Menanggapi artikel Mas Eka Kurniawan, saya, si Joeedan, pengen membalas. Menurut saya buku ‘memang’ mahal. Tapi Mas Eka, kita masih punya alternatif untuk melakukan perlawanan.

            Saya sering ngobrol ngalor ngidul dengan Pak Direktur Pakbob.id, Ardi Pramono. Kebetulan nie orang suka baca, tapi bukan buku. Dia ini meski dari kampung, ternyata tahu internet. Jadi dia banyak baca dari internet. Yang pertama saya kaget karena Ardi Pramono ini gak jelas, masa suka baca tapi dari internet doang? Yang kedua saya kaget karena di Muntilan ada internet gitu lhoh. Saya kira awalnya listrik aja belum masuk Muntilan, eh ternyata sudah ada listrik dari jaman Belanda. Bahkan menurut Ardi, dulu ada orang Muntilan punya pesawat pribadi, pas jaman penjajahan Belanda! Kurang kaya apa coba? Konon rumahnya yang super gede itu kemudian dihibahkan ke negara dan menjadi SMP Negeri Satu Muntilan setelah ia meninggal dalam kecelakaan dengan pesawat pribadinya…well…Ternyata saya yang katro, pikirannya cuma terbatas di Jakarta saja.

      Anyway, kembali ke masalah baca di internet tadi. saya nanya sama si Ardi. Saya bilang: Loe nih pembaca gadungan kayaknya, mana ada pembaca rajin yang gak suka buku? Lha si Ardi bales, lha kata siapa yang harus loe baca semua dari buku. Eh..bener juga ya? Kenapa kita harus membaca dari buku? Siapa yang mengharuskan? Tapi gue gak suka si Ardi ini keliatan pinter, jadi gue bales ‘kan…

Internet kan banyak hoaxnya! Gitu kata gue.  Ardi langsung geleng geleng kepala. Menurut dia, ya makanya kita harus pinter pinter seleksi informasi. Sebab, di internet ‘kan banyak jurnal ilmiah, e-book berkualitas dan sebagainya. Wikipediapun menurutnya bisa jadi sumber bacaan bermutu. Kalau gak yakin dengan isi Wikipedia, cukup lihat bagian referensinya. Kalau link di bagian referensinya valid ya berarti emang valid informasi itu. Banyak cara sebenarnya untuk mengecek apakah sumber informasi di internet itu valid atau enggak, begitu menurut Pak Direktur.

Ah, gue gak mau kalah! Gue tanya lagi ke Ardi. “Tapi ‘kan buku itu lebih sistematis dan terstruktur, jadi ya lebih berguna buku dong!”

Ardi setuju.

Lhoh kok gitu? Gue menang dong?

            Dan Ardi menambahkan, “tapi ‘kan loe gak perlu beli buku fisik.”

Terus?

“Ya beli e-book aja, di internet!”

Duer! Kok lagi lagi balik internet. Iya, menurut Ardi, banyak kok e-book bertebaran di internet. Dan itu resmi! Bisa dibeli dengan menggunakan Go Pay dan kartu kredit sekalipun. Ardipun sudah menerbitkan dua buku secara online, Santiran dan Di Rawa Peteng. Dua duanya dikurasi dan mendapat penghargaan, jadi emang karya bermutu gitu lhoh. Tapi memang tidak ada buku fisiknya, buku ini ada dalam bentuk e-book.

Namun Ardi mengakui, orang masih gimana gitu dengan e-book. Soalnya e-book itu tidak ada bentuknya, tidak bisa diraba, tidak bisa diciumi dan seterusnya. Orang masih terpaku bahwa buku itu harus ada kertasnya, berlembar-lembar dan berbau harum saat dirobek pelan pelan dari bungkus plastiknya.

“Masalahnya,” kata Ardi lagi. “Buku fisik itu mahal bro. Bahkan yang tipis saja itu harganya mencapai sembilan puluh ribu. Sementara ya buku gue harganya bisa cuma tiga belas ribu dan royalti yang gue dapatkan bisa lebih banyak daripada si penulis dengan buku seharga sembilan puluh ribu itu!”

Ha? Masak perbedaan harganya segila itu?

            Ternyata memang betul saudara. Apa yang ditulis Mas Eka Kurniawan benar adanya. Buku fisik itu mahal banget dan gak efektif distribusinya! Kenapa kita gak beli e-book saja? lebih murah dan isinya sama saja. Pengarangnyapun mendapatkan royalti yang sepadan. Cuma ya itu tadi, orang masih males baca e-book. Gimana dong Ardi?

“Ya, soal kenyamanan memang perlu dibiasakan. Tapi bisa kok! Gue misalnya, beli tablet buat baca buku. Rasanya ya hampir mirip dengan baca buku fisik. Malah lebih ringkas. Ini soal kebiasaan saja. Ya yang penting jangan jadi  orang yang beli buku fisik karena tampilannya keren aja, bisa diliatin ama orang orang, jadi mereka bisa keliatan macam intelektual edgy gitu,” kata Ardi. “Banyak lho yang kayak gitu.”

Ayo baca karya Pak Direktur!

“Kok loe judging sih Di?” balas gue kesal.

“Lha gue juga seperti itu!” kata Ardi sambil tertawa. “Iya, dulu gue ngerasa beli buku fisik keren dan bisa keliatan kalo gue ini rajin baca buku. Tapi sekarang gue agak mengurangi membeli buku fisik, gue lebih mencoba mendekatkan diri ke e-book. Gue sekarang lebih mencoba menanamkan pikiran bahwa yang gue cari itu isinya, bukan gayanya. Lagipula, jujur aja, e-book itu punya pilihan judul dan topik yang lebih beragam. Gak terbatas mainstream aja. Namun gue gak menyalahkan orang yang beli buku fisik, ya mungkin mereka memang lebih nyamannya di buku fisik. Tapi gak ada salahnya lho beli e-book. Mulailah dari yang ringan ringan, misalnya buku gue. Ha..ha..ha..,” ujar Ardi.

Duh, bener juga. Jadi sebagai penutup, gue cuma mau bilang Mas Eka, benar buku itu mahal dan penjelasan anda sangat benar, tapi kita ada pilihan lain: e-book dan kekayaan internet. Horay!

            Cuman gimana dengan daerah daerah yang belum terjangkau internet? Gimana mereka bisa mengakses informasi? Wah..itu..sudah masalah baru lagi. Semoga teman teman di Kemenkominfo segera menemukan solusinya.

Salam olahraga!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here