Ramadan bagi saya selalu menyimpan sebuah kenangan. Berada di keluarga yang memiliki perbedaan, saya sejak dini diajari untuk menghargainya. Tentu saja momen berbuka puasa adalah saat di mana teman-teman muslim menyudahi perjuangan puasanya selama seharian. Tradisi ngabuburit atau berburu makanan untuk menyambut buka puasa juga kami lakukan. Biasanya saya akan mendapatkan amanah dari almarhum bapak. Perintahnya tegas dan jelas, carilah gorengan, selalu saja seperti itu. Ahhhh…jadi merindukan amanahnya di kala bulan Ramadan.

Setelah saya amati, gorengan tampaknya menjadi menu favorit dan bahkan harus ada ketika berbuka puasa. Pasalnya, hingga saat ini saya pulang dari mburuh, baik dari arah mana pun, lapak para penjual gorengan selalu dipenuhi dengan para penikmat setia gorengan. Bahkan rela mengantri. Saya pun sangat paham kenapa gorengan menjadi incaran, bentuknya yang abstrak namun mongah-mongah ketika dimakan menjadi sensasi tersendiri. Belum lagi bila disantap bersama cabe rawit dan pastinya dimakan bersama dengan keluarga kita. Semakin tuntas pulalah rasa kebersmaan dan kehangatan.

Gorengan adalah sebuah kuliner yang sudah mencuri hati kita semua dan itu tidak bisa dipungkiri dong. Siapa sih yang tidak suka gorengan? Saya pun mencoba memahami mengapa gorengan bisa menjadi hits dan menjadi buruan banyak orang di kala bulan Ramadan seperti saat ini. Berikut ini adalah filosofi gorengan menjadi makanan favorit di bulan Ramadan. Hayuk kita simak :

  1. Gorengan memiliki harga yang murah

Para penikmat gorengan tentunya sangat akrab dengan harga yang dibanderol oleh para penjualnya. Biasanya kita akan mendapai paket hemat yang ditawarkan oleh mereka. Semisal saja dua ribu rupiah dapat tiga biji. Namun ada juga yang menjualnya dengan model per biji seharga lima ratus rupiah juga masih ada lho. Tapi percayalah semahal-mahalnya gorengan tidak akan lebih mahal daripada harga seliter bahan bakar sepeda motormu.

  1. Gorengan itu fleksibel dan mudah bersahabat dengan lainnya

Gorengan ini memang olahan kuliner yang multitalenta sekali. Lha kok bisa? Pernahkan teman-teman mencoba melakukan eksperimen dengan gorengan yang sudah dibeli? Gorengan itu bisa dimakan sendiri (indie) tapi juga bisa disantap dengan menu lainnya. Gorengan dengan nasi hangat dan sambal saja sudah sangat mewah. Geng gorengan lainnya semisal pisang dan ketela, bisa dipadu padankan dengan kopi. Bisa juga teman-teman membeli gorengan terus digeprek, rasanya juga aduhai lhooo…

  1. Mencari gorengan itu mudah sekali

Para pemburu gorengan tentulah sangat sepakat dengan hal ini. Mencari gorengan itu tidaklah seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Hampir di setiap RW atau bahkan gang dengan mudahnya gorengan akan kita temui. Tentu memncari gorengan lebih mudah ditemukan daripada teman-teman mencari referensi untuk skripsi kalian. Ya gak? Seandainya pun penjual gorengan dengan kearifan lokal tidak dapat ditemukan, para aa di warmindo pasti juga punya. Jadi tak perlu kalian tak akan bertemu dengan gorengan.

  1. Gorengan adalah tradisi yang sudah turun temurun

Sejak kecil, selain kita sudah diakrabkan dengan susu formula, kita juga berkenalan dengan gorengan. Saya juga sering melihat bagaimana dedek bayi dikasih gorengan sebagai lauknya atau juga sebagai camilan. Layaklah jika kita menyebut gorengan adalah tradisi yang secara tidak langsung diwariskan turun temurun. Sehingga memori bawah sadar kita akan merekam bahwa gorengan makanan yang wueenaaaak.

 

  1. Gorengan adalah makanan yang bisa menembus semua batas

Makanan yang satu ini mampu menembus batas. Ia bisa melewati batas dari setiap kelas yang ada dalam tatanan masyarakat. Siapa sih yang tidak suka dengan gorengan? Mulai dari pejabat sampai rakyat jelata juga suka gorengan. Bahkan saham gorengan pun juga lakuk keras di pasar saham. Lhooohhh…gorengan ini merupakan makanan yang bisa melakukan mobilitas vertikal ke mana pun ia suka. Sungguh menyenangkan sekali menjadi gorengan. Tak perlu menikah dengan orang yang statusnya lebih tinggi buat social climbing. Beruntungnya kamu gorengan, gak kayak kita!

 

Gimana? Apakah kalian semakin suka dengan gorengan atau malah membenci gorengan setelah mengetahui filosofi gorengan versi PAKBOB.ID? Gorengan tidaklah jahat asalkan kita memiliki kemampuan untuk berkata tidak jika sudah cukup memakannya. Sehingga pada akhirnya, In Gorengan We Trust. Terimakasih untuk para penjual gorengan ya rela untuk bercucuran keringat demi memuaskan kami menyantap gorengan yang klomoh minyak dan anget. Upahmu besar di surga!

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here