Waktu Baca: 3 menit

Oke kita mulai cerita ini dengan kembali ke tahun 2012. Kira-kira tahun itu aku masih kelas satu SMP. Waktu itu ada kegiatan bertajuk “Singapore Scientist Camp”. Secara singkat ini adalah kegiatan belajar langsung di Singapura selama 1 minggu. Oke, saya tidak akan menceritakan topik itu. Saya tidak akan fokus ke sana, tetapi ke topik lainnya yang menurut saya lebih menarik: “Apa sih perbedaan SOP (Standard of Procedure) Penerbangan dari Jakarta ke Singapura dan sebaliknya, yang bikin aku sebagai anak SMP kelas 1 (waktu itu) gemas sekali?”

Singapura jadi pelajaran berharga

Seperti orang kebanyakan, rasanya pasti seneng banget waktu tahu akan pergi ke luar negeri, apalagi bersama teman – teman sepermainan. Aku berangkat dengan penerbangan pagi dari Semarang ke Jakarta, semua nampak normal, tidak ada sesuatu yang beda jauh dengan naik transportasi lain, cuma ada satu pembeda dari transport lain ini kawan. Bagaimana bedanya? Nih aku ceritakan ya.

Mari aku bawa kalian membayangkan diri dalam posisi sebagai orang yang pertama naik pesawat, walau gak semua mengalami kondisi kaya aku ya….  “mari bayangkan kita lagi naik bis antar kota, tapi…bisnya naik pelan – pelan dan rasanya pantat kita kaya ketinggalan di darat. Ah, ga nyaman banget buat aku waktu itu, dan bagian telinga ku kaya kemasukan air, bahasa Jawanya tu  MBENGUNGG!

Semarang – Jakarta waktu itu ditempuh 45 menit, waktu sampai di bandara Jakarta, proses pengecekan barang termasuk cepat, dan perlu aku akui, sebagai anak SMP waktu itu, aku sudah bisa menilai bahwa kondisinya agak kemruyuk, Bahasa Indonesianya tu… “orang banyak berkerumun ga jelas” di depan pintu yang mau ke arah penerbangan internasional.

Oke yuk aku ajak bayangin lagi kondisi di dalam pesawat dari Jakarta ke Singapura, kami berjumlah tiga belas anak kelas satu SMP, dengan tiga guru pendamping. Tempat duduk di dalam pesawat dalam satu baris ada tiga kursi di kanan, kiri dan menyisakan ruang di tengah untuk lalu lalang saat pesawat sedang di darat. Aku waktu itu duduk berjejer bertiga dengan teman – temanku. Aku duduk paling pojok dekat jendela, posisi paling enak kalau naik bis. Pramugari ngajarin kita bagaimana pakai sabuk pengaman yang benar dan SOP standart lainnya. Waktu itu saya kagum  melihat pramugari memperagakan cara – cara pakai alat pengaman. Senang saja bisa melihat keseriusan pramugari. Akhirnya, pesawat mendarat di bandara Changi.

courtesey : Muhammadhasbi

Nah….di sini aku baru menemui perbedaan yang mencolok dari pelayanan bandara di Jakarta dan Singapura. Begitu turun dari pesawat, kami sama sekali gak keluar dari gedung, begitu turun kami sudah berjalan memakai jembatan yang dari pesawat ke gedung seperti film – film. Habis itu kami naik kereta bandara yang ngarahin kita ke tempat pengecekan orang dari luar negeri (sekarang di bandara Soekarno Hatta udah ada kereta bandara ya? Dulu belum ada soalnya), di sini kami dicek segala kelengkapan kita, dan di sini sepi…. ga kemrunyuk kaya di Jakarta. Lalu pengecekan barang bawaan luamaaa banget seperti menunggu balasan chat dari gebetan.

Setelah kegiatan di Singapura, kamipun pulang dan bergegas ke Bandara. Guys, waktu pulang pengecekannya lebih gila lagi. Ada salah satu temanku yang semua barangnya digeledah, Hal ini terjadi cuma karena dia meletakkan tablet Ipadnya di tengah – tengah tumpukan baju di dalam koper. Gara gara kejadian itu, kami tertahan di bandara lama sekali. kira – kira kami semua tertahan di pengecekan satu jam setengah lebih. Jujur nih, rasanya melelahkan dan menegangkan. Namun tunggu dulu, saat di dalam pesawat, ada hal yang lebih menegangkan.

Berdasar SOP penerbangan, ternyata terbang dari Singapura ke Jakarta rumit sekali. Beda 180 derajat ketika kami dari Indonesia ke Singapura. Kami tidak boleh duduk berjejer. Penyebabnya ada aturan tiga orang anak kecil di bawah umur tidak boleh bersama sama. Jadi, dalam satu saf tiga kursi itu, harus ada minimal satu orang dewasa. Dulu, aku belum paham maksud dari aturan penerbangan itu. Ketika udah dewasa, aku baru tahu kalau ternyata aturan itu untuk meminimalisir hal yang tidak diinginkan.

Jika terjadi kecelakaan, maka orang dewasa akan dapat membantu anak anak yang kesulitan. Jujur saja, aku jadi speechless ketika mengetahui maksud dan tujuan SOP tersebut. Bisa bayangin ya teman teman, kalau dalam satu baris itu isinya anak dibawah umur semua, tentu si anak senang senang saja bisa tertawa dan bersenda gurau bersama. Tapi kalau ada kejadian yang tidak diinginkan, bisa apa mereka? Begitu kira kira.

Aturan ini diberlakukan dengan ketat. Bahkan waktu itu, beberapa orang dewasa yang naik sendiri tanpa pasangan atau keluarga, disuruh pindah untuk gantian tempat duduk yang isinya dalam satu baris hanya anak anak semua.

Dan coba tebak, siapa yang duduk di barisku untuk menggantikan temenku? ternyata Co-Pilotnya sendiri! Wah nervous aku.

Sekian pengalamanku, yang terkandung unsur K3 penerbangan dan pemikiran kritis anak kelas satu SMP he..he..he..he…

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here