Waktu Baca: 4 menit

            Alkisah ada masa dimana Rudi Soedjarwo adalah jaminan kualitas dan film filmnya selalu ditunggu oleh moviegoers Indonesia. Ada Apa dengan Cinta pada jamannya mampu mengumpulkan hingga 2,5 juta penonton dengan pendapatan kotor 24 Miliar Rupiah. Sementara itu film Mengejar Matahari meraup banyak nominasi di Festival Film Indonesia dan Festival Film Bandung. Maka, ketika Rudi mengatakan akan membuat film horor di tahun 2006 dengan judul Pocong, banyak orang merasa penasaran.

Rasa penasaran akan karya Rudi memang tak sebesar saat Joko Anwar saat merilis film film barunya, tapi mendadak semua itu berubah karena LSF memutuskan untuk melarang total film Rudi. Apa yang terjadi?

Hampir sepuluh tahun kemudian, Monty Tiwa selaku penulis skenario membeberkan alasannya. Ia mengaku berdiskusi hebat dengan ketua LSF saat itu, Titie Said. Jurnalis kelahiran Bojonegoro itu memberikan lima poin pada Monty Tiwa yang membuat Pocong tidak bisa dirilis. Monty mengaku, Titie Said beralasan bahwa pelarangan film itu untuk keamanan bagi pembuat film Pocong itu sendiri. Montypun menyetujui penjelasan Titie Said. Hingga kini kita tak pernah tahu seperti apa film Pocong (2006) itu.

Monty pernah mengaku bahwa film Pocong versinya; Pocong The Origin memiliki kesamaan dengan Pocong (2006), tapi apakah itu bisa dibuktikan? Toh tak ada yang pernah menonton Pocong (2006). Banyak rasa penasaran muncul—tentu saja—terkait film ini. Seba—ya itu tadi—belum pernah ada yang menonton film tersebut. Mungkin ada, jurnalis senior, atau para filmmaker papan atas yang pernah menonton film itu, tapi mereka memilih bungkam.

Seandainya…ya seandainya..kita boleh berandai andai, sebenarnya seperti apa film Pocong (2006) ini? Ada apa dengan film ini hingga bernasib menjadi film paling misterius dalam sejarah bangsa ini? (tanpa bermaksud lebay tentunya).

Saya coba membayangkan seperti apa film ini. Rudi Soedjarwo pernah menyebut filmnya ini bakal berbeda dengan film horor pada umumnya. Ia mengatakan tak tertarik menggunakan jumpscare, ia ingin membuat film ini menjadi horor psikologis. Rudi mengatakan, ia ingin filmnya memiliki pesan moral bahwa ‘manusia lebih mengerikan daripada setan’.

Pernyataan Rudi ini bisa dikonfirmasi ke Titie Said selaku salah satu penonton yang beruntung bisa menyaksikan film itu. Seperti dilansir oleh Tempo dalam artikel yang berjudul Pocong Terkubur Sensor, Titie mengatakan film Pocong (2006) berkisar mengenai seorang supir bernama Wisnu. Wisnu dipecat oleh bosnya dan menjadi dendam. Ketika terjadi kerusuhan 13-14 Mei 1998 ia memprovokasi pendemo agar menjarah dan membunuh. Ternyata perbuatannya ini mengakibatkan adik perempuannya, Rahma, dibunuh dan diperkosa sebagai pembalasan atas perbuatan Wisnu. Ketika Rahma akan dikuburkan, Wisnu dibisiki untuk tidak membuka tali pocong Rahma. Hal ini dilakukan supaya arwah Rahma balas dendam. Dari situlah cerita bergulir karena Wisnu mulai dibayangi arwah Rahma dan dirinyapun perlahan berubah menjadi pembunuh itu sendiri.

Jika melihat premisnya, ide Rudi ini cukup out of the box pada jamannya. Sebab, kita ketahui sendiri, ide Rudi ini mirip dengan ide Joko Anwar yang menggunakan manusia sebagai medium teror dalam film Perempuan Tanah Jahanam. Seperti yang kita semua tahu, Perempuan berhasil menyabet berbagai penghargaan di FFI tahun ini. Lalu kenapa Perempuan boleh tayang dan sukses besar sementara copy film Pocong (2006) tersimpan rapat di gudang?

Titien mengaku salah satu alasannya adalah faktor Mei 1998. Titien khawatir film ini akan membuka luka lama. Yah, bisa dibilang tahun 2006 itu kurang dari sepuluh tahun sejak tragedi ’98. Tanpa bermaksud terdengar membesar besarkan, Titien mengaku meminta pemuka agama, intel dan tokoh masyarakat sebelum mengetuk palu nasib film ini. Pada akhirnya, di rapat pleno film ini dilarang beredar seluruhnya.

Namun kita hidup di tahun 2020. Situasi sudah jauh berubah. Generasi muda saat ini lahir bahkan setelah tahun 1998. Oleh karena itulah, secara personal, saya menilai ini saatnya Pocong (2006) dirilis. Toh kalau bicara unsur kesadisan, banyak film film sadis yang beredar di masyarakat dan tentu kita penasaran, emang sesadis apa sih film Pocong ini? Di tengah banyaknya film yang melewati batas, rasa rasanya Pocong (2006) tak akan sampai ke level ‘separah’ Cannibal Holocaust misalnya.

Selain horor psikologis dan kekerasan, apa lagi yang bisa diharapkan dari Pocong (2006) ini? Pada masanya Rudi dianggap pintar meramu berbagai unsur mulai dari sinematografi,cerita, akting pemain dan unsur unsur film lainnya. Titienpun mengakui bahwa Pocong (2006) ‘digarap dengan sangat bagus’. Tapi tentu kita penasaran bagaimana Rudy meramu unsur emosional dan psikologis di film ini. Ia berhasil membuat kita berdebar debar dan merasakan kehangatan saat menonton AADC? dan Mengejar Matahari. Tapi bagaimana dengan Pocong (2006)? Apakah kita akan dibuat kehabisan napas saat menyaksikan film ini? Tentu rasa penasaran itu ada…

courtesey: kapanlagi.com

Terkait unsur politis. Kita bisa berargumen Kala (2007) juga politis, lalu apakah Pocong (2006) sepolitis itu sampai ditolak berbagai elite bangsa ini (pada saat itu)? Lagi lagi kita hanya bisa berakhir pada rasa penasaran.

Bagaimana caranya agar rasa penasaran itu bisa hilang? Satu satunya cara ya menonton film itu. Jika secara internasional gerakan #ReleaseSnyderCut berhasil membuat kita menonton versi lain dari ‘Justice League’, kenapa tidak dengan Pocong? Mungkin jika kita cukup rajin menyuarakan #ReleasePocong2006, film itu bakal benar benar dirilis meski nantinya hanya terbatas di platform streaming misalnya. Yang penting rasa penasaran kita selama bertahun tahun terjawab.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here