Waktu Baca: 3 menit

            Ada sebuah candaan bahwa singkatan UEL itu bukan Uefa European League. Menurut beberapa orang, UEL itu kependekan dari Unay Emery League alias liganya Unay Emery. Candaan ini muncul karena rekor UnaI Emery di Europa League memang mentereng. Selain membawa Sevilla juara UEL tiga kali, ia juga sempat membawa Arsenal ke final. Nah, semalam dia juga membawa tim yang diasuhnya saat ini, Villareal, ke posisi menguntungkan di semifinal UEL. Bisa dibilang, Unai Emery percaya diri dan memiliki kemantapan hati saat bermain di kompetisi ini.

Lain Unai, lain pula Arsenal. Arsenal sendiri sering dikenal sebagai badut Eropa. Entah kenapa, saat bermain di kompetisi Eropa, Arsenal seolah terbebani. Padahal, hampir tiap tahun Arsenal masuk unggulan utama dalam kompetisi Eropa. Di jaman Arsene Wenger, Arsenal selalu masuk pot A (unggulan) dalam pengundian kompetisi Eropa. Tapi ironisnya, prestasi Arsenal paling mentok ya enam belas besar Uefa Champions League. Lalu kok bisa Arsenal masuk pot A? Alasannya sederhana, ya karena tiap tahun Arsenal selalu berpartisipasi di UCL tapi mentok di partisipasi.

Si Raja UEL

Lalu apa masalah Arsenal? Lagi lagi soal kemantapan hati. Arsenal tidak mantap di kompetisi Eropa, mereka tidak percaya bisa menjuarai kompetisi Eropa. Ketika akhirnya mereka bisa melangkah jauh di kompetisi Eropa, mereka malah heran sendiri. Mereka selalu kalah saat diharapkan dengan sungguh sungguh. Tengoklah kekalahan di final Europa League melawan Galatasaray dan Chelsea. Posisi Arsenal saat itu diunggulkan, tapi mereka tidak bisa mewujudkan mimpi menjadi juara di Eropa.

Ketika kalah melawan Chelsea di final UEL, Arsenal dilatih Unai, tapi kok Unai gak bisa membawa Arsenal juara? Soal mental mungkin bisa dikatakan perkara teknis. Betul bahwa Unai memimpin Arsenal dengan rekor mentereng. Tapi kalau skuad Arsenalnya masih dihantui mental badut Eropa, bagaimana mau juara? Dan jujur saja, menyelesaikan masalah mental block ini tak semudah itu. Banyak pelatih menggunakan metode berbeda dan tak semuaannya bisa berhasil. Mari kita tilik pendapat Antonio Conte saat melatih Inter Milan pertama kali.

Saat Conte melatih Inter Milan, ia mengatakan bahwa Spaletti pelatih bagus. Dan ia tidak salah soal itu. Spalletti punya prestasi mentereng di AS Roma. Tapi Conte menyebut bagus saja tidak cukup. Ia mengatakan bahwa Inter sudah lama tidak juara. Mereka tidak yakin bisa juara. Itulah yang coba diperbaiki Conte. Ia ingin Inter percaya bahwa mereka bisa juara lagi. Butuh dua musim bagi Conte untuk merubah mentalitas Inter, itupun kadang masih diwarnai dengan kejadian dimana skuad Inter tiba tiba galau dan membuat kesalahan konyol. Tilik saja saat final UEL tahun lalu melawan Sevilla.

Merubah Mental ala Conte

Kemantapan hati adalah kunci untuk memenangkan kompetisi, baik itu di sepakbola maupun di dunia profesional. Tanpa kemantapan hati, maka hasil yang didapat cenderung tidak sesuai. Beberapa waktu lalu saya pernah menulis refleksi mengenai realitas abu abu dalam film Homunculus. Saat itu saya membicarakan salah satu tokoh bernama Manabu Ito yang percaya bahwa realitas itu sesuai keinginan kita saja. Begitulah juga kerja masalah kemantapan hati dan mental block. Semua sesuai inginnya dan percayanya kita saja. Mungkin sesederhana itu.

Unai percaya ada tuah kuat dirinya di UEL, makanya ia bisa tampil baik di kompetisi ini. Sementara itu skuad Arsenal secara kolektif selalu dibayang bayangi kekhawatiran akan tampil mentok di Eropa, itu jugalah yang akan terjadi. Mengubahnya tidak mudah, karena sudah di alam bawah sadar. Conte adalah salah satu pelatih yang bisa mengubah itu, tapi itupun butuh proses dan kegagalan juga acap datang. Conte pernah dipecat baik dari tim kecil maupun besar. Conte sendiri juga masih punya mental block dimana prestasinyaa di kompetisi Eropa terhitung buruk. Lagi lagi masalah mental dan kepercayaan diri.

By the way jangan pesimis dulu, Manchester United dan Juventus sama sama puasa gelar liga dalam waktu lama sebelum mereka bisa mengalahkan mental block mereka. MU berhasil melawan masalah mental lewat Eric Cantona sementara Juventus mampu berubah karena Conte terus menerus mengingatkan skuad Juventus bahwa dia tidak ‘mencari aman’ di Juventus dan menginginkan gelar kemenangan. Dua tim ini akhirnya bisa melawan takdir. Arsenalpun sebenarnya mampu. Tapi masalahnya, apakah mereka sudah di jalur yang tepat? Apakah waktu berpihak pada mereka? Kita lihat saja di duel second leg UEL.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here