Waktu Baca: 3 menit

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan undangan untuk menghadiri sebuah pertemuan di salah satu hotel berbintang di Jogja. Ya namanya juga buruh, hanya bisa mengatakan sendika dawuh. Kalau belum pada tahu apa arti dari sendika dawuh, kurang lebih artinya adalah kita harus melaksanakan perintah dari atasan dan tidak boleh menolak. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka jelas harus berangkat dong, namanya kan perintah. Wokeeey  siiiippp…

Sebagai orang desa yang gumunan alias mudah terpesona maka masuk ke hotel berbintang yang ada di kota Jogja sebuah kesempatan langka. Kapan lagi ya kan? Akhirnya di bawah guyuran hujan yang lembut namun tetap bikin kenangan saya tak bisa hanyut, saya menuju ke sebuah hotel yang megah di kawasan utara Jogja.

Akhirnya saya sampai di sebuah hotel yang guedii banget, ha mbok tenan sumpah. Jiaaann apik tenan hotelnya. Setelah memarkir sepeda motor, saya segera menuju ke tempat yang dituju. Sesampainya di sana, imajinasi saya langsung terbayang dengan pernikahan mewah yang diselenggarakan. Ballroom luas, suguhan makanan yang sangat enak, tamu yang berjubel dan tentunya pasangan yang berdiri di samping saya. Sedetik kemudian, imajinasi saya kemudian buyar saat operator di acara tersebut menyetel dengan lantang lagu di Youtube dengan judul  Wes Tatas milik Happy Asmara, sungguh sebuah kearifan lokal yang membuat imajinasi saya gagal total.

Oke, bagian itu kita skip saja ya. Kita langsung bahas masalah acara tersebut. Berdasarkan edaran yang  diterima, acara tersebut harusnya dimulai pukul 08.00. Tapi yang terjadi adalah panitianya ngambek lurrr. Cieeee…udah pada dewasa aja masih pake acara ngambekan segala. Teman-teman bisa menerka apa penyebabnya? Sepele sih, kursi di bagian paling depan tidak ada yang mau mengisi. Acara akan dimulai saat kursi paling depan sudah terisi penuh. Ini sebenarnya mau naik bus atau acara formal ya? Duh!

Ternyata oh ternyata duduk di barisan depan adalah momok yang masih menyeramkan walaupun orang itu sudah beranjak dewasa, menikah bahkan beranak enak, eh pinak. Sampek heran saya tuh. Padahal kalau ada acara resepsi hobi untuk datang pertama dan segera berada di depan, lha kalau ini kok kebalikannya? Aneh!

Mungkin ada baiknya di tulisan kali ini saya akan membahas mengenai penyebab mengapa orang-orang enggan atau malas untuk duduk di barisan paling depan. Siapa tahu ada event organizer atau pihak yang hobi bikin acara nantinya akan menghapus kursi di barisan paling depan. Berikut adalah beberapa alasan mengapa duduk di barisan paling depan sangatlah menyeramkan:

  1. Pertama, bisa saja orang yang tidak mau duduk di depan itu kurang percaya diri. Masalah percaya diri ini tentu hal yang sangat manusiawi dan banyak dialami oleh setiap orang. Orang yang kurang atau tidak percaya diri dapat juga dikarenakan karena banyak hal, misalnya: belum mandi saat acara sedang dimulai, belum belajar materi yang diberikan, dan hal lainnya yang berkaitan dengan percaya diri. Memang tidak mudah membangun rasa percaya diri. Lebih mudah membangun rasa ayam bawang.
  2. Kedua, orang yang menolak duduk di depan adalah bukti bahwa mereka adalah tipikal orang dengan kemampuan multitasking. Bagaimana tidak? Orang-orang yang duduk di tengah dan belakang itu sangat luar biasa kemampuannya. Berdasarkan pengamatan saya, ada yang sedang berselancar di marketplace, sedang membalasi chat toko daringnya, melihat dangdut koplo di Youtube bahkan sedang asyik menyebarkan link pemersatu bangsa. Ini bukti bahwa SDM Indonesia tidak kalah dengan asing. Buat apa kita impor tenaga kerja asing kalau kemampuan kita saja bisa lebih keren dari robot dari Jepang. Satu orang bisa mengerjakan beberapa pekerjaan. Banggalah menjadi warga Indonesia!
  3. Ketiga, duduk di belakang adalah membuktikan bahwa kita ini senang menjadi follower. Ya apa ya? Seorang pemimpin tentunya akan memiliki inisiatif yang membuat dia berada di depan dan menunjukkan kemampuannya. Kalau duduk di depan saja masih harus ditunjuk ya berarti memang wajar masih menjadi follower. Buktinya, konten yang isinya wagu dan menye-menye tetap menjadi primadona kan? Sedangkan untuk konten yang membutuhkan energi untuk berpikir sudah pasti siap untuk pensiun dini dan tidak mendapatkan penggemarnya.
  4. Keempat, duduk di barisan belakang itu sungguh mengasyikkan karena bagian dari kebudayaan. Kok bisa? Kita kan pasti paham bahwa rasan-rasan adalah kebudayaan bangsa ini. Nah, duduk di belakang adalah simbol bila kita melakukan rasan-rasan (ngata-ngatain) selalu di belakang. Memang ada kita rasan-rasan di depan orangnya langsung? Kalau berani ya sama aja bunuh diri dan merusak circle- Emang mau? Maka rasan-rasanlah dengan baik dan benar serta jangan sampe ketauan.
  5. Kelima, orang yang duduk di belakang itu tidak selamanya salah kok. Orang duduk di belakang sebetulnya adalah orang-orang yang kreatif. Seperti halnya saya, yang saat pertemuan duduk di belakang dan sibuk mencari alasan untuk mau duduk di depan. Memang, urusan duduk depan itu sungguh sebuah perjuangan dan tak ada habisnya diperdebatkan. Pilihannya adalah wani opo ora?(*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here