Waktu Baca: 4 menit

 

 

Bagaimana dengan dosa yang berulang? Dosa yang masih sering aku lakukan setelah berkali-kali mengaku dosa. Mengapa aku hanya berputar-putar dan kembali jatuh pada dosa yang sama?

 

Apakah kamu juga mengalami pergumulan seperti di atas? Apakah kamu merasa bahwa pengakuan dosamu hanya menyebutkan dosa-dosa yang kurang lebih sama dengan sebelumnya? Lalu, harus bagaimana?

Memikirkan pertanyaan tersebut, saya tertarik untuk mencoba merenungkannya. Sebelum membaca lebih lanjut, perlu diketahui bahwa renungan ini bukan murni berasal dari diri saya sendiri, dan saya menyadari bahwa batok kepala yang kecil ini masih tidak mungkin bisa menampung seluruh misteri yang ada. Namun, di masa pekan suci ini, saya akan mencoba menguraikannya serta membagikannya. Semoga jadi berkat ya.

Dosa Berulang

Berkaitan dengan dosa yang berulang, agar lebih nyata, saya ambil sebuah contoh dosa yang secara sadar atau tidak sadar sulit untuk saya hindari, yaitu: julid’in orang lain. Saya sudah menyadari bahwa tindakan itu merupakan suatu dosa, namun tetap saja saya lakukan. Apalagi ketika sedang ngobrol bersama teman-teman dan terjadilah gossip. Hemm, memang seru dan menyenangkan apalagi ketika satu sama lain saling memberikan opini yang mendukung, Tadaaa! Digosok makin sip! Eittss, disadari atau tidak, saya merasa bahwa sebenarnya ngejulid-in orang itu melelahkan. Sering saya bergumam, “kemarin rasanya saya sudah mengaku dosa ini, kenapa masih terus saya lakukan!”. Melelahkan rasanya. Akhirnya, saya menjadi memandang bahwa diri saya tidak bisa bebas dari dosa tersebut, lalu kembali lagi ke titik nol dan hanya berputar-putar dalam sebuah lingkaran. Yap lingkaran, boleh juga disebut lingkaran setan.

Pengalaman julid bisa menjadi salah satu contoh nyata yang sering dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Godaan untuk membicarakan orang lain menjadi salah satu godaan yang besar bagi beberapa orang. Perlu disadari pula, alasan mengapa kita terus membicarakan orang lain, apakah hanya ikut-ikutan, atau memang murni dorongan dari dalam diri. Sudah banyak kejadian julid’in orang yang terjadi dalam skala nasional bahkan internasional yang dilakukan oleh netijen Indonesia. Ketika suatu keburukan orang, dalam hal ini biasanya para artis terbongkar, langsung deh cas cis cus, jari jemari lentik para netijen sang maha benar mulai bergerilya memberikan beragam komentar. Matius 7:3 yang berbunyi “Mengapa kamu melihat serpihan kayu di mata saudaramu, tetapi tidak mengetahui balok yang ada di matamu sendiri?” menjadi pengingat bagi kita untuk bijak dalam berkomentar.

 

 

Lalu Bagaimana Memandang Dosa yang Berulang?

Ketika merenungkan tentang dosa yang berulang, saya teringat oleh beberapa kalimat dari Bapa Paus Fransiskus, kurang lebihnya demikian “Many humble people confess that they have fallen again into the same sin. The most important thing in human life is not that they never fall. What matters is that they always rise to their feet and do not remain under licking his wounds.”. Indah sekali bukan? Dalam kalimatnya, Bapa Paus menyebutkan bahwa hal yang terpenting adalah bukan bahwa kita tidak pernah jatuh dalam dosa, namun ketika kita bangkit berdiri dan tidak tetap di bawah dengan menjilati luka-luka atau dosa-dosa kita. Dalam hal ini, Yesus melalui Gereja berperan besar untuk membantu melepaskan dosa berulang tersebut melalui sakramen tobat.

Namun, mengapa saya merasa bahwa hingga saat ini saya terus berputar-putar, merasa tidak bisa bebas dari dosa tersebut, dan hanya berputar-putar dalam sebuah lingkaran setan? Nah.. Pemikiran tersebutlah yang perlu dibenahi, bahwa lebih tepat melihat dan menggambarkan situasi dosa berulang bukan dengan lingkaran namun seperti sebuah spiral. Ketika jatuh lagi termakan godaan hingga berdosa, seringkali manusia merasa bahwa ia hanya berputar-putar, tak ada kemajuan. Disitulah salah satu poin terpentingnya. Sebenarnya, ketika kita berusaha untuk bertobat, kita tidak hanya kembali ke titik semula, tetapi bahkan lebih tinggi dari semula. Itulah yang dimaksud dari analogi spiral yang bisa sedikit menggambarkan keberadaan manusia saat bertekad untuk bertobat dengan semangat pertobatan yang penuh. Pemahaman tersebut bermula dari penjelasan yang disampaikan oleh seorang awam pendiri akun Jejak Kudus yang bertanya pada seorang romo.

Menurut saya pribadi, memang tepatlah analogi tersebut karena Allah adalah Maha Rahim, dan ketika kita ragu akan pengampunan yang diberikan, alhasil kita menghina Allah, seperti yang dikatakan oleh St. Yoanes Vianney “Banyak orang berkata “Aku telah melakukan banyak perbuatan jahat. Tuhan tidak bisa mengampuniku”. Ini merupakan penghujatan terbuka yang membatasi kerahiman Allah. Tapi kerahiman Allah tidak memiliki batas, kerahiman Allah tiada batas. Tidak ada apapun yang menghina Tuhan kita yang terkasih selain keraguan terhadap kerahiman-Nya.”.

Kesalahan atau dosa yang terus kita lakukan berulang kali menuntun kita untuk semakin mempercayai kerahiman Tuhan. Blessed John Paul II mengatakan bahwa “Pengakuan adalah sebuah tindakan dari kejujuran dan keberanian.. sebuah tindakan dari mempercayakan diri kita, melampaui dosa, kepada kerahiman Allah yang pengasih dan pengampun.”. Walaupun telah jatuh dalam lubang yang sama, asalkan mau bertobat, kita akan terus bertumbuh. Bersyukurlah kita karena masih boleh mengaruhi misteri kerahiman Allah yang tak terselami melalui berbagai peristiwa jatuh bangun dalam kehidupan kita masing-masing.

 

 

Solusi Memurnikan Dosa Berulang?

“Daraskanlah Rosario Suci. Berbahagialah bahwa Salam Maria yang monoton itu memurnikan dosa-dosamu yang monoton [= yang itu-itu juga] !” – St. Josemaria Escriva.

 

Berkat Paskah 2021

Bagi saya pribadi, Paskah 2021 ini masih tetap sama, bahwa Ia tak pernah merubah kasihNya. Walaupun keadaan terus bergulir, terus berganti, namun tidak dengan kasih yang dicurahkanNya. Walaupun dosa-dosa tetap saya lakukan secara sadar ataupun tidak sadar, namun kasih dan kerahimanNya tak berkesudahan bagi saya. Bukan untuk saya saja, namun seluruh umat manusia, tak terkecuali.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here