Waktu Baca: 4 menit

Situasi Pandemi

Secara global wabah COVID-19 saat ini telah menjadi sebuah pandemi. Pandemi COVID-19 membuat beberapa negara membuat kebijakan penerapan social & physical distancing bahkan lockdown di beberapa negara. Dampak adanya pandemi COVID-19 dirasakan oleh berbagai kalangan dan di berbagai sektor usaha sehingga mempengaruhi perekonomian masyarakat. Salah satu sektor yang terkena dampak dari pandemi ini adalah sektor pariwisata. Pembatasan pergerakan membuat sektor wisata menjadi sepi wisatawan. Hal tersebut secara tidak langsung berdampak pada perekomonian masyarakat yang menggantungkan hidup di sektor tersebut.

Situasi pandemi ini merupakan permasalahan global yang harus diterima oleh setiap pihak dan semua pihak bertanggungjawab untuk menjaga kesehatan dan keselamatan diri pribadinya dan orang-orang di sekitarnya (Anderson et al., 2020). Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia dan beberapa negara lainnya adalah menghadirkan suatu imbauan yang berujung kebijakan dalam masyarakat untuk melakukan proses pembelajaran, bekerja, dan ibadah dari rumah, atau yang dikenal dengan istirlah Work From Home (WFH). Hal tersebut dilakukan guna meminimalisir terjadinya suatu perkumpulan orang dalam waktu dan tempat yang sama sehingga penyebaran COVID-19 bisa dicegah. Banyak pihak yang menjadi pihak terdampak dari kebijakan tersebut. Masyarakat menjadi khawatir dan memilih untuk mengisolasi diri daripada berpergian untuk berwisata. Oleh sebab itu, sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terdampak.

Sektor Pariwisata

Kegiatan wisata yang ada di berbagai negara mengalami penurunan kunjungan dari para wisatawan karena efek dari pandemi COVID-19 (Lukman, 2020). Efek dari pandemi COVID-19 mulai dirasakan oleh berbagai kalangan, salah satunya oleh negara-negara di Asia termasuk Indonesia. Sektor pariwisata merupakan sektor usaha yang didukung oleh beberapa komponen pendukung, seperti; tempat tinggal (hotel dan penginapan), makanan dan minuman (restoran, pedagang, UMKM), alat transportasi (supir, penyedia travel, penyedia sewa kendaraan), dan pemandu wisata (tour guide). Masing-masing dari komponen pendukung menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha bagi masyarakat sehingga mampu menopang perekonomian masyarakat sekitar. Namun, ketika pandemi skala dunia ini mulai mewabah, masing-masing komponen pendukung pariwisata pun menjadi terdampak.

Kerugian dan penurunan pendapatan jelas dirasakan oleh masyarakat yang turut ambil bagian dan bergerak dalam komponen-komponen pendukung pariwisata. Contohnya, tempat tinggal yang disediakan untuk para pengunjung/wisatawan dalam bentuk hotel dan penginapan menjadi sepi pengunjung, karyawan/pekerja yang ada terpaksa diliburkan, dan biaya-biaya standar operasional seperti biaya listrik, air, dan tarif pajak hotel harus tetap dibayar.

Komponen pendukung penyedia makanan dan minuman menjadi sepi peminat karena wisatawan yang menurun jumlahnya. Penyedia transportasi yang mendukung pariwisata juga sepi karena resiko penyebaran COVID-19 menjadi semakin besar apabila diadakan suatu kegiatan yang melibatkan banyak orang seperti kunjungan/liburan bersama ke suatu lokasi pariwisata. Hal tersebut berdampak pula bagi para tour guide yang biasanya selalu setia mendampingi dan menemani para wisatawan menjelajah lokasi wisata. Walaupun kita tahu bahwa saat ini mulai digencarkan vaksinasi, namun protokol kesehatan tetap harus diterapkan ya.

Dampak Jangka Panjang

Dampak jangka panjang apabila tidak ada langkah dari pemerintah untuk menanggulangi efek dari pandemi COVID-19 di berbagai negara adalah akan terjadi kerugian industri yang melibatkan interaksi fisik seperti pariwisata, perdagangan ritel, rekreasi, perhotelan dan transportasi (Chinazzi, et al., 2020). Dampak dari kerugian tersebut berupa adanya penurunan tingkat pendapatan dan bahkan dikeluarkannya kebijakan PHK bagi pekerja di beberapa sektor industri. Selain itu, pengusaha UMKM, cendera mata, oleh-oleh dan bahan pokok di sektor pariwisata pun akan merugi sehingga berimbas pada kecukupan pangan, tingkat kesehatan dan standar kehidupan yang menurun (Widowati, 2020).

Tingkat kesehatan dan standar kehidupan yang menurun bukan hanya disebabkan oleh dampak ekonomi yang terjadi. Selain dampak ekonomi, ada pula dampak sosial yang bisa terjadi. Contohnya terkait sikap dan cara pandang masyarakat terkait penerapan social & physical distancing. Ada kelompok masyarakat yang mengerti dan menerapkannya dengan baik, namun ada pula masyarakat yang malah menjadi menjadi tidak terlalu peduli dengan sesamanya dengan alih-alih menjaga keselamatan diri. Obrolan-obrolan yang biasa dilakukan dengan tatap muka kini harus beralih menjadi virtual dengan bantuan teknologi. Padahal banyak sekali masyarakat di pedesaan yang sudah berumur masih belum melek teknologi sehingga informasi-informasi yang didapatkan bisa saja sudah tidak relevan dan sudah dibumbui dengan hoax. Hal tersebut menjadi kekhawatiran dan kecemasan banyak orang sehingga menimbulkan ketakutan berlebihan atau bahkan sikap menyepelekan (denial) di beberapa pihak yang juga menimbulkan dampak psikologis adanya pandemi COVID-19 ini. Hal tersebut akan mempengaruhi kesehatan, pola pikir dan respon yang sangat berbeda-beda pada masing-masing pribadi.

Skenario Versi Pariwisata

Terkait prospek di masa depan terkait pariwisata pastinya akan butuh waktu dan dukungan dari berbagai sektor, utamanya dari pemerintah agar pariwisata dapat berjalan lancar seperti sediakala. Dengan adanya pandemi yang belum tahu kapan berakhirnya ini, pasti akan mempengaruhi tingkat perekonomian masyarakat terdampak di masa depan. Oleh sebab itu, ada dua skenario yang saya analisis dengan prospek yang bebeda.

Pertama, apabila pemerintah tidak giat untuk berusaha melakukan hal-hal seperti membangkitkan perekonomian dengan memberi stimulus perekonomian, memberikan insentif, memastikan UMKM tetap berjalan dan mencegah PHK maka dapat diprediksi perekonomian Indonesia akan sangat menurun, apalagi di beberapa daerah yang paling mengandalkan aspek pariwisata seperti Bali, Yogyakarta, Labuan Bajo, Lombok, dan Manado (Widowati, 2020).

Namun sebaliknya, apabila pemerintah giat untuk melakukan berbagai usaha untuk membangkitkan perekonomian dengan berbagai langkah dan usaha yang berkaitan dengan UMKM, insentif bagi pelaku usaha bidang pariwisata, dan pencegahan PHK maka prospek pariwisata akan meningkat walau perlahan (McKibbin & Fernando, 2020).  Hal tersebut mampu menunjang pertumbuhan ekonomi serta stabilitas keuangan Indonesia, dan juga dunia. Menjadi harapan kita bersama bahwa skenario kedua mampu diimplementasikan dengan maksimal ya. Jangan lupa untuk bijak dalam berwisata! Stay safe!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here