Waktu Baca: 4 menit

“Eh, kamu udah nonton episode kemarin malam belum? Jahat banget sumoah ibu tirinya, sampe dipukul segala.”

Kita pasti pernah nonton sinetron lah ya melalui televisi atau bahkan platform lain seperti youtube atau media streaming lainnya. Di sinetron yang kebanyakan mengisahkan mengenai perjuangan percintaan dua insan dengan berbagai macam konflik yang bisa kita katakan lebay itu, pasti aja ada ibu tirinya, dan kebanyakan pasti ibu tiri tokoh utama perempuan. Entah di sinetron atau drama luar pun banyak yang nunjukin ibu tiri itu pasti jahat dengan kekhasannya yang penjilat, melakukan kekerasan pada anak tirinya, dan pilih kasih antara anak kandung dan anak tiri.

Namun kalau dipikir-pikir lebih dalam nih, kan enggak juga ibu tiri itu pasti jahat. Banyak juga yang membantahkan konotasi ibu tiri yang dinilai negatif oleh masyarakat, dan bahkan justru ada juga yang lebih baik dari orang tua kandungnya bahkan. Bahkan di luar sana pun, justru orang tua kandunglah yang jahat dan melakukan tindak kekerasan pada anak kandungnya sendiri.

Walaupun banyak argumen masyarakat yang membantah konotasi ibu tiri dan keluarga tiri itu jahat, kenapa sih kok konotasi itu masih aja dipakai sampai sekarang, khususnya di sinetron, cerita pendek populer, dan novel populer? Berikut alasannya.

Pengaruh Panji pada Ibu Tiri

Sebagai informasi, Panji merupakan salah satu sastra terkuno asli dari Nusantara (Tanah Jawa) yang mengisahkan kisah-kisah lokal masyarakat tanpa ada pengaruh dari epos-epos India. Kisah-kisah Panji masih bisa kita temukan banyak hingga sekarang, biasanya dikisahkan dengan ketoprak (ketoprak pertunjukan, ya, bukan makanan) sama dongeng-dongeng waktu kita kecil. Di antara banyaknya kisah Panji, salah satu kisahnya itu mengenai ibu tiri.

Dari penelitiannya Cokrowinoto dkk. Mengenai “Pengaruh Cerita Panji pada Alur Roman Jawa Modern” tahun 1990, kisah-kisah roman Panji kisah-kisah tentang ibu tiri/keluarga tiri yang dilawankan dengan tokoh utama untuk menambah nilai estetik dan konflik batin. Model istanasentris kisah Panji juga yang mendukung konotasi ibu tiri yang haus akan kekayaan, penjilat, dan abusive. Ciri-ciri tersebut pun disertai dengan konflik istana seperti peperangan, konflik wilayah, dan perebutan kekuasaan. Kekhasan tersebut digunakan untuk menambah bumbu keindahan dalam konflik utama, seperti kekasih yang pergi dan sepasang kekasih yang saling menyamar agar tidak diketahui orang lain.

Dari banyaknya kisah Panji tersebut, perlahan masyarakat lampau mengembangkan kisahnya dan didongengkan pada anak-anak.

Dongeng Ibu Tiri dan Sinema Elektronik Tanah Air

Waktu kecil pasti lah kita sering mendengar, membaca, ataupun diceritakan mengenai dongeng-dongeng. Cerita seperti “Ikan Mas”, “Ande-ande Lumut”, dan yang telah menjadi public culture “Cinderella” ditunjukkan sekali Lady Tremaine dan anak-anak kandungnya yang abuse pada Cinderella. Khas sekali kisah-kisah ibu tiri seperti Lady Tremaine yang penjilat pada suami terbaru, sayang dengan anak kandungnya saja, dan mempembantukan anak tirinya.

Kita, apalagi waktu masih anak-anak dan belum memiliki pengetahuan yang banyak, pasti kita pun terpengaruh dengan ketakutan para ‘Cinderella’ dongeng-dongeng itu. Gara-gara itu, pasti kita pun punya pikiran sepintas untuk tidak punya ibu tiri atau saudara tiri sejahat itu.

Konotasi tersebut sudah terbentuk dari dongeng-dongeng dan mulai dikisahkan dalam beberapa kisah pelipur lara, salah satunya kisah ibu tiri jahat hingga sekarang. Semakin berkembangnya zaman dan informasi sudah mulai mudah didapatkan pula, semakin kreatif dan banyaknya sinetron dan FTV tanah air yang beberapa terinspirasi dari alur cerita Panji dan Dongeng.

Seringnya saluran TV yang mengisahkan kisah-kisah ibu tiri jahat, ditambah lagi banyaknya produk yang diiklankan dalam sinetron dan FTV menunjukkan masyarakat Indonesia masih memfavoritkan kisah roman picisan dan mendukung konteks ibu tiri jahat. Bahkan beberapa kisah pun sempat viral di zamannya.

Sampai sini, masih belum menjawab mengapa sih konotasi ibu tiri itu jahat?

Konteks Ibu Tiri pada Kehidupan Nyata

            Walaupun konotasi ibu tiri jahat dibesar-besarkan dalam kisah-kisah lampau dan pelipur lara elektronik masa kini, ibu tiri justru menjadi salah satu kendala, khususnya dalam kehidupan berkeluarga. Adanya keluarga tiri yang hadir dalam keluarga kandung memiliki banyak batas-batas kejiwaan, terkhusus antara anak dan orang tua tiri.

Detik.com (2020) pernah membahas alasan kejiwaan yang menyebabkan konotasi ibu tiri menjadi jahat. Orang tua tiri dengan anak tirinya memiliki batasan, karena dia hadir dalam satu keluarga yang telah retak sebagai orang asing dan berusaha menggantikan sosok yang ditinggalkan. Hal tersebut juga semakin menimbulkan keresahan, khususnya jika anak tidak setuju dengan adanya orang tua pengganti.

Kedatangan orang tua tiri terkadang muncul tidak untuk cinta. Hal tersebut wajar di masyarakat bahwa fakta pernikahan tidak hanya berdasarkan cinta, melainkan harta. Lady Tremaine yang menikahi ayah kandung Cinderella pun tidak hanya ada di Dongeng-dongeng saja, melainkan banyak Lady Tremaine yang menikah dengan alasan seperti itu. Tidak adanya landasan cinta dalam pernikahan yang menyebabkan relasi orang tua tiri dengan anak tirinya semakin runyam dan memburuk.

Ditambah lagi jika orang tua tiri yang hadir bukanlah perempuan yang pernah berkeluarga. Walaupun ibu tiri berusaha sebagaimana mungkin caranya dekat dengan anak, caranya pasti berbeda dengan perempuan yang pernah berkeluarga, dan pasti memiliki bekal dan pengalaman mendidik anak. Hal tersebut juga ditambah dengan bayang-bayang anak yang masih merindukan orang tua kandung seperti Cinderella yang merindukan sosok ibu aslinya. Hal tersebut jika ditumbuhkan di sepanjang waktu justru dapat menjadi konflik besar antara orang tua tiri dengan anak jika masing-masing pihak tidak sama-sama rendah hati.

Walaupun konotasi ibu tiri yang jahat memang ada di masyarakat, apakah berhak sih kita nge-judge semua ibu tiri itu jahat? Tentu tidak. Dalam kehidupan nyata, masalah antara ibu tiri dan anak tirinya tidak hanya terdapat pada anaknya saja, melainkan ibu tiri juga. Orang tua tiri justru dapat lebih baik bagi anaknya, dan dapat menggantikan sosok orang tua baik bagi anaknya. Bahkan, perjuangan ibu tiri di masa modern ini menjadi berat dengan konotasi masyarakat yang masih konservatif ini. Don’t judge book by it cover!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here