Waktu Baca: 3 menit

Sepekan terakhir ini Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah – Daerah Istimewa Yogyakarta, secara intensif meluncurkan lava pijar dan awan panas. Kalau pun tidak banyak media yang mengulasnya, saya kira ini masuk akal saja. Publik membayangkan erupsi Merapi seperti tahun 2006 dan 2010 yang durasinya relatif singkat, tidak sampai berbulan-bulan seperti saat ini. Dengan situasi macam ini publik merasa jenuh nan bosan dengan pemberitaan soal erupsi Merapi. Apalagi kalau publik mengharapkan peristiwa-peristiwa sensasional yang langsung terlihat, misal berupa letusan, ada kerugian material, atau pengungsi yang berduyun-duyun turun gunung. Mohon maaf, itu tidak ada. Tetapi apakah dengan fenomena alam erupsi Merapi model ini lantas tidak ada bahayanya sama sekali ? inilah yang akan diulas pada artikel ini.

Sebagai insan Kota Yogyakarta yang melihat dan merasakan langsung dampak erupsi Merapi 2006 dan 2010, saya justru melihat risiko besar yang akan muncul di masa mendatang, terutama ketika musim penghujan tahun 2021 dan 2022. Keunikan erupsi Merapi kali ini adalah material lava pijar yang meluncur ke 4 arah, yaitu utara, tenggara, selatan, dan barat daya. Selama beberapa kali periode erupsi Merapi, material meluncur ke satu atau dua arah saja. Jalur langganan luncuran lava pijar adalah barat daya dan tenggara. Seperti biasa, luncuran lava pijar akan langsung mengarah ke sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung Merapi. Pada sektor tenggara, luncuran lava pijar masuk ke hulu sungai Woro dan sungai Gendol. Pada sektor selatan, luncuran lava pijar masuk ke hulu sungai Boyong. Pada sektor barat daya, luncuran lava pijar masuk ke hulu sungai Krasak.

Ketiga arah tersebut berkaitan erat dengan situasi kawasan-kawasan penting di kota Yogyakarta dan sekitarnya. Aliran sungai Gendol akan berkaitan dengan alur sungai Opak yang melintasi kawasan Prambanan. Aliran sungai Krasak akan berkaitan dengan kondisi jembatan sungai Krasak di Salam – Magelang, yang menghubungkan jalan nasional Jateng-DIY. Sementara yang paling berrisiko, sungai Boyong yang alirannya akan membelah kota Yogyakarta melalui sungai Code.

Sampai hari ini belum semua material erupsi 2010 yang bertengger di hulu sungai Boyong luruh oleh air hujan. Material yang lama belum tuntas, kini masih ditambah dengan material baru hasil erupsi terbaru, tahun 2021. Entah berapa juta kubik pasir dan batu hasil erupsi Merapi 2021 yang saat ini tersimpan di hulu sungai Boyong, tetapi bila musim penghujan berikutnya datang, semua material tersebut bisa saja meluncur ke sepanjang Daerah Aliran Sungai Boyong yang akhirnya mengarah ke Kota Yogyakarta

Meskipun sepanjang aliran Sungai Boyong terdapat Sabo Dam yang berfungsi menahan laju material lahar hujan, tetapi di beberapa titik Sabo Dam, kita bisa melihat bahwa Sabo Dam tersebut relatif masih penuh. Artinya, potensi luncuran lahar hujan untuk sampai ke kota Yogyakarta melalui sungai Code, masih cukup besar.

Masih kuat dalam ingatan saya tentang masa-masa banjir lahar hujan sungai Code di tahun 2011. Kala itu saya melihat sendiri batu-batu besar menggelinding melalui jembatan sungai Code di kawasan Juminahan, kota Yogyakarta. Bahkan jembatan tersebut terasa bergetar karena derasnya aliran lahar hujan. Sebagai gambaran, kawasan Malioboro tidaklah jauh dari aliran sungai Code : tak lebih dari 300 meter.

Ada beberapa risiko yang akan berdampak pada warga kota Yogyakarta (dan warga kabupaten Sleman), ketika terjadi banjir lahar hujan yang melintasi sungai Code. Pertama, material lahar hujan membawa batu-batu besar yang berpotensi menghantam pilar jembatan, serta tanggul-tanggul di sepanjang aliran sungai. Sementara itu, di sepanjang bibir sungai Code terdapat banyak perkampungan padat penduduk. Kedua, material lahar hujan meskipun tampaknya dominan air, namun juga membawa kandungan gas sulfur yang beracun. Itulah alasan mengapa ketika lahar hujan mengalir, di atasnya tampak kepulan asap. Masyarakat pun wajib menjauhi aliran lahar hujan agar tidak terkontaminasi gas beracun. Ketiga, lahar hujan itu sendiri membawa air bercampur pasir yang bisa membanjiri permukiman warga. Jangan bayangkan banjir lahar hujan seperti banjir di Jakarta atau rob di pantai utara Jawa. Banjir lahar hujan hasil erupsi Merapi khas dengan pasir dan batu. Rumah penduduk yang terkena banjir lahar hujan umumnya sulit untuk diperbaiki karena pasir yang memendam bagian rumah. Bahkan, batu seukuran mobil bisa saja bertengger di tengah ruang tamu tanpa merusak pintu rumah. Soal itu, jangan tanyakan logikanya.

Menjadi pertanyaan besar, sudah siapkah warga kota Yogyakarta dan Sleman untuk menghadapi ancaman banjir lahar hujan di musim hujan mendatang ? Bagi warga yang mengalami langsung banjir lahar hujan tahun 2011, kiranya bisa membangkitkan ingatan masa lampau. Tetapi bagi penduduk yang belum lama bermukim di perkampungan sekitar Daerah Aliran Sungai Boyong dan Code, kiranya perlu banyak belajar dari pengalaman penduduk-penduduk senior di situ.

Kiranya kita semua diberikan keselamatan oleh Yang Mahakuasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here