Sebuah Desa, Sebut Saja Srumbung

2019 lalu, sebelum ada wabah pandemi, mahasiswa semester 2 Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma tiap tahunnya rutin mengadakan observasi terkait Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA) di wilayah Srumbung, yang berada di lereng Merapi, tepatnya di kediaman Bapak Amri. Lokasi ini dipilih karena terdapat penerapan pengelolaan SDA menggunakan sistem integrated farming, atau biasa disebut pertanian terpadu. Sistem ini menggabungkan komponen-komponen pertanian dengan peternakan dengan teknologi ramah lingkungan yang dapat menghasilkan energi. Kegiatan yang berlangsung ini (6/3/2019) bertujuan agar mahasiswa lebih mengenal potensi yang ada secara luas, cara pengolahan, pemanfaatan dan pengaplikasiannya secara langsung di lapangan.

Awal Kisah Bermula

Bapak Amri, selaku tuan rumah menceritakan usaha awalnya dalam membangun dan menerapkan integrated farming di perkebunan salak miliknya. Permulaan dimulai dari tahun 2012 dengan adanya kegiatan bersama dengan beberapa aktivis di Gunung Merapi. Salah satu aktivis yang turut serta adalah seorang dosen Universitas Sanata Dharma, Bapak Sulistyono S.Si., M.Si. Bapak Sulis sendiri sudah mempelopori 32 pembuatan biogas di berbagai desa penyangga di lereng Merapi. Area Merapi tersebut dipilih karena area termasuk dalam daerah konservasi. Tujuannya untuk membantu masyarakat dan memperlihatkan kepada Pemerintah bahwa biogas merupakan salah satu alternatif energi terbaharukan serta mengajak pemerintah desa untuk mengupayakan lebih banyak rumah yang menggunakan biogas.

Sulap Kotoran Jadi Cuan

Bapak Sulis dan Bapak Amri melihat adanya sumber daya alam yang melimpah dan bisa dikaitkan satu sama lain. Akhirnya berbekal keinginan, pengetahuan, dan dukungan sumber daya alam, mereka berdua berupaya untuk membuat instalasi biogas dan menerapkan integrated farming yang menggabungkan pemanfaatan komponen perkebunan salak dengan peternakan ayam milik Bapak Amri. Mekanismenya adalah kotoran ayam dijadikan bahan utama penghasil gas metan (biogas) di dalam biodigester guna menghasilkan energi untuk memasak, lalu hasil akhir dari biogas yang dinamakan slurry yang digunakan menjadi pupuk organik bagi tanaman salak. Salak akan dijual dan menjadi sumber pendapatan. Tujuan penerapan sistem tersebut adalah untuk mengoptimalisasi semua sumber energi menggunakan teknologi ramah lingkungan. Selain mendapat kemudahan karena pengeluaran biaya lebih terjangkau, penerapan sistem tersebut pun membawa pengaruh positif untuk salak karena sepenuhnya menggunakan pupuk organik.

Cuan Makin Berlimpah Berkat Ecofarming

Penerapan Ecofarming atau dalam Bahasa Indonesia disebut Pertanian Terpadu di Srumbung dilaksanakan dengan menggabungkan komponen pertanian/perkebunan dengan komponen peternakan ayam. Sebuah penelitian menyatakan bahwa peternakan adalah salah satu penyumbang emisi gas paling besar selain asap motor dan pabrik-pabrik. Kotoran ternak yang dibiarkan tanpa pengolahan akan mencemari lingkungan karena gas metan yang dihasilkan oleh kotoran akan menambah emisi gas di udara dan menyumbang efek rumah kaca yang dapat meningkatkan suhu udara sehingga pemanasan global terjadi dan akhirnya berdampak buruk terhadap makhluk hidup. Oleh karena itu, penting sekali untuk menerapkan praktik pengelolaan kotoran ternak. Selain berdampak positif bagi lingkungan, juga dapat menjadi sumber penghasilan.

Siklus ecofarming yang terjadi terus menerus dimulai dari limbah kotoran ayam yang selalu tersedia setiap harinya, sebagai hasil peternakan ayam milik Pak Amri yang dikumpulkan setiap harinya, dicampur air kemudian dimasukkan ke dalam biodigester. Kotoran yang masuk akan tenggelam hingga ke dasar instalasi biodigester hingga terfermentasi selama kurang lebih 3 minggu dan menghasilkan gas metan sebagai gas pengganti LPG yang bisa digunakan untuk memasak. Prosedur kerja biodigester adalah kotoran yang sudah tidak menghasilkan gas secara otomatis akan mengambang di permukaan, dan ketika kotoran baru yang sudah dicampur dengan air dengan perbandingan 1:1 dimasukkan ke dalam biodigester melalui inlet, maka akan keluar sisa kotoran yang mengambang di permukaan, yang sudah tidak menghasilkan gas melalui outlet dengan volume yang sama.

Sisa kotoran yang keluar tersebut dinamakan slurry. Kegunaannya adalah sebagai pupuk organik bagi perkebunan salak milik Bapak Amri. Awalnya, terdapat pula peternakan kelinci yang air seninya digunakan sebagai pupuk cair untuk tanaman salak. Namun saat ini sudah tidak lagi karena pupuk sepenuhnya diperoleh dari slurry.

Tiap harinya, Pak Amri memasukkan sekitar 10 liter kotoran (2 angkong) ke dalam biodigester. Itu berarti setiap hari didapat slurry kurang lebih sebanyak 10 liter. Pengelolaan sisa hasil akhir biogas berupa bio-slurry adalah dengan menuangkannya ke tanaman salak. Slurry dijadikan sebagai pupuk alami bagi tanaman salak. Selain tak perlu mengeluarkan biaya, penggunaan slurry dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas tanah sehingga salak yang ditanam memiliki kualitas unggul dibanding salak yang menggunakan pupuk buatan (sintetis). Keunggulannya ada pada rasa salak yang lebih manis, daya simpan salak yang lebih bertahan lama (7-10 hari, kematangan 80%), dan kandungan salak yang bebas dari unsur sintetis, sehingga lebih sehat untuk dikonsumsi. Proses yang berlangsung secara demikian dan berlanjut secara terus menerus akan menyebabkan suatu siklus yang saling menguntungkan antar berbagai pihak yang memanfaatkan berbagai macam komponen.

Sumber Penghasilan

Salak milik Bapak Amri sudah dipasarkan di beberapa daerah, diantaranya Solo, Klaten, Semarang, Jawa Timur, Bali, Lombok, Padang dan Lampung. Selain itu salak ini sudah pula menjadi komoditas ekspor di China, Australia dan Singapura. Dalam kebijakan harga, harga yang dipatok untuk salak di daerah lokal adalah Rp. 5.000,00-6.000,00, harga di luar Jawa dipatok dengan kisaran harga Rp. 10.000,00, sedangkan harga salak yang sudah diekspor berkisar antara Rp. 25.000,00 sd. Rp. 30.000,00.

Kegiatan yang berawal dari kesadaran akan lingkungan yang dilakukan oleh keluarga Bapak Amri berdampak postif bagi dirinya, keluarga, serta menginspirasi masyarakat karena dapat menambah penghasilan dengan cara yang ramah lingkungan. Lingkungan pun menjadi lebih terjaga nilai estetika dan keseimbangannya, karena pengelolaan kotoran-kotoran yang menghasilkan gas metan. Kegiatan ini sangat inspiratif untuk dikembangkan dan diaplikasikan sebagai model percontohan pemanfaatan yang ramah lingkungan. Tidak ada yang tidak mungkin dalam mengolah kotoran jadi cuan.

 

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here