bentuk distorsi itu bisa berupa robot Gundam, manusia pasir, manusia gepeng dan seterusnya.

Awalnya Susumu mengira ia bisa melihat alien. Tapi Ito melihat bahwa distorsi ini memiliki arti yang lebih sederhana. Distorsi inilah yang disebut Ito sebagai ‘Homunculus’, manusia kecil yang hidup di setiap diri manusia dan merefleksikan siapa sebenarnya manusia itu mulai dari kepribadian hingga luka batinnya. Kebenaran Homunculus ini lalu direfleksikan manusia real dalam bentuk tingkah laku, sifat dan perilaku sehari hari. Artinya, kalau Homunculus berubah maka manusiapun otomatis berubah.

Seseorang yang mampu melihat Homunculus bisa merubah sifat orang itu bahkan menyembuhkan luka batinnya. Susumu tiba tiba berubah menjadi seorang cenayang. Ia merubah sifat seorang Yakuza yang memiliki luka batin masa kecil menjadi lebih penyayang. Ia juga merubah seorang gadis pekerja seks menjadi pribadi yang lebih baik. Semua itu tidak dilakukan dengan ceramah powerful ala Mario Teguh maupun kasih sayang yang karismatik. Semua semata mata dilakukan hanya dengan merubah Homunculus dari si manusia manusia bermasalah itu. Cara merubahnyapun sederhana. Hanya lewat sentuhan. Lewat omongan omongan sederhana dan sebagainya. Susumu benar benar menjadi ‘manusia super’. Namun di tengah jalan, ia mempertanyakan banyak hal. Kenapa perlahan lahan bentuk Homunculusnya sendiri berubah? Kenapa bagian Homunculus dari orang orang yang ia tolong menjadi bentuk Homunculusnya? Apa yang terjadi pada dirinya? Apakah yang ia lihat benar benar kenyataan?

Di sinilah Ito justru malah menantang Susumu. Jangan jangan, yang dilihat Susumu selama ini tidak nyata. Susumu hanya berhalusinasi. Jika kemudian ia bisa menyentuh orang dan membisiki orang lalu merubah kepribadiannya, itu semua hanya kebetulan karena sugesti. Benarkah demikian? Untuk mengetahui kebenarannya, tonton sendiri filmnya di Netflix.

Saya malah lebih tertarik berbicara mengenai teori bahwa realita adalah kenyataan yang dikonstruksikan oleh keinginan kita. Pernah dengar ‘The Secret’? Sebuah teori fenomenal yang mengatakan bahwa hanya dengan menginginkan sesuatu dengan sungguh sungguh, maka kita akan mendapatkannya. Salah satu praktik teori itu adalah ketika anda membutuhkan tempat parkir di mall dan tidak mendapatkannya, maka anda tinggal berkeinginan luar biasa. Niscaya anda akan mendapatkan tempat parkir itu. Benarkah demikian?

Banyak yang mempraktekan dan nyatanya berhasil tuh. Tapi ada juga yang skeptis dan mengatakan ah itu hanya kebetulan saja. Saya juga pernah mendengar ada orang yang kerap berdoa bersungguh sungguh, kadang dalam doanya muncul angka angka dan huruf yang tak ia mengerti. Ia mengaku, di kemudian hari, banyak kisah mukzijat ada hubungan dengan angka dan huruf yang ia temui. Kebetulan atau memang kekuatan imankah itu?

Jawabannya adalah apa yang dikatakan Ito tadi: Realita adalah apa yang kamu inginkan. Bagi saya pendapat Ito itu benar adanya. Jika kamu percaya pada ‘The Secret’, maka kamu bisa saja menjalani hidup penuh keajaiban bak ‘The Secret’. Sebaliknya, jika kamu seorang Nihilis, katakanlah begitu, maka kamu juga merasa hidup ini kosong lagi ironis.

Ah, apa ya sesederhana itu?

            Oh tidak, tentu saja, semisal anda hidup percaya seperti ‘The Secret’, belum tentu semua keinginan anda tercapai. Namun, anda akan melihat bahwa keinginan yang tidak tercapai itu incidental, kecelakaan saja, besok besok keinginan anda akan tercapai. Singkat cerita anda tetap positif. Maka keberuntunganpun akan datang pada anda dan anda tetap dikuasai energi positif karena ya itulah anda.

Namun jika anda negatif, keberuntungan akan anda anggap sebagai jebakan, hadiah kehidupan sebelum anda dihukum dengan lebih kejam. Dalam psikologis hal ini dikenal sebagai anxiety. Bahkan ketika hal baik terjadi pada anda, anda akan menganggapnya juga sebagai ‘kecelakaan yang baik’. Besok besok hidup anda akan menderita, bahkan menderita dengan parah anyway.

            Sekali lagi, ini aneh, tapi realita adalah apa yang anda inginkan, bahkan ketika anda dihadapkan pada fakta. Pernahkan anda melihat sesuatu dan mengartikannya sebagai suatu hal yang mungkin tidak logis tapi anda begitu percaya begitulah adanya? Ya, itu terjadi. Misalnya, anda melihat seseorang yang dikenal luas sebagai manusia pendosa tiba tiba mengalami kesialan. Anda menganggapnya sebagai hukum karma. Ada juga yang menganggap dia lagi sial saja. Tapi, ada juga yang menganggap bahwa Tuhan sedang mencobai si manusia pendosa sehingga (semoga) si manusia pendosa itu berubah. Mana yang benar. Jawabannya: anda yang pilih.

Sebagai penutup, tak ada yang bisa menjelaskan alasan mengapa realitas yang harusnya semata mata nyata bisa berubah karena sifat dan keinginan kita. Tak ada jawaban pasti. Tapi yang jelas, berpandangan positif jauh lebih baik daripada meratapi suatu kesedihan dan kesialan (yang mungkin hanya bayangan anda saja).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here