Seminggu ini dunia terguncang akan adanya ide Super League (Liga Super). Liga Super ini sebenarnya bukan ide baru. Indonesia pernah melahirkan breakaway competition (kompetisi yang diselenggarakan di luar program federasi resmi) dalam format ‘Liga Premier Indonesia’. Sementara itu, India juga melahirkan Indian Super League yang juga merupakan sebuah breakaway competition. Jadi, ini bukan ide besar. Namun, ide ini menjadi heboh karena klub yang terlibat dalam Super League ini adalah 12 klub top Eropa dengan jutaan fans resmi dan mungkin milyaran jika kita menghitung fans tidak resmi.

Apa sebenarnya yang ditawarkan European Super League?

Banyak hal. ESL (singkatan dari European Super League) memberi jaminan pada fans bahwa setiap minggunya kita disuguhi pertandingan berkualitas yang (relatif) tidak berat sebelah. Anda mungkin bisa melewatkan pertandingan antara Barcelona vs Eibar, tapi apakah anda bisa melewatkan pertandingan Barcelona vs Inter Milan misalnya? Berita baiknya, Super League ini akan menyajikan pertandingan berimbang setiap minggunya. Hal ini berbeda sekali dengan European League dan Champions League yang sering menyajikan pertandingan tak berimbang dimana tim yang ‘kelewat kecil’ menghadapi tim besar.

Tiap pekan ada pertandingan seru seperti Barcelona v. Internazionale

Bagi klub besar, ESL juga sangat menguntungkan karena mereka tidak perlu melakukan pertandingan tandang yang tidak punya nilai ekonomis. Ketika misalnya Barcelona harus bertandang ke Eibar misalnya, biaya yang Barcelona keluarkan tak sebanding dengan keuntungan yang didapat. Coba hitung berapa biaya akomodasi yang harus disiapkan klub? Berapa gaji yang dibayarkan Barcelona? Bayangkan, mungkin keseluruhan tim Eibar nilainya hanya setara satu pemain Barcelona! Namun saat pembagian keuntungan, keuntungan yang diterima Barcelona tak beda jauh dengan Eibar. Ibarat ini sebuah pertunjukkan sirkus, Barcelona telah banyak berkorban hanya untuk mendapatkan keuntungan yang sedikit. Sungguh tidak adil secara ekonomis.

Sayangnya, kejadian seperti ini akan sering terulang jika klub klub  ESL tetap bergabung dengan Champions League. Sebab, ada rencana dari pihak UEFA untuk menambah kontestan UCL dengan dalih memberi kesempatan klub kecil berkembang. UEFA memiliki misi sosial yang bagus. Tapi, di tengah situasi pandemi begini, dimana biaya untuk pertandingan tandang makin mahal, melakukan perjalanan melawan tim tim kecil adalah sebuah penyiksaan ekonomi.

NBA dengan nilai komersial yang tinggi menjadi model dari ESL

Selain tidak perlu melakukan pertandingan tandang non ekonomis, tim ESL juga ingin menjamin tiket ke kompetisi Eropa tertinggi tiap musimnya. Paris St Germain adalah penyebab masalah ini. Menurut Richard Andreas di kolomnya yang ditulis di Bola.net, transfer dengan harga gila gilaan yang dilakukan PSG telah membuat harga pemain melambung di luar batas kewajaran. Klub klub besar bagaimanapun tetap ‘diwajibkan’ berkompetisi dengan PSG. Mereka harus bertaruh tiap musimnya dengan mendatangkan pemain bintang dengan nilai gila gilaan. Untuk menutupinya, mereka harus berjibaku mencari uang termasuk mengharuskan diri berkompetisi di Eropa. Mengapa kompetisi Eropa begitu penting? Hal ini tak lain karena keuntungan dari kompetisi Eropa begitu besar. Namun, begitu mereka gagal lolos ke Eropa, kerugian di depan mata. Nah, kini ketika mereka diberi jaminan untuk selalu tampil di kompetisi Eropa, tentu hal ini tak ingin ditinggalkan begitu saja. Apalagi nilai hadiah ESL mencapai tiga kali Champions League.

            Jaminan tampil di Eropa tiap musimnya adalah satu hal penting, namun yang paling penting adalah jaminan ekslusivitas ESL. Hal ini meniru model yang dilakukan di NBA yang menerapkan closed-system league. Tidak mengherankan mengapa ESL mirip NBA, sebab tiga dari dua belas pemilik klub ESL berbasis di Amerika Serikat. Tidak hanya itu saja, ada Andrea Agnelli yang juga sedang giat giatnya mempelajari sistem komersialisasi olahraga di Amerika Serikat. Jangan lupa juga sosok Florentino Perez sebagai Presiden ESL yang dari tahun 2000an sudah semangat meng-gol-kan Super League. Ekslusivitas dari ESL berarti memastikan bahwa klub baru yang bergabung ‘tidak menjadi beban’dan menambah nilai liga. Misalnya saja peserta ESL tidak akan memberikan ruang satu peserta lagi untuk Eibar (No offense Eibar) namun mereka bisa memberi ke tim dengan nilai jual kompetitif macam AS Roma, Napoli, Valencia dan/atau tim besar lainnya. Setiap pertandingan akhirnya memiliki nilai finansial kompetitif.

Kalau enggak bisa salto kayak gini, jangan harap diterima ESL

Secara umum, sebenarnya ESL adalah sebuah pertunjukkan menarik bagi fans sekaligus kesempatan bagi UEFA untuk mengkoreksi diri. Keberadaan ESL akan mendorong UEFA untuk membenahi Champions League agar menjadi kompetisi yang berkelas dan berkualitas. Namun, tentu ada sisi negatifnya, potensi ESL bisa mengubur gengsi dari Champions League.

 

           

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here