Waktu Baca: 4 menit

Kita pasti suka nih nonton film luar, Drama Korea, kartun, anime, dsb. Kita nonton semacam itu pasti tidak hanya melalui streaming platform seperti Netflix, Chrunchyroll, Disney+, HBO Max, Viu, ataupun Amazon Prime, melainkan ada juga pasti yang nonton di bioskop ataupun televisi. Nah, bagi kalian yang pernah nonton di platform streaming dan televisi, pasti lah kita sering melihat ada tayangan yang diberi subtitle atau diisi suaranya kembali menggunakan bahasa Indonesia.

Waktu kecil dan di tahun 2011—2012 pasti kalian sering melihat serial animasi, film Tiongkok, dan drama Korea yang di-dubbing menggunakan bahasa Indonesia. Dulu waktu kita masih kecil, kita enjoy aja dengan dubbing, karena di masa itu banyak yang belum dapat akses internet ataupun TV kabel. Namun sekarang ketika mendengar tulisan itu, kita malah menjadi risih, misalnya kita nonton Naruto atau My Girlfriend is Gumiho ketika menggunakan bahasa Indonesia kok wagu dan baku ya? Kok lebih mending baca subtitlenya aja ya?

Semakin banyaknya platform streaming ada beberapa yang menyediakan layanan dubbing, misalnya Netflix dan Chrunchyroll yang memberikan layanan dubbing untuk pasar barat. Ada pihak yang menganggap lebih enak pakai subtitle karena tidak menghilangkan suara karakter yang orisinil, dan ada yang menganggap dubbing lebih enak karena fokusnya tidak terpecah antara alur visual dan subjudul. Namun terlepas dari perdebatan itu, kita fokuskan saja pada dubbing bahasa Indonesia dan mengapa sih subjudul lebih baik bagi penonton dibandingkan dubbing?

Mengalih bahasakan tidak Semudah Memutarbalikkan Telapak Tangan

Bahasa merupakan representasi dari salah satu budaya. Hal tersebut tidak bisa dibantahkan karena setiap bahasa memiliki keistimewaan tertentu yang hanya ada di bahasa tersebut. Hal tersebut bisa diambil contoh dari kata ‘nasi’ misalnya. Dalam bahasa Indonesia, penyebutan ‘nasi’ itu macam-macam. Jika masih dalam bentuk tanaman disebut ‘padi’; ketika padi sudah dipisahkan antara bulir dengan jeraminya disebut ‘gabah’; ketika gabah sudah dihuler disebut ‘beras’; dan ketika beras sudah dinanak baru menjadi ‘nasi’. Dalam bahasa Inggris, tidak ada kata khusus yang membedakan antara ‘beras’, ‘gabah’, ‘padi’, serta ‘nasi’, dan menyebut semuanya dengan satu kata, yakni ‘rice’.

Dari fenomena di atas sama dengan penerjemahan untuk subjudul atau dubbing. Kata-kata atau ujaran yang secara konteks hanya dapat ditemukan di bahasa tertentu seperti omo, gwaenchana, dan jinjayo jika dibahasaindonesiakan justru menjadi tidak pas dan menghilangkan budayanya. Namun, bagi pemirsa yang tidak menguasai bahasa asing pasti membutuhkan alih bahasa untuk mengetahui alur dan konfliknya.

Di sini, si alih bahasa tidak bisa dipilih hanya berdasarkan dia bisa bahasa Korea atau Jepang atau Inggris aja, melainkan paham konteks budaya dan konteks pembicaraannya agar pengucapan dan yang dialihbahasakan pas. Di sini, alih bahasa harus pintar-pintarnya mencari kata yang pas untuk mengartikan kata asing itu ke bahasa Indonesia.

Subtitle Lebih Diterima

Bong Joon Ho, salah satu sutradara berkualitas Internasional yang mendorong penggunaan subtitle di Amerika Serikat

Sampai di sini, pengalih bahasa harus bertugas menuliskan semua arti dari percakapan. Belum lagi jika siaran itu bukan film yang sudah dipersiapkan lama, melainkan tayangan langsung yang membutuhkan subjudul cepat. Walaupun sampai saat ini fitur penerjemahan otomatis sudah banyak berkembang, tetap pengalih bahasa harus memperbaiki kata terjemahan yang sesuai pada konteks tertentu.

Di sini, delay antara subjudul dan dubbing kelihatan dan penonton lebih dahulu mendapatkan versi yang diberi subjudul dengan suara otentik dari aktor atau pengisi suara, terlebih bagi penonton yang menonton serial di hari ketika rilis.

Setelah acara disiarkan pun pasti ada beberapa kebahasaan yang tidak sesuai lolos di subtitle. Dalam prakteknya, meralat subtitle lebih mudah atau bahkan penonton dapat menerjemahkannya secara amatir dan menyesuaikan terjemahannya tersebut sesuai dengan konteks yang ia terima. Di sini, interaksi antara penonton dan platform penyedia layanan streaming pun dapat saling berinteraksi satu sama lain untuk membenahi tulisannya.

Di sini, layanan penerjemah terbagi menjadi 2 berdasarkan layanannya. Kedua layanan tersebut antara lain layanan orisinil, biasanya diunggah di platform penyedia layanan streaming berbayar dan sesuai dengan hukum, serta layanan bajakan, biasanya mengunggah film atau serial yang berbayar dan dapat diakses secara gratis. Kedua layanan ini juga memiliki keunikannya, yang satu cenderung menggunakan bahasa yang baku dan tidak terdapat kata-kata kasar di subtitle, dan yang satunya cenderung blak-blakan dan tidak direm jika ada ucapan kasarnya. Keduanya di satu sisi menunjukkan bahwa subjudul lebih diterima bagi penonton.

Kendala Dubbing dan Pen-dubbing

Para aktor dan artis yang terlibat dalam proyek dubbing film Mulan versi Indonesia

Pastilah dubbing akan mendapatkan lebih banyak kritikan. Hal tersebut karena perjuangan pen-dubbing tidak hanya terdapat dari cara pengalih bahasa mengalihbahasakannya, melainkan juga menghadirkan feeling yang sesuai dan pas seperti aktor dan dubbing orisinalnya.

Misalnya saja, ketika kita coba nonton drakor di TV dengan yang versi dubbing misalnya, pasti ada bagian-bagian tertentu dari gurauan, pembicaraan serius antar pasangan, dan bahkan konflik serta klimaks tidak bisa ngena di hati dan kesannya hambar. Hal tersebut dikarenakan pihak pen-dubbing tidak berhasil mengopi feeling seperti aktor ataupun pengisi suara yang asli.

Pengisi suara tidak hanya sekedar bisa menyamakan suaranya saja dengan aktor atau pengisi suara yang asli, melainkan menghadirkan perasaan juga. Dalam Spongebob Squarepants misalnya, pengisi suara berhasil menyamakan suaranya seperti Spongebob, tapi tidak menunjukkan kehadiran Spongebob yang sesuai dengan konteks tertentu.

Namun tidak selamanya kita membenci versi dubbing dan mendukung subtitle. Dubbing di satu sisi mengingatkan kita dulu ketika masih kecil di Minggu pagi nonton Doraemon, Dragon Ball, dan bahkan Kera Sakti. Sekarang mungkin iya kita lebih memilih subtitle ataupun menonton versi aslinya tanpa subjudul, tapi dubbing tetaplah nostalgia masa lalu yang terulang kembali ketika kita nonton siaran hari Minggu pagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here