Tampaknya negeri ini selalu saja bisa membuat sensasi bahkan juga dagelan yang tak kunjung habisnya. Baru-baru ini ada wacana terkait pembangunan Bukit Algoritma. Konon kabarnya di bukit tersebut akan didesain menyerupai Silicon Valley yang berada di California, USA. Silicon Valley merupakan sebuah kawasan yang disulap menjadi pusat inovasi khususnya di bidang teknologi.  Banyak sekali perusahaan besar yang berasal dari Silicon Valley, tengok saja nama-nama besar seperti Apple, Google, Twitter bahkan Tesla milik Elon Musk.

Kondangnya Silicon Valley dalam menghasilkan perusahaan ternama menjadi pemicu negara lain untuk mengembangkan daerah yang mirip dengannya. Sudah barang tentu Indonesia juga tidak ketinggalan untuk berlomba-lomba menirunya. Ide Bukit Algoritma yang dicetuskan oleh politisi PDIP Budiman Sudjatmiko, sebenarnya ide tersebut merupakan sebuah inovasi namun juga banyak sekali pertanyaan yang menyertai. Perlukah kita membuat Bukit Algoritma di Sukabumi? Bukankah selama ini daerah lain juga digadang-gadang menjadi Silicon Valley-nya Indonesia. Mulai dari TMII hinga calon ibukota negara baru.

Bukit Algoritma yang digagas oleh Budiman Sudjatmiko tersebut nantinya akan menempati lahan di daerah Sukabumi. Sebelum membicarakan terlalu jauh mengenai Bukit Algoritma dan revolusi industri 4.0, kita perlu mengetahui rahasia kesuksesan Silicon Valley. Mengapa di sana bisa berkembang pesat? Di Silicon Valley mereka sudah memikirkan sistem pendukung yang baik dan terintegrasi dengan baik. Di kawasan tersebut dengan mudahnya dapat ditemui universitas-universitas yang bisa mendukung kebutuhan sumber daya manusia di Silicon Valley. Selanjutnya juga dapat ditemui juga pusat penelitian komersial yang juga mampu memberikan pelayanan terbaik bagi perusahaan yang membutuhkan. Dan yang paling penting adalah dukungan gelontoran investasi dari perusahaan-perusahaan di sekitarnya. Pertanyaannya adalah apakah di Bukit Algoritma, Sukabumi dapat ditemui hal-hal semacam itu? Dengan berat hati saya jawab tidak!

Sebenarnya saya pribadi juga mendukung adanya riset khususnya di bidang teknologi. Tetapi kita semua juga perlu ingat bahwa sebenarnya Indonesia sudah memiliki BPPT yang terletak di Serpong ada juga Kementerian Ristek. Jika sudah memiliki lembaga tersebut, kenapa harus membuat hal yang baru? Berdasarkan data dari Tirto.id, jumlah periset serta anggaran yang digunakan untuk riset masih sangat minim, bahkan belum ada di kisaran 1%. Selain itu ada fakta menarik lainnya, Bank Dunia mencatat ekspor barang berteknologi tinggi RI tahun 2018 hanya mencapai 8% saja dari total ekspor manufaktur. Sedangkan negara ASEAN lainnya seperti, Vietnam 41,4%, Thailand 23,3%, bahkan Malaysia mampu mencapai 52,8%. Logika yang berlalu adalah ketika Bukit Algoritma tersebut menghasilkan produk, tentu harus bisa dijual dan dipasarkan secara luas untuk menunjang operasional perusahaan tersebut. Tetapi dari ilustrasi tersebut bisa dibayangkan ke manakah produk atau desain tersebut harus diserap? Padahal angkanya sangat minim. Tentu ini sebuah catatan yang perlu dicermati sebelum melakukan pembangunan Bukit Algoritma.

Catatan lainnya yang perlu diberikan terkait dengan pembangunan Bukit Algoritma adalah senja kala yang sudah terjadi Silicon Valley. Akhir-akhir ini Silicon Valley sudah bukan lagi menjadi primadona untuk para pelaku usaha di bidang teknologi. Mereka malah mencari tempat di luar kawasan Silicon Valley. Tempat tersebut sudah tidak ramah bagi para pengusaha pemula, semuanya menjadi mahal termasuk pula dengan gaya hidup yang tak sebanding dengan gaji yang didapatkan. Belum lagi terkait dengan konflik tersembunyi antara penduduk asli dan pendatang. Di sisi lain, akibat adanya pandemi korona juga membuat perusahaan besar untuk melakukan sistem work from home. Hal ini diupakan karena bisa menekan biaya operasional perusahaan. Lha ini kenapa malah membangun Bukit Algoritma di Sukabumi? Kan jadi aneh. Bukannya perusahaan teknologi itu memiliki fleksibilitas yang tinggi dan bisa dilakukan secara berpindah-pindah ya?

Sebagai penutup dan rakyat jelata saya hanya bisa mendoakan semuanya berjalan baik-baik saja. Dana sebesar Rp 18 triliun tersebut semoga bisa digunakan sebaik-baiknya. Padahal di beberapa kota di Indonesia sudah banyak rintisan kawasan perusahaan teknologi. Andai saja uang sebegitu banyak digunakan untuk memberikan insentif kepada mereka akan jauh lebih bijak. Bisa juga bekerja sama dengan universitas yang sudah ada dan melakukan link and match dengan perusahaan-perusahaan tersebut. Sekali lagi saya hanya bisa berharap agar Bukit Algoritma tidak menjadi utopia belaka. (*)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here