Waktu Baca: 3 menit

Sudah lebih dari setahun masa pandemi berlangsung dan WFH alias Work From Home sudah diterapkan di berbagai instansi, mulai dari pendidikan, pemerintahan, kesehatan, dan beragam instansi lainnya. Sejak adanya imbauan dari Presiden Joko Widodo pada 15 Maret 2020 terkait bekerja, belajar dan beribadah di rumah, banyak orang mulai mencoba beradaptasi dengan aktivitas dan pekerjaan yang serba daring. Lalu, bagaimana dengan diriku, apakah sudah merasa nyaman dan terlanjur sayang dengan segala seluk beluk WFH? Atau aku sudah bosan dan letih? Jangan-jangan, aku mengalami burnout.

Apa itu Burnout?

Burnout atau kelelahan mental sangat berkaitan dengan kesehatan mental seseorang. Istilah tersebut diperkenalkan oleh Bradley  yang merupakan seorang psikolog klinis di New York pada tahun 1969. Menurut Maslach dan Leiter dalam jurnal The Encyclopedia of Clinical Psychologynya, burnout merupakan suatu sindrom psikologi kelelahan, sinisme, dan ketidak efisienan di temapat kerja yang disebabkan oleh berbagai faktor. Tekanan yang didapatkan dari berbagai pihak mampu menghasilkan stress berlebih yang berujung pada burnout. Contohnya saja, ketika mahasiswa diberi banyak tugas oleh dosen dengan alasan mahasiswa memiliki banyak waktu luang karena sedang di rumah saja. Selain itu ada proker atau program kerja dari organisasi atau kepanitiaan yang harus dijalankan. Padahal, kenyataannya di rumah pun masih ada tanggung jawab lain yang menanti untuk dikerjakan, seperti membereskan rumah, memasak, menjaga adik, menjaga toko dan lain sebagainya. Begadang hingga dini hari dan tidak memperhatikan kandungan gizi yang dikonsumi seringkali menjadi konsekuensinya. Alhasil, waktu yang digunakan untuk beristirahat berkurang dan muncullah kelelahan dari segi mental seseorang.

Bagaimana sih cara mengetahui apakah saat ini kita sedang dilanda burnout atau tidak? Dilansir dari alodokter.com, berikut rangkuman ciri-ciri seseorang yang mengalami burnout:

 

  1. Merasa sangat lelah hingga alami Fatigue

Kondisi lelah hingga fatigue terjadi karena seseorang mengalami kelehan secara fisik dan mental. Menurut hellosehat.com, Fatigue sendiri merupakan suatu kondisi dimana seseorang selalu merasa lelah, lesu dan kurang tenaga. Kondisi seseorang ketika merasa beban tugas terlalu banyak sehingga kehilangan semangat untuk mengerjakan apa yang sedang dikerjakan.

  1. Performa kerja menjadi turun.

Kondisi ini berkaitan erat dengan hilangnya motivasi dalam melakukan suatu pekerjaan. Dalam konteks pekerjaan, kita tahu bahwa motivasi merupakan salah satu faktor penting yang mendukung seseorang menyelesaikan apa yang dikerjakan. Jika dilihat dari teori motivasi berprestasi, David McClelland menjelaskan bahwa target atau standar keberhasilan merupakan hal yang penting. Nah, ketika mengalami burnout, seseorang tidak lagi mempedulikan target-target yang telah dibuat.

  1. Mudah marah sehingga menarik diri dari lingkungan sosial

Ciri-ciri seseorang mengalami burnout lainnya adalah mudah marah, apalagi ketika ekspetasi yang diharapnya tidak sejalan dengan realita yang terjadi. Seseorang akan menjadi pribadi yang lebih sinis terhadap sesamanya dan pekerjaan yang digeluti menjadi semacam beban yang harus dihindari. Hal tersebut juga bisa disebut sebagai suatu bentuk dari kelelahan emosi yang berakibat pada perasaan mudah tersinggung, mudah sedih, gelisah, tertekan dan bosan.

  1. Mudah sakit

Burnout yang tidak diatasi akan membawa dampak negatif pada kesehatan seseorang. Biasanya gejala yang ditimbulkan berupa seseorang menjadi lebih rentan terkena flu, sakit kepala, sakit perut dan gejala lain seperti mengalami gangguan kecemasan, ganggunan tidur, dan tingkat depresi meningkat.

Nah, setelah mengetahui beberapa ciri-ciri seseorang yang mengalami burnout, lalu bagaimana denganmu? Apakah saat ini kamu sedang mengalaminya? Atau kamu telah berhasil mengatasinya?

Cara Atasi Burnout

Tidak apa-apa, semua ada waktunya dan semua butuh proses. Masih ingat dengan kutipan yang berbunyi “It’s okay not to be okay”? Yap, setiap dari kita memiliki kemungkinan untuk berada pada titik terendahnya, dan itu normal. Hal penting yang bisa dipelajari adalah bagaimana cara kita memandangnya dan mengatasinya.  Cara mengatasi burnout syndrome ini adalah dengan perbanyak menarik nafas panjang dan menikmati setiap alur masuk keluarnya udara hingga tenang, mencoba untuk membuat prioritas, lalu menerima kenyataan, dan meyakini bahwa semuanya adalah mungkin untuk dilakukan. Sebuah kalimat dari Nelson Mandela berbunyi “It always seems impossible until it’s done.” menjadi salah satu pemantik semangat kala burnout menyerang.

Selain itu, burnout syndrome ini juga bisa diatasi dengan melakukan teknik tomat. Nah, apa itu teknik tomat? Teknik ini diciptakan oleh seorang mahasiswa bernama Francesco Cirillo pada akhir tahun 1980. Teknik tomat lebih dikenal dengan teknik pomodoro yang merupakan arti tomat dalam Bahasa Italia. Teknik ini dilakukan dengan membagi waktu kerja produktif menjadi 25 menit dengan istirahat 5 menit kemudian dilanjutkan bekerja lagi selama 25 menit. Berdasarkan pengalaman saya ketika menerapkan teknik tomat kala saya merasa burnout menyerang, teknik tersebut cukup efektif membantu saya untuk secara terstruktur mengerjakan setiap tugas atau pekerjaan. Melalui teknik membagi waktu menjadi bagian-bagian kecil, saya menjadi bisa lebih fokus dalam mengerjakan dan mampu meningkatkan tingkat konsentrasi saya.

Seringkali, waktu yang digunakan untuk mengerjakan tugas atau pekerjaan sudah tersedia banyak, namun tidak ada yang selesai. Benar tidak? Nah, melalui teknik tomat, otak akan diajak untuk fokus selama 25 menit dan istirahat selama 5 menit agar tidak bosan, begitupun seterusnya. Setelah selesai, jangan lupa untuk memberikan reward atau hadiah untuk diri sendiri. Misalnya membeli es krim, makan seblak, tidur, atau kegiatan lain yang kita sukai. Hal tersebut akan membantu kita mengatasi burnout dengan cara yang produktif namun tetap santuy. Semangat untuk kita!

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here